Kalau mendengar Yamaha RX King, sebagian orang mungkin langsung teringat satu julukan lama: motor jambret. Di kampung saya, anggapan itu terasa aneh. RX King justru menjadi salah satu motor tua yang diidamkan anak muda.
***
Di kampung saya, motor Yamaha RX King menjadi motor tua yang diburu. Beberapa teman saya memasukkannya dalam daftar motor impian. Di satu kampung, setidaknya ada sekitar sepuluh orang yang saya tahu memiliki RX King. Saya pun penasaran, sebenarnya apa yang membuat motor tua ini masih begitu menarik?
RX King bukan lagi sekadar motor jambret
Julukan motor jambret bukan muncul begitu saja. Pada dekade 1990-an, RX King memang banyak dikaitkan dengan pelaku kejahatan karena karakter mesinnya yang kencang dan responsif. Citra tersebut kemudian menempel begitu lama sampai pengguna RX King pun ikut terkena stereotipnya.
Namun, waktu mengubah cara orang melihat motor ini.
DetikOto pada 2018 bahkan menulis bahwa RX King yang dahulu identik dengan motor jambret mulai berubah menjadi motor yang justru diincar pencuri karena harga dan nilai koleksinya meningkat.
Di kampung saya, perubahan itu terasa lebih sederhana. Tidak ada pembicaraan soal investasi atau harga fantastis. Bagi anak muda di sini, RX King cukup dianggap keren.
“Kalau punya RX King rasanya beda saja,” kata Agil (26), pemilik RX King yang sudah merawat motor tersebut sejak 2018, ketika saya menemuinya pada Sabtu (19/9/2026).
Bagi Agil, kecintaannya kepada RX King sudah diwariskan dari bapaknya dan sekarang ia teruskan.
“Dari dulu. Waktu masih kecil sudah kepengin motor tersebut, dulu bapak saya yang punya lalu dijual, sekarang aku yang meneruskan kesukaan bapak,” ujar Agil.
Jawaban Agil sebenarnya cukup mewakili teman-teman saya yang lain. RX King bagi mereka bukan kendaraan yang tiba-tiba dibeli setelah dewasa. Motor itu sudah lebih dulu hidup sebagai bagian dari imajinasi masa kecil.
Rela merogoh kocek Rp15 juta demi sebuah RX King
RX King pertama yang dimiliki Agil adalah varian yang ia sebut RX King Special. Saat dibeli pada 2018, harganya sekitar Rp15 juta.
“Dulu masih sekitar Rp15 juta. Mungkin sekarang bisa sampai Rp30 atau Rp40 juta,” ujar Agil.
Saya hanya bisa menelan ludah.
Harga tersebut memang tidak bisa dijadikan patokan mutlak nilai RX King milik Agil. Kondisi, orisinalitas, tahun produksi, kelengkapan dokumen, dan jenis variannya sangat memengaruhi harga motor lawas.
Namun, ada alasan mengapa RX King tertentu memang diburu kolektor.
Salah satunya RX King Special Edition 20th Anniversary keluaran 2003. Edisi tersebut dibuat untuk memperingati 20 tahun perjalanan RX King di Indonesia dan memiliki ciri visual berupa aksen emas, logo 20th Anniversary, serta sejumlah detail berbeda dari model biasa.
Sejumlah sumber otomotif menyebut produksinya terbatas sekitar 5.000 unit.
Bahkan, RX King Special Edition yang kondisinya sangat terjaga pernah ditawarkan hingga puluhan juta rupiah. Ada pula unit yang berstatus new old stock dan diberitakan terjual Rp150 juta.
Motor RX King menjadi motor harian
Cerita berbeda datang dari Rizki (25). Ia memiliki RX King keluaran 2004. Tidak seperti kolektor yang mungkin menyimpan motor tua di garasi, Rizki masih menggunakannya untuk aktivitas sehari-hari.
Meski dipakai sehari-hari, Rizki mengaku bahwa mesin dan kondisi motornya sangat terawat.
“Genah terawat. Jangan ragukan kualitas mesinnya. Jelas oke,” katanya sambil mengacungkan jempol.
Bagi Rizki, umur bukan alasan untuk meragukan RX King.
Motor itu memang sudah berusia lebih dari dua dekade. Namun, selama dirawat dengan benar, ia merasa tidak ada alasan untuk menjadikannya sekadar pajangan.
RX King sendiri menggunakan mesin 132 cc dan transmisi lima percepatan pada generasi tersebut. Karakter mesin 2-tak inilah yang sejak dulu membuatnya dikenal memiliki akselerasi responsif.
Mungkin itu pula yang membuat suara bleyeran RX King masih dicari.
Bagi orang lain, suara itu bisa terdengar berisik. Bagi pemiliknya, suara tersebut justru bagian dari identitas.
“Kalau dengar suara King, langsung tahu,” kata Rizki.
Sesederhana itu.
Motor yang diturunkan dari bapak ke anak
Ada hal lain yang membuat RX King berbeda dari sekadar kendaraan tua. Motor ini sering menjadi benda yang diwariskan.
Saya teringat beberapa RX King di kampung yang masih dipakai anak muda, padahal sebelumnya berada di tangan bapaknya. Hubungan antara motor dan pemiliknya akhirnya tidak berhenti pada harga jual.
Motor tersebut membawa cerita keluarga. Di kampung saya, RX King terasa seperti benda yang punya umur lebih panjang daripada pemilik pertamanya.
Bapak membeli. Anak merawat. Bukan tidak mungkin suatu hari nanti cucunya ikut mengendarai.
Maka, ketika saya bertanya kepada Agil apakah ia masih ingin mempertahankan RX King miliknya, jawabannya sederhana.
“Ya jelas. Sayang kalau dijual.”
Saya bertanya lagi, “Kalau nanti ada yang nawar mahal?”
Agil tertawa.
“Ya dipikir-pikir dulu.”
Di desa, RX King adalah motor idaman
Barangkali inilah bagian yang sering luput ketika orang membicarakan RX King.
Kita terlalu sibuk mengulang julukan motor jambret sampai lupa bahwa sebuah benda bisa memiliki makna berbeda bagi setiap generasi.
Bagi orang yang mengalami era 1990-an, RX King mungkin mengingatkan pada suara motor yang melarikan diri dari lokasi kejahatan. Bagi kolektor, ia bisa menjadi motor tua yang nilainya terus diperhitungkan. Bagi Agil dan Rizki, motor ini lebih sederhana: ia adalah motor impian sejak kecil.
Di desa saya, RX King tidak perlu dibela dengan teori panjang.
Cukup lihat bagaimana anak-anak muda masih mencarinya, merawatnya, bahkan menjadikannya kendaraan harian.
Stigma motor jambret mungkin belum benar-benar hilang di semua tempat. Namun, setidaknya di kampung saya, stigma itu kalah oleh satu hal yang jauh lebih sederhana: RX King terlihat gagah, terdengar khas, dan sejak kecil sudah telanjur dianggap keren.
Motor tua itu akhirnya bukan cuma kendaraan. Ia menjadi mimpi masa kecil yang berhasil dibeli ketika sudah dewasa.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
Baca Juga: Beli Honda GL Pro Rp20 Juta demi Menghidupkan Lagi Kebanggaan Simbah yang Pernah Jadi Carik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
