Selama kurang lebih 13 tahun, Latifah Ratriana alias Ifah (27) hidup di Jogja. Hidupnya sudah terlanjur terbentuk di kota tersebut. Namun tiga tahun lalu, Ifah memilih pulang dan mensyukuri keputusan itu.
***
Bukan karena mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di Ngawi. Bukan pula karena sudah bosan dengan Jogja. Orang tuanya mulai mengalami penurunan kesehatan dan hanya tinggal berdua. Anak-anak mereka sudah merantau ke berbagai daerah. Ada yang di Bandung, Kebumen, sementara Ifah menjadi anak terakhir yang belum berkeluarga.
Ketika diminta pulang dan menetap di Ngawi, Ifah langsung mengiyakan.
“Tidak ada sedikitpun istilah mengalah atau merelakan diri. Tidak ada alasan lain untuk pindah ke Ngawi selain orang tuaku. Aku dengan sadar memilih jalan itu,” katanya pada Mojok, Sabtu (12/09/2026).
Tiga tahun kemudian, Ifah justru merasa keputusan meninggalkan Jogja adalah salah satu hal yang paling ia syukuri. Bukan karena Ngawi lebih bagus daripada Jogja. Melainkan karena sekarang ia bisa pulang dan bertemu orang tuanya setiap hari.
Setelah 13 tahun, orang tua akhirnya melihat hidup Ifah
Selama tinggal di Jogja, orang tua Ifah hanya mengetahui kehidupannya dari cerita. Mereka tahu Ifah bekerja, tetapi tidak benar-benar melihat bagaimana pekerjaannya. Pulang ke kos malam-malam, misalnya, bisa dianggap sebagai sesuatu yang negatif.
Kini situasinya berubah. Ifah bekerja sebagai guru honorer di salah satu SD swasta di Ngawi. Orang tuanya melihat semua itu secara langsung.
Mereka akhirnya memahami bahwa pekerjaan guru tidak berhenti ketika murid pulang. Ada persiapan, pekerjaan yang dibawa pulang, kegiatan sekolah, hingga berbagai urusan kecil yang masih harus dipikirkan setelah jam pelajaran selesai.
Bapaknya sendiri pernah menjadi guru. Namun menurut Ifah, melihat pekerjaannya secara langsung membuat sang bapak menemukan banyak hal yang berbeda.
“Sekarang mereka lebih memahami kehidupanku, dan aku memahami kekhawatiran mereka,” ujarnya.
Ada sesuatu yang berubah setelah mereka tinggal bersama. Dulu orang tua mengkhawatirkan kehidupan anaknya karena tidak melihatnya. Sekarang mereka bisa melihat sendiri.
Sebaliknya, Ifah juga mulai memahami bahwa kekhawatiran orang tuanya selama ini bukan sekadar bentuk larangan, tetapi muncul karena mereka memang tidak tahu apa yang sedang dijalani anaknya. Jarak 13 tahun itu akhirnya sedikit terbayar.
Jadi guru honorer di Ngawi dengan gaji sejuta dan upaya bertahan hidup
Kepulangan Ifah tentu tidak membuat hidupnya langsung mudah. Sebagai guru honorer, ia memperoleh sekitar Rp1,1 juta hingga Rp1,5 juta per bulan. Jumlah tersebut dapat berubah tergantung kehadiran, keterlambatan, lembur, dan insentif kegiatan.
Ia bekerja enam hari dalam seminggu. Dengan pendapatan tersebut, Ifah harus pandai mengatur pengeluaran. Termasuk urusan kopi.
“Kalau aku sanggup puasa ngopi selama sebulan, ya bakal bisa hemat,” katanya sambil bercanda.
Kopi instan yang bisa diseduh dengan air dingin akhirnya menjadi penyelamat.
Menurut pengalaman Ifah, banyak teman sesama guru honorer juga memiliki pekerjaan sampingan. Ada yang menjadi guru les privat, freelance copywriter, hingga menjalankan bisnis rumahan.
