Fenomena “Crush Recession”: Saat Jatuh Cinta Terasa Jauh Lebih Melelahkan bikin Perempuan Malas Pacaran

Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

ilustrasi - alasan perempuan belum menikah meski di usia matang karena alami crush recession. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Perawan tua atau expired. Begitu label yang diberikan oleh orang Indonesia untuk menyebut perempuan yang belum menikah di usia normatif. Alih-alih malu dicap demikian, banyak generasi muda saat ini justru tidak memprioritaskan pernikahan. Sebab antusiasnya untuk menyukai seseorang secara romantis semakin menurun. Fenomena ini dikenal dengan istilah crush recession. 

***

Dulu, sebagian besar perempuan takut jika dirinya belum menikah ketika usianya sudah di atas 25 tahun. Ketakutan ini timbul karena budaya patriarki yang dominan di Indonesia, sehingga menimbulkan berbagai stereotip yang melabeli mereka. 

Mereka dianggap “tidak laku” seolah menjadi barang tak layak pakai karena belum menikah. Dianggap terlalu pilih-pilih, karena standar yang terlalu tinggi dari segi bibit, bebet, bobotnya.

Pada akhirnya, perempuan belum menikah yang memilih pendidikan tinggi untuk meniti karier justru dicap terlalu mengejar duniawi atau melawan kodrat. Sebaliknya, laki-laki lajang di usia matang sering kali dimaklumi. 

Nyatanya kini, perempuan yang belum menikah di atas usia 25 tahun tidak takut dicap demikian. Keberanian ini muncul seiring dengan fenomena crush recession, yakni menurunnya antusiasme anