Di tengah kemudahan teknologi digital, sejumlah pekerjaan yang berkaitan dengan benda-benda lawas kembali menemukan pasar di kaum gen z. Dari penjual kaset pita hingga teknisi kamera, tren vintage membuka peluang baru bagi profesi yang sempat dianggap tinggal menunggu waktu.
***
Minggu (25/10/2026) siang, saya berkunjung ke rumah Eva (27) dan Stevanus (27), sepasang suami istri juga kawan saya yang sama-sama gemar mengoleksi kaset pita dan piringan hitam atau vinyl. Di tengah obrolan kami, ada satu hal menarik yang muncul: ketika sebagian orang baru mulai memburu benda-benda tersebut karena tren, mereka justru sudah lebih dulu mengumpulkannya.
Kegemaran mengoleksi musik dalam format fisik memang bukan hal baru. Namun, di tengah dominasi layanan streaming seperti Spotify, kaset pita dan vinyl kembali mendapatkan perhatian dari generasi muda, termasuk Gen Z. Fenomena ini bukan sekadar urusan selera musik, melainkan juga membuka ruang bagi pedagang, teknisi, dan pelaku usaha yang berkaitan dengan benda-benda lawas.
Eva dan Stevanus merasakan perubahan itu. Mereka sudah lama mengoleksi kaset pita dan vinyl. Ketika tren tersebut semakin ramai, keduanya justru merasakan kemudahan yang sebelumnya tidak selalu mereka dapatkan: mencari koleksi menjadi lebih gampang karena semakin banyak penjual yang menawarkan barang serupa.
Pengalaman mereka memperlihatkan bahwa kebangkitan benda lawas tidak hanya menguntungkan kolektor. Ada pekerjaan yang ikut mendapatkan kesempatan baru ketika barang yang semula dianggap ketinggalan zaman kembali diminati.
Berikut beberapa profesi yang dianggap punah padahal sedang bangkit kembali sejurus dengan kebangkitan tren barang jadul.
1. Pedagang Kaset Pita dan Vinyl
Dulu, layanan streaming membuat orang bisa mendengarkan jutaan lagu tanpa harus membeli album secara fisik. Kaset pita dan piringan hitam pun terlihat kalah praktis. Namun, perkembangan pasar musik menunjukkan bahwa format fisik tidak sepenuhnya kehilangan peminat.
Menurut laporan Recording Industry Association of America (RIAA), pendapatan penjualan vinyl di Amerika Serikat mencapai sekitar US$1,04 miliar pada 2025, naik 9,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan tersebut juga mencatat pertumbuhan selama 19 tahun berturut-turut.
Di Indonesia, gejala serupa terlihat dari keberadaan toko kaset yang masih melayani pembeli muda. Dalam laporan detikFinance pada Agustus 2024, pedagang kaset di Blok M, Jakarta, menceritakan bahwa pelanggan mereka datang dari berbagai kelompok usia, termasuk pelajar yang tertarik setelah melihat tren di media sosial.
Bagi pedagang kaset dan vinyl, perubahan selera tersebut membuka kesempatan untuk kembali memperluas pasar. Barang yang dahulu dipandang sebagai peninggalan masa lalu kini dapat menjadi komoditas koleksi yang dicari.
Eva dan Stevanus turut melihat perubahan itu dari pengalaman mereka sendiri. Keduanya sudah lebih dulu mengoleksi kaset pita dan vinyl, tetapi ketika tren semakin ramai, penjualnya pun bertambah. Mereka tidak perlu bersusah payah seperti sebelumnya untuk menemukan koleksi yang diinginkan.
2. Profesi teknisi Radio, Walkman, dan Pemutar Kaset
Radio, Walkman, dan tape deck pernah menjadi perangkat penting untuk menikmati musik. Kini, banyak fungsi tersebut telah digantikan oleh ponsel dan layanan digital. Meski begitu, perangkat lawas masih diburu oleh penggemar teknologi retro.
Meningkatnya minat terhadap perangkat tersebut menciptakan kebutuhan untuk merawat dan memperbaikinya. Pemutar kaset yang rusak, misalnya, bisa membutuhkan penggantian sabuk karet, pembersihan kepala pemutar, atau perbaikan komponen elektronik.
Profesi teknisi perangkat audio lawas memang tidak otomatis mengalami lonjakan permintaan di semua tempat. Namun, kebangkitan minat terhadap perangkat analog memberikan alasan bagi kolektor untuk mempertahankan perangkat lama daripada membuangnya.
Pasarnya juga memiliki tantangan tersendiri. Komponen pengganti semakin sulit ditemukan untuk model tertentu, sementara kemampuan memperbaiki perangkat lawas membutuhkan keterampilan yang tidak selalu diajarkan dalam perbaikan elektronik modern.
3. Pedagang dan Teknisi Kamera Lawas
Kamera ponsel kini mampu menghasilkan foto berkualitas tinggi dengan proses yang serba cepat. Namun, sebagian Gen Z justru kembali mencari kamera analog dan kamera digital saku keluaran awal 2000-an.
Laporan DetikX pada Februari 2026 tentang Pasar Baru, Jakarta, menggambarkan toko kamera lawas yang kembali ramai didatangi pembeli muda. Selain jual-beli kamera bekas, terdapat teknisi yang memperbaiki perangkat lama agar tetap bisa digunakan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kamera lawas bukan sekadar barang koleksi. Ada ekosistem usaha yang menopangnya, mulai dari penjual kamera, penyedia aksesori, hingga teknisi yang memperbaiki kerusakan.
Di Yogyakarta, penelitian Kinnas Nusa Aprilliani, Edi Santoso, dan Wiwik Novianti yang dipublikasikan melalui Zenodo pada 2025, berjudul The Meaning-Making of Analog Cameras in the Digital Era in the Representation of Gen Z Identity, turut membahas bagaimana kamera analog digunakan Gen Z untuk membangun identitas dan mengekspresikan keunikan diri.
Dengan demikian, kebangkitan kamera analog bukan hanya perkara menghasilkan foto bernuansa lawas. Minat tersebut turut mempertahankan kebutuhan terhadap orang-orang yang memahami perangkat dan proses fotografi analog.
4. Profesi Jasa Cuci dan Pindai Film
Kamera analog tidak bisa langsung menampilkan hasil foto seperti kamera digital. Film harus melalui proses pengembangan sebelum hasilnya dapat dilihat. Karena itu, popularitas kamera analog juga berpengaruh terhadap keberlangsungan jasa cuci film.
Pelaku usaha di bidang ini melayani proses developing dan scanning, yakni mengembangkan film secara kimiawi lalu memindai hasilnya menjadi berkas digital. Foto akhirnya bisa disimpan atau dibagikan melalui media sosial.
Laporan Jawa Pos pada Maret 2024 mengenai tren kamera analog mencatat keberadaan studio cuci film yang melayani banyak pelanggan muda. Laporan tersebut juga menggambarkan bagaimana meningkatnya minat terhadap fotografi analog membuka peluang usaha bagi orang yang menyediakan layanan pendukungnya.
Artinya, satu tren hobi dapat menghidupkan beberapa jenis pekerjaan sekaligus. Bukan hanya kamera yang kembali dicari, melainkan juga layanan yang membuat kamera tersebut tetap bisa digunakan.
5. Profesi Reparasi dan Pembuat Jam
Ketika ponsel sudah bisa menunjukkan waktu dengan mudah, jam tangan analog mungkin terlihat seperti benda yang tidak lagi memiliki fungsi mendesak. Namun, bagi sebagian anak muda, jam tangan lawas justru menjadi aksesori yang menawarkan karakter berbeda.
Laporan Deloitte mengenai industri jam Swiss pada Oktober 2025 menunjukkan bahwa 40 persen responden Gen Z berniat membeli jam tangan bekas dalam 12 bulan berikutnya. Angka tersebut dua kali lipat dibandingkan proporsi baby boomers dalam penelitian yang sama.
Ketertarikan terhadap jam tangan bekas dapat menciptakan kebutuhan untuk memeriksa kondisi, memperbaiki mesin, mengganti komponen, dan merawat barang koleksi. Sementara itu, laporan CNN pada April 2025 juga menyoroti kebangkitan minat terhadap profesi pembuat jam di tengah meningkatnya perhatian anak muda terhadap benda-benda analog.
Meski demikian, pasar jam bekas dan kebutuhan terhadap pembuat jam tidak boleh disamakan begitu saja. Data pembelian jam bekas menunjukkan peluang pasar, bukan bukti bahwa semua bengkel reparasi jam mengalami peningkatan pelanggan.
