Tidak bisa naif. Di kalangan beberapa warga desa, undangan tahlilan dari orang have menjadi tahlilan yang kerap disambut antusias. Meski capek dan ngantuk tetap semangat datang karena suguhan, berkatan, dan amplop tahlilan yang tidak mengecewakan.
Beberapa waktu lalu, tahlilan orang have di Lamongan, Jawa Timur, menjadi sorotan. Pasalnya, berkatan yang dibawa pulang oleh jemaah undangan bukan sekadar makanan, tapi juga barang.
Dalam video yang diunggah akun TikTok @nunuelcidi, tampak para jemaah full senyum selepas tahlilan. Mereka menenteng kotak berkatan berisi bolu cokelat berukuran besar, aneka makanan ringan atau snack party, hingga beberapa kemasan susu kotak.
Namun, yang paling mencuri perhatian justru souvenir yang diberikan kepada masing-masing jemaah. Mereka tampak membawa pulang satu unit kipas angin berdiri atau stand fan yang masih terbungkus plastik. Sontak saja unggahan tersebut ramai di media sosial, terutama karena ekspresi full senyum yang ditunjukkan oleh para jemaah.
“Nek berkatane ngene, sing tahlilan jelas semangat, rek! (Kalau berkatannya seperti ini, yang tahlilan jelas semangat, rek!),” begitu salah satu komentar warganet.
Kenyataannya memang begitu, seperti yang Sabirin (27) temui di lingkungannya di Jombang, Jawa Timur. Berkatan tahlilan orang have di lingkungannya memang tidak memberikan bingkisan berupa kipas angin atau barang-barang besar sejenis. Akan tetapi, status sosial sebagai “orang have” tersebut sudah cukup untuk membuat orang antusias memenuhi undangan karena setumpuk ekspektasi di kepala.
“Balik modal”, guyonan tak patut tapi kerap terdengar saat tahlilan orang have
Umumnya tahlilan memang digelar di malam hari. Antara bakda Magrib atau bakda Isya. Karena memang itulah waktu ketika orang-orang sudah berada di rumah.
Tapi justru karena itu, malam adalah waktu istirahat setelah lelah bekerja seharian. Sehingga, tidak bisa dimungkiri, undangan acara—-berupa tahlilan, rapat RT, atau lain-lain—kerap kali terasa berat. Setidaknya begitu yang dirasakan dan diakui Sabirin, sebagai orang yang mengaku sebenarnya tidak agamis-agamis amat.
Namun, ia tahu, tidak menghadiri undangan punya konsekuensi sosial: dianggap tidak srawung, ora njawani, hingga sombong. Maka dari itu, meski agak ogah dan setengah mengantuk, Sabirin tetap akan datang. Toh nanti ketika tahlil dan doa-doa dibacakan, ia bisa tidur sembari terduduk.
“Tapi beda kasus kalau kita sama-sama tahu bahwa yang ngundang tahlilan adalah orang berpunya, Sengantuk apapun, pasti nggak ogah buat berangkat,” ujar Sabirin.
“Bahkan, di lingkaranku itu ada guyonan yang, ya jelas nggak patut lah, soal tahlilan orang kaya. Begini, kalau datang toh nanti balik modal,” sambungnya. Balik modal yang dimaksud adalah suguhan dan berkatan yang tidak mengecewakan.
Tempat jembar dan nyaman jadi ukuran yang diperhitungkan
Sebelum ke persoalan berkatan, di antara alasan semangat datang ke tahlilan orang Have, dalam kasus Sabirin, adalah karena bayangan soal kediaman sahibul hajat yang jembar dan nyaman.
Pasalnya, dengan kondisi rumah yang jembar dan nyaman, jemaah seperti Sabirin tidak perlu duduk bersila dengan berdesak-desakan yang bisa membuat kaki keram. Tidak sumuk juga karena ruang yang terasa longgar dan kipas-kipas besar yang menyala.
Variabel tersebut masuk loh dalam perhitungan jemaah seperti Sabirin, yang membuatnya tidak ogah-ogahan memenuhi undangan tahlilan dari orang have.
Ya meskipun tetap ada potensi tertidur—tidak sepenuhnya mengikuti doa-doa tahlil karena diserang kantuk—setidaknya ketika terbangun kaki tidak kesemutan. Sekujur tubuh di balik kemeja murahnya juga tidak lantas basah oleh keringat.
Suguhan “tidak umum” di tahlilan orang have
Dan inilah poin yang menjadi guyonan “balik modal” tersebut:
Pertama, suguhan setelah tahlilan pasti beraneka ragam. Kalau buah, tidak berhenti pada pisang, semangka, atau jeruk. Tapi juga buah-buah lain seperti anggur merah, manggis, melon, dan macam-macam lah pilihannya.
Tidak juga sebatas jajanan pasar. Tapi juga jenis kue bolu yang jarang dimakan orang haven’t.
“Kalau buat laki-laki, suguhan rokoknya penting juga. Umumnya kan rokok SKT yang harga murah. Tapi kalau orang have, ya rokok-rokok di harga Rp25 ke atas bisa jadi suguhan. Nggak heran, kalau di gelas ada sisa, ada lah ambil buat dimasukin kantong baju,” beber Sabirin.
“Belum lagi suguhan utama tahlilan berupa menu makanan beratnya. Kalau misalnya rawon, ya nggak pelit daging. Bukan potongan-potongan kecil yang hanya beberapa biji. Tapi bisa melimpah. Kan gimana orang sepertiku nggak antusias,” sambungnya.
Itulah kenapa, kalau ada undangan tahlilan dari orang have, Sabirin dan beberapa temannya bahkan sengaja tidak makan terlebih dulu dari rumah. Karena niatnya biar dapat makan enak dari sahibul hajat.
Berkatan dan amplop tahlilan orang have yang dinanti
Berkatan adalah puncak kenikmatan yang membuat Sabirin selalu antusias dengan undangan tahlilan dari orang have.
“Berkatnya ya tahu lah, pasti nggak mengecewakan. Itu pun kalau di piring suguhan misalnya masih ada sisa buah anggur merah, pasti diambil buat dimasukin juga,” kata Sabirin.
Hanya saja, ada yang lebih membuat mata berbinar dari isian berkatan. Yakni sebuah kertas putih (amplop) yang terselip di dalamnya.
Di daerah Sabirin, tradisi memberi amplop tahlilan memang masih berjalan, baik di kalangan orang have maupun menengah bawah. Nah, standar isi amplop orang have di desa Sabirin selama ini ada di angka Rp50 ribuan.
Bagi Sabirin, nilai amplop tahlilan tersebut sudah cukup membuat berbinar. Minimal bisa digunakan untuk membeli rokok enak. Kalau bagi bocil-bocil, ya minimal bisa buat tambahan jajan.
Hanya memang, kondisi dan ekspektasi tersebut, diakui Sabirin, pada akhirnya justru jadi standar toksik bagi orang yang secara kasat dan kesepakatan sosial dianggap sebagai orang have.
Pasalnya, jika si orang—yang dianggap—have itu menurunkan standar penyelanggaraan tahlilan, yang keluar dari mulut orang bisa ungkapan-ungkapan jahat. Seperti pelit lah, sombong lah, hingga ungkapan seperti, “Rugi rumahnya gede kalau isi berkatannya aja seadanya”, atau “ Rugi sugih (kaya) kalau amplopnya kecil.”
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kasta Menu Makanan di Tahlilan yang Bikin Boncos, Mahal dan Memberatkan tapi “Wajib” Dipenuhi Tuan Rumah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan