Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Teman Si Paling Cashless Pemuja QRIS bikin Repot Kita yang Sedia Tunai, Kepraktisan Semu di Balik Tren Dompet Kosong

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
24 Juli 2026
A A
Punya teman si paling cashless yang sama sekali tidak pegang uang tunai (cash) merepotkan. Karena tidak semua hal bisa dibayar pakai QRIS MOJOK.CO

Ilustrasi - Punya teman si paling cashless yang sama sekali tidak pegang uang tunai (cash) merepotkan. Karena tidak semua hal bisa dibayar pakai QRIS. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Era transaksi digital mengubah kecenderungan orang menjadi menepikan fungsi uang tunai: lebih suka cashless. Kepraktisan alat pembayaran digital seperti QRIS memang tidak bisa disangkal. Akan tetapi, kebiasaan tidak sedia uang tunai sama sekali dirasa punya potensi merepotkan teman yang masih suka menyediakan lembaran maupun recehan uang tunai di dompetnya. 

Meski kerap juga menggunakan metode pembayaran digital pakai QRIS, tidak lantas membuat Arda langsung menjadi cashless. Ia masih tetap menarik tunai beberapa lembar uang dari ATM untuk mengisi dompet. 

“Mungkin suatu hari nanti semua orang akan menjadi cashless. Tapi sekarang kan nggak semua hal bisa dibayar pakai QRIS. Misalnya angkringan, tukang parkir, toko dan warung kecil juga masih banyak yang mengandalkan pembayaran tunai,” ujar pekerja swasta di Jogja tersebut, Kamis (23/7/2026). 

Arda pun terang-terangan menyebut beberapa temannya “kebelet cashless”. Penyebabnya, sering kali teman-temannya yang si paling cashless tersebut malah merepotkan hidup Arda. 

Teman cashless: karena QRIS merasa direpotkan pedagang kecil

Berbeda dengan Arda yang mafhum ketika ada toko atau warung kecil yang hanya menyediakan pembayaran tunai, ada teman Arda yang justru menganggapnya tidak adaptif. 

“Katanya, sekarang banyak orang pakai QRIS. Kalau mau laku, ya harus sediakan QRIS. Itu karena pengalamannya selalu kesulitan kalau bayar di toko atau warung yang bayarnya cuma tunai,” beber Arda. 

Cara pandang Arda sederhana saja. Di era transisi ke metode pembayaran digital seperti sekarang, wajar saja jika masih ada pedagang yang mempertahankan model lama. Pelan-pelan. Toh uang tunai juga masih menjadi alat transaksi yang sah. 

Arda merasa risih ketika sedang bepergian dengan temannya tersebut. Sebab, kalau nemu toko atau warung tanpa QRIS, si teman pasti akan ngdumel karena merasa pihak toko atau warung mempersulit orang-orang seperti dirinya yang full cashless. 

“Padahal dia lah yang sebenarnya mempersulit diri sendiri. Kalau sadar masih butuh beli di warung kecil, ya kalau gitu tetap sedia lah uang tunai,” gerutu Arda. 

Teman cashless bikin repot: sering minta ditalangi dengan alasan tidak punya uang cash

Kebiasaan tidak sedia uang tunai tersebut berimplikasi sangat merepotkan bagi orang yang selalu bawa uang cash seperti Arda. Sebab, pada akhirnya, kalau hendak membayar (entah sehabis makan, beli rokok, atau parkir), pasti minta ditalangi dulu dengan alasan tidak punya uang cash. 

Bahkan di minimarket atau di warung yang menyediakan metode pembayaran QRIS pun, minta ditalangi masih kerap terjadi. 

Misalnya, pernah suatu ketika si teman mengantre di kasir minimarket untuk membayar sebungkus sebat dan air mineral yang baru ia beli. Namun, lama sekali ia berkutat dengan layar ponselnya. Ternyata jaringan untuk membuka aplikasi m-Banking milik si teman sedang terganggu. 

Dengan wajah panik, si teman langsung menoleh ke arah Arda, memberi kode pinjam uang tunai agar bisa lekas membayar. Antrean di belakang sudah panjang, berlama-lama di depan kasir tentu membuat si teman gusar. 

“Atau misalnya pas di minimarket atau toko, ternyata QRIS minimarketnya error. Kalau nggak bawa cash kan mesti repot. Temanku itu pernah akhirnya nggak jadi beli sebat gara-gara ada gangguan di QRIS minimarket, sementara dia nggak bawa uang tunai. Memang seni merepotkan diri sendiri,” ujar Arda. 