6. Pedagang Pakaian Vintage dan Penjahit Reparasi
Pakaian vintage juga mendapatkan tempat dalam tren konsumsi anak muda. Pakaian lawas menawarkan model yang tidak selalu tersedia dalam koleksi baru, sementara pakaian bekas dapat menjadi alternatif bagi pembeli yang ingin mencari barang unik.
Di balik perdagangan pakaian vintage, terdapat pula pekerjaan penjahit yang memperbaiki ukuran, mengganti ritsleting, menambal kain, atau mengembalikan fungsi pakaian yang sudah lama digunakan.
Keduanya tidak sepenuhnya merupakan profesi baru. Namun, tren penggunaan kembali barang lama memberi alasan ekonomi tambahan bagi perdagangan pakaian bekas dan jasa reparasi.
Peluang ini perlu dibaca secara proporsional. Tidak semua pakaian bekas otomatis lebih ramah lingkungan, dan tidak semua usaha pakaian vintage berkembang karena Gen Z. Kondisi barang, proses pengiriman, pola konsumsi, dan ketahanan produk tetap menentukan manfaatnya.
7. Profesi pedagang Kamera Digital Saku dan Teknisi Elektronik Lawas
Selain kamera analog, kamera digital saku atau digicam generasi awal 2000-an juga kembali menarik perhatian. Kamera tersebut menawarkan karakter foto yang berbeda dari kamera ponsel modern, terutama melalui penggunaan lampu kilat dan pemrosesan gambar khas perangkat pada masanya.
Laporan DetikX pada Februari 2026 menggambarkan meningkatnya ketertarikan pembeli muda terhadap kamera lawas di Pasar Baru. Seorang pekerja toko kamera dalam laporan tersebut menyebut mahasiswa dan pelajar sebagai kelompok pembeli yang menonjol.
Ketika kamera lawas kembali diperdagangkan, pekerjaan lain ikut dibutuhkan. Penjual perlu memeriksa kondisi perangkat, sementara teknisi harus memastikan komponen elektronik, baterai, dan mekanisme kamera masih berfungsi.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu menghapus nilai barang lama. Dalam beberapa kasus, teknologi lama memperoleh nilai baru justru karena berbeda dari perangkat yang digunakan sehari-hari.
Ketika yang lama menemukan pasar baru
Kebangkitan berbagai barang lawas itu tidak berarti Gen Z meninggalkan teknologi modern. Mereka tetap menggunakan ponsel, streaming, dan media sosial, tetapi pada saat yang sama memilih pengalaman yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh teknologi digital.
Penelitian Sophie Whitehouse yang terbit dalam jurnal Consumption, Markets and Culture pada 2023, berjudul “Taking a chance on a record”: lost vinyl consumption practices in the age of music streaming, membahas bagaimana pengalaman fisik, nostalgia, dan proses memperoleh serta menikmati rekaman membentuk hubungan konsumen dengan vinyl. Penelitian itu menggunakan wawancara mendalam terhadap 14 konsumen aktif vinyl dalam komunitas indie pop Inggris.
Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa format fisik masih memiliki daya tarik di tengah layanan streaming. Namun, penelitian itu bukan bukti bahwa semua Gen Z memiliki motivasi yang sama atau bahwa seluruh profesi terkait benda lawas mengalami pertumbuhan.
Bagi Eva dan Stevanus, mengoleksi kaset pita dan vinyl bukan sesuatu yang baru muncul setelah tren ramai. Mereka telah menyukainya lebih dahulu. Ketika minat masyarakat meningkat, koleksi yang sudah dimiliki terasa semakin relevan, sementara pilihan penjual yang bertambah membuat pencarian barang menjadi lebih mudah.
Pada akhirnya, label profesi yang punah mungkin terlalu cepat disematkan pada pekerjaan yang berkaitan dengan teknologi lama. Sebagian memang kehilangan pasar ketika teknologi berubah. Namun, ketika selera konsumen bergerak ke arah berbeda, pekerjaan tersebut bisa kembali memperoleh kesempatan.
Bukan berarti masa lalu selalu lebih baik daripada masa kini. Kadang-kadang, barang lama hanya menemukan generasi baru yang bersedia membelinya—dan orang-orang yang masih tahu cara merawatnya.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Restorasi Album Bersejarah SID: 30 Tahun Nyaris Hilang, Selamat Berkat Kaset 15 Ribu di Pasar Loak atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan