Era transaksi digital mengubah kecenderungan orang menjadi menepikan fungsi uang tunai: lebih suka cashless. Kepraktisan alat pembayaran digital seperti QRIS memang tidak bisa disangkal. Akan tetapi, kebiasaan tidak sedia uang tunai sama sekali dirasa punya potensi merepotkan teman yang masih suka menyediakan lembaran maupun recehan uang tunai di dompetnya.
Meski kerap juga menggunakan metode pembayaran digital pakai QRIS, tidak lantas membuat Arda langsung menjadi cashless. Ia masih tetap menarik tunai beberapa lembar uang dari ATM untuk mengisi dompet.
“Mungkin suatu hari nanti semua orang akan menjadi cashless. Tapi sekarang kan nggak semua hal bisa dibayar pakai QRIS. Misalnya angkringan, tukang parkir, toko dan warung kecil juga masih banyak yang mengandalkan pembayaran tunai,” ujar pekerja swasta di Jogja tersebut, Kamis (23/7/2026).
Arda pun terang-terangan menyebut beberapa temannya “kebelet cashless”. Penyebabnya, sering kali teman-temannya yang si paling cashless tersebut malah merepotkan hidup Arda.
Teman cashless: karena QRIS merasa direpotkan pedagang kecil
Berbeda dengan Arda yang mafhum ketika ada toko atau warung kecil yang hanya menyediakan pembayaran tunai, ada teman Arda yang justru menganggapnya tidak adaptif.
“Katanya, sekarang banyak orang pakai QRIS. Kalau mau laku, ya harus sediakan QRIS. Itu karena pengalamannya selalu kesulitan kalau bayar di toko atau warung yang bayarnya cuma tunai,” beber Arda.
Cara pandang Arda sederhana saja. Di era transisi ke metode pembayaran digital seperti sekarang, wajar saja jika masih ada pedagang yang mempertahankan model lama. Pelan-pelan. Toh uang tunai juga masih menjadi alat transaksi yang sah.
Arda merasa risih ketika sedang bepergian dengan temannya tersebut. Sebab, kalau nemu toko atau warung tanpa QRIS, si teman pasti akan ngdumel karena merasa pihak toko atau warung mempersulit orang-orang seperti dirinya yang full cashless.
“Padahal dia lah yang sebenarnya mempersulit diri sendiri. Kalau sadar masih butuh beli di warung kecil, ya kalau gitu tetap sedia lah uang tunai,” gerutu Arda.
Teman cashless bikin repot: sering minta ditalangi dengan alasan tidak punya uang cash
Kebiasaan tidak sedia uang tunai tersebut berimplikasi sangat merepotkan bagi orang yang selalu bawa uang cash seperti Arda. Sebab, pada akhirnya, kalau hendak membayar (entah sehabis makan, beli rokok, atau parkir), pasti minta ditalangi dulu dengan alasan tidak punya uang cash.
Bahkan di minimarket atau di warung yang menyediakan metode pembayaran QRIS pun, minta ditalangi masih kerap terjadi.
Misalnya, pernah suatu ketika si teman mengantre di kasir minimarket untuk membayar sebungkus sebat dan air mineral yang baru ia beli. Namun, lama sekali ia berkutat dengan layar ponselnya. Ternyata jaringan untuk membuka aplikasi m-Banking milik si teman sedang terganggu.
Dengan wajah panik, si teman langsung menoleh ke arah Arda, memberi kode pinjam uang tunai agar bisa lekas membayar. Antrean di belakang sudah panjang, berlama-lama di depan kasir tentu membuat si teman gusar.
“Atau misalnya pas di minimarket atau toko, ternyata QRIS minimarketnya error. Kalau nggak bawa cash kan mesti repot. Temanku itu pernah akhirnya nggak jadi beli sebat gara-gara ada gangguan di QRIS minimarket, sementara dia nggak bawa uang tunai. Memang seni merepotkan diri sendiri,” ujar Arda.
“Nanti kutransfer” itu kalimat palsu
Masalahnya kemudian, dalam kasus Arda, kebiasaan teman si paling cashless minta ditalangi itu terjadi berulang kali.
Memang hanya nominal-nominal kecil. Tetapi kalau terus-menerus harus Arda yang nalangi ya repot. Pasalnya, sering kali setelah ditalangi, temannya si paling cashless tersebut biasanya akan lupa begitu saja.
“Template-nya mesti gini: nanti kutransfer. Nah, kata nanti ini yang bahaya. Penuh kepalsuan hahaha. Nanti, nanti, nanti, lama-lama lupa juga,” kata Arda.
Posisi Arda kemudian menjadi serba salah. Kalau ia menagih langsung, pasti langsung dikesankan: Halah cuma segitu saja kok langsung ditagih. Tapi kalau sudah menumpuk, menagihnya juga serba kikuk karena tetap terbentur dengan kecenderungan orang Indonesia: menagih utang sudah diposisikan seolah hal tabu, apalagi ke teman sendiri, kesannya perhitungan.
Kebanggaan semu dari trend pamer dompet kosong
Karena situasi-situasi merepotkan tersebut, Arda kesal betul karena beberapa temannya masih saja suka pamer dompet kosong. Bukan untuk menunjukkan kalau mereka kere, tapi justru untuk pamer kalau mereka sekarang sudah beralih full cashless.
“Sekarang itu di lingkaranku full cashless jadi standard keren. Standard disebut modern. Kalau ada yang masih bawa uang tunai sepertiku, kayak dipertanyakan: masih aja pakai cash. Ah nyenyenye,” kata Arda.
“Mereka bangga bilang dompetnya kosong, semua ada di HP. Padahal kalau HP-nya bermasalah, nggak ada jaringan, ya langsung bingung sendiri,” sambungnya.
Pada akhirnya, menurut Arda, persoalannya bukan memilih cash atau cashless. Keduanya justru saling melengkapi. Pembayaran digital memang membuat transaksi lebih cepat dan praktis, tetapi membawa sedikit uang tunai tetap menjadi bentuk kewaspadaan yang sering kali justru menyelamatkan seseorang dari kerepotan yang sebenarnya bisa dihindari. Apalagi sampai merepotkan orang lain.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Drama dan Keribetan Hidup Tiap Bayar Pakai QRIS, Bikin Panik dan Malu-maluin Diri Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