Iklan

“Nanti kutransfer” itu kalimat palsu 

Masalahnya kemudian, dalam kasus Arda, kebiasaan teman si paling cashless minta ditalangi itu terjadi berulang kali.

Memang hanya nominal-nominal kecil. Tetapi kalau terus-menerus harus Arda yang nalangi ya repot. Pasalnya, sering kali setelah ditalangi, temannya si paling cashless tersebut biasanya akan lupa begitu saja. 

“Template-nya mesti gini: nanti kutransfer. Nah, kata nanti ini yang bahaya. Penuh kepalsuan hahaha. Nanti, nanti, nanti, lama-lama lupa juga,” kata Arda. 

Posisi Arda kemudian menjadi serba salah. Kalau ia menagih langsung, pasti langsung dikesankan: Halah cuma segitu saja kok langsung ditagih. Tapi kalau sudah menumpuk, menagihnya juga serba kikuk karena tetap terbentur dengan kecenderungan orang Indonesia: menagih utang sudah diposisikan seolah hal tabu, apalagi ke teman sendiri, kesannya perhitungan. 

Kebanggaan semu dari trend pamer dompet kosong

Karena situasi-situasi merepotkan tersebut, Arda kesal betul karena beberapa temannya masih saja suka pamer dompet kosong. Bukan untuk menunjukkan kalau mereka kere, tapi justru untuk pamer kalau mereka sekarang sudah beralih full cashless. 

“Sekarang itu di lingkaranku full cashless jadi standard keren. Standard disebut modern. Kalau ada yang masih bawa uang tunai sepertiku, kayak dipertanyakan: masih aja pakai cash. Ah nyenyenye,” kata Arda.

“Mereka bangga bilang dompetnya kosong, semua ada di HP. Padahal kalau HP-nya bermasalah, nggak ada jaringan, ya langsung bingung sendiri,” sambungnya.

Pada akhirnya, menurut Arda, persoalannya bukan memilih cash atau cashless. Keduanya justru saling melengkapi. Pembayaran digital memang membuat transaksi lebih cepat dan praktis, tetapi membawa sedikit uang tunai tetap menjadi bentuk kewaspadaan yang sering kali justru menyelamatkan seseorang dari kerepotan yang sebenarnya bisa dihindari. Apalagi sampai merepotkan orang lain. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Drama dan Keribetan Hidup Tiap Bayar Pakai QRIS, Bikin Panik dan Malu-maluin Diri Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2026 oleh

Tags: alat pembayaran digitalcara bikin qriscashlesskelebihan dan kekurangan qrispembayaran digitalQRISuang tunai di era qrisuang tunai masih penting
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

AstraPay berupaya memperkuat kontribusinya melalui inovasi layanan, edukasi ekosistem, serta pengembangan akses keuangan digital bagi UMKM di tengah pertumbuhan pembayaran atau transaksi digital (QRIS) MOJOK.CO
Kilas

Membaca Peluang Ekonomi di Tengah Pertumbuhan Transaksi Digital, AstraPay Berkomitmen Bantu Tingkatkan Daya Saing UMKM

9 Mei 2026
Era transaksi non-tunai/pembayaran digital seperti QRIS: uang tunai ditolak, bisa ciptakan kesenjangan sosial, hingga sanksi pidana ke pelaku usaha MOJOK.CO
Ragam

Drama QRIS: Bayar Uang Tunai Masih Sah tapi Ditolak, Bisa bikin Kesenjangan Sosial hingga Sanksi Pidana ke Pelaku Usaha

26 Desember 2025
Derita Pakai QRIS: Minimal Order Gak Ngotak Bikin Sengsara MOJOK.CO
Esai

Pengalaman Buruk ketika Memakai QRIS: Jadi Boros karena Minimal Order yang Nggak Masuk Akal dari Pemilik Minimarket

11 November 2025
Drama tiap bayar pakai QRIS di m-Banking MOJOK.CO
Ragam

Drama dan Keribetan Hidup Tiap Bayar Pakai QRIS, Bikin Panik dan Malu-maluin Diri Sendiri

21 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Buku "Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri" jadi ikhtiar mencatat risalah panjang kompleks Kedaton Ambarrukmo Yogyakarta melintasi 5 zaman MOJOK.CO

Ikhtiar Mencatat Risalah Panjang Ambarrukmo Melintasi 5 Zaman, Situs yang Terus Hidup tanpa Mencerabut Akar

23 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
WiFi di Kos MOJOK.CO

Ngekos Murah Ber-WiFi Malah Tekor: Berisik, Teras Berubah Jadi Warnet Gratisan, Berujung Terusir dan Ngungsi demi Ketenangan

24 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.