Bagi Ifah, menjadi guru honorer memang tidak membuatnya cepat kaya. Namun ia merasa pekerjaan tersebut menawarkan sesuatu yang sedang ia cari: kestabilan.
“Penghasilan yang relatif tetap, ritme kerja yang cukup jelas, dan kesempatan untuk berkembang di bidang yang sama lebih cocok untukku yang secure-oriented,” katanya.
Kini, pilihan pekerjaan itu juga membuatnya bisa tetap tinggal dekat orang tua. Dan bagi Ifah, itu lebih penting daripada sekadar mengejar pekerjaan dengan penghasilan lebih besar.
Ngawi tidak semurah yang dibayangkan dan Jogja tentu masih dirindukan
Setelah 13 tahun pergi, Ifah menemukan Ngawi sudah berubah. Coffee shop dan restoran bermunculan. Ia semula mengira tren itu hanya ada di kota besar seperti Jogja.
Namun ia tidak sepenuhnya percaya anggapan bahwa Ngawi adalah tempat ideal untuk slow living karena biaya hidup murah.
“Living cost Ngawi murah hanya bagian sekolah dan pecelnya saja,” katanya.
Pecel Rp3.000 memang masih bisa mengenyangkan. Tetapi tempat tinggal, transportasi, dan nongkrong menurutnya tetap bisa mahal.
Ngawi juga tidak sepenuhnya tertinggal. BPS Kabupaten Ngawi mencatat ekonomi daerah tersebut tumbuh 5,31 persen pada 2025.
Meski begitu, Ifah tetap merindukan satu hal dari Jogja: Trans Jogja. Ia belum bisa mengendarai motor. Ketika tinggal di Jogja, transportasi umum membuatnya mudah bepergian dengan tarif reguler Rp3.500.
Di Ngawi, transportasi umum menurutnya jauh lebih jarang sehingga ia lebih sering mengandalkan ojol. Jika masih kuat, berjalan kaki menjadi pilihan.
Jogja memang menawarkan lebih banyak pilihan. Tetapi ada satu pilihan yang menurut Ifah tidak pernah diberikan oleh kota mana pun: kesempatan untuk berada di dekat orang tua.
Pulang ke Ngawi ternyata adalah keputusan yang layak disyukuri
Hari Minggu Ifah kini tidak selalu dihabiskan dengan bepergian. Akhirnya mereka lebih sering bersantai di rumah.
Namun justru itu yang selama 13 tahun tidak bisa Ifah lakukan setiap hari. Dulu ia pulang ke kos. Sekarang ia pulang ke rumah.
Ketika ditanya apakah pernah menyesal meninggalkan Jogja, jawabannya tegas.
“Tidak sama sekali. Justru aku merasa ini adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat.”
Ifah tidak menganggap pulang sebagai bentuk kekalahan. Ia juga tidak menganggap Ngawi lebih baik daripada Jogja. Ia hanya sadar bahwa ada masa ketika seseorang harus memilih apa yang ingin dijaga.
Bagi Ifah, yang ingin dijaga bukan karier dengan gaji besar atau kehidupan kota yang lebih ramai. Melainkan kesempatan untuk melihat orang tuanya setiap hari.
Setelah 13 tahun merantau, ia akhirnya punya kesempatan untuk tahu kapan ibunya berangkat pengajian, kapan bapaknya membaca buku, dan bisa duduk makan malam bersama mereka.
Mungkin itu alasan paling sederhana mengapa Ifah bersyukur telah meninggalkan Jogja. Ia tidak mendapatkan kota yang lebih besar. Ia mendapatkan kembali waktu bersama orang tua.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA Duka Setelah Merantau: Ketika Rumah Menjadi Tempat yang Asing untuk Pulang atau liputan Mojok lainnya di rubrik liputan