Meski tidak sering-sering amat, sesekali Vitri (22) dan Pranata (26) mampir ke Indomaret Point Coffee: memesan kopi, lalu duduk sejenak di kursi bagian depan untuk merayakan hal-hal kecil. Bagi Pranata, “Kalau kehidupan terasa lebih pahit, salah satu obatnya ya ngopi enak.”
Hanya saja, enaknya kopi di Indomaret Point Coffee tidak bisa serta-merta dinikmati dengan jenak. Pasalnya, mereka mengaku kerap bertemu pengunjung dengan perilaku sangat meresahkan.
Sampah becek dan lengket di meja Indomaret Point Coffee
Beberapa kali di jam 21.00, Vitri, mahasiswi di sebuah PTN Jogja menyendiri ke Indomaret Point Coffee. Kadang karena alasan sumpek, tidak jarang pula karena bahagia dan ingin self reward.
Usai pesanan kopinya dibuat, saat hendak duduk di kursi yang tersisa, Vitri mengaku sering menghela napas berat saat melihat apa yang ia lihat di atas meja.
“Habit orang-orang kita ya, sampahnya nggak dibuang. Ditinggal begitu saja. Entas gelas bekas kopi, botol bekas, bungkus camilan, sampai abu rokok yang tercecer di meja dan lantai,” keluh Vitri, Kamis (23/7/2026).
Pada akhirnya Vitri mau tidak mau harus membereskannya. Bukan karena ia berbaik hati menanggung “dosa” pengunjung sebelumnya, tetapi karena ia sendiri merasa risih jika duduk dengan meja penuh sampah.
Lebih-lebih, bekas kopi atau minuman lain yang tercecer membuat meja menjadi terasa lengket. Sangat tidak nyaman dan mengganggu.
Perilaku meninggalkan sampah di meja Indomaret Point Coffee jelas amat disayangkan Vitri. Apalagi ada beberapa gerai yang secara terang-terangan memasang peringatan “Buang Sampah pada Tempatnya” atau “Jangan Tinggalkan Sampah di Meja.”
Indomaret Point Coffee berubah jadi tongkrongan berisik dan berjam-jam tanpa peduli sekitar
Tidak jarang pula Vitri dihadapkan dengan momen harus duduk bersebelahan dengan gerombolan anak-anak muda yang menyabotase kursi-kursi yang tersedia.
Vitri tidak mempermasalahkan jika di antara sekian anak-anak muda tersebut hanya satu-dua orang saja yang pesan kopi di Indomaret Point Coffee, sementara sisanya hanya pesan beli kopi Golda seharga Rp4 ribu. Toh memang tidak ada tanda khusus bahwa kursi di sana hanya untuk pelanggan Indomaret Point Coffee.
“Tapi mereka ini kayak nggak tahu diri aja. Sudah menyabotase banyak kursi, nongkrongnya lama, eh berisik pula,” kata Vitri.
Ada yang seru berdiskusi sampai tertawa-tawa keras. Pernah juga Vitri menjumpai gerombolan anak muda yang tengah main game online bareng (mabar) sambil berseru-seru kencang. Bagi Vitri, hal itu benar-benar sangat mengganggu kenyamanan pengunjung lain.
“Kalau mau nongkrong ramean, lama, dan mau diskusi atau mabar yang berisik seperti itu, ya ke warung/kedai kopi lah,” lanjutnya.
Nongkrong bareng pasangan boleh, tapi mbok jangan mesra-mesraan berlebihan
Untuk keresahan Vitri berikutnya, Vitri menyadari pasti akan dituding sok moralis. Tapi perilaku berlebihan dua sejoli di kursi Indomaret Point Coffee baginya cukup mengganggu.
Karena kadang kala Vitri menjumpai sepasang kekasih yang memilih duduk di kursi paling pojok. Tidak hanya ngobrol, yang tersaji adalah adegan mesra-mesraan yang berlebihan.
“Nggak sekadar nyender di bahu, tapi si cowok merangkul, terus mencium-cium pipi atau ubun-ubun si cewek. Gitu-gitu lah,” ungkap Vitri.
Orang lain mungkin bisa menganggapnya biasa. Tapi kalau Vitri, entah kenapa merasa risih dan tidak pantas saja hal semacam itu dipertontonkan di tempat umum.
Kursi dibiarkan berantakan, apa susahnya menata kursi kembali sebelum pergi?
Sama halnya, Pranata juga kerap meresahkan perilaku pengunjung Indomaret Point Coffee yang tidak berkesadaran.
Kadang sendiri. Kadang juga berdua dengan teman dekatnya, ngopi di Indomaret Point Coffee menjadi semacam pilihan jeda bagi Pranata. Terutama di jam-jam menjelang tengah malam.
Persoalan sampah berserakan ternyata juga dijumpai pekerja swasta di Jogja tersebut. Dan itu diperparah dengan kondisi meja-kursi yang sudah morat-marit sana-sini tidak karuan.
“Ya mungkin karena mereka (pengunjung yang meninggalkan kursi dalam keadaan berantakan) menganggap menata meja kursi kembali sepenuhnya tugas karyawan,” kata Pranata.
Kendati begitu, bagi Pranata, sebenarnya apa susahnya jika meninggalkan Indomaret Point Coffee dengan keadaan bersih dan rapi? Dengan tidak membiarkan sampah berserakan di meja dan menata kembali kursi yang digunakan.
Sebab, ada saja kursi di satu meja yang bergeser di meja lain karena sebelumnya digunakan oleh sekelompok orang.
Bukan untuk Work from Cafe (WFC)?
Memang tidak ada aturan tertulis khusus perihal penggunaan ruang di kursi Indomaret Point Coffee, selain peringatan buang sampah dan hanya tersedia untuk pelanggan kopi Point di gerai tertentu. Alhasil, kerap kali terjadi monopoli ruang di sana.
Pranata memang hanya berpatokan pada aturan tidak tertulis yang ia dan sirkelnya amnini: tahu batas waktu penggunaan meja-kursi di Indomaret Point Coffee.
Misalnya: jika obrolan dirasa sudah cukup, atau saat segelas kopi sudah tandas, maka ada baiknya beranjak dari kursi. Sebab, tentu masih ada pelanggan lain yang antre ingin duduk di situ. Biar sama-sama enak lah.
Kerap kali Pranata mendapati ada orang yang bisa duduk berjam-jam menghadap laptop: bekerja. Meski ada fasilitas free WiFi, bagi Pranata, ada baiknya orang yang bekerja tersebut tidak berlarut-larut.
“Kalau memang niatnya WFC, ya sekalian di kafe atau coffee shop. Maksudku dengan desain Indomaret Point dengan ruang terbatas, ya masa mau kerja berlama-lama, sementara ada pembeli lain yang juga ingin duduk misalnya kondisinya lagi ramai. Kalau sekadarnya sih nggak apa-apa,” tutup Pranata.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Duduk di Kursi Indomaret Ternyata Juga bikin Orang Makin Nelangsa dan Iri Hati karena Standar Orang Lain atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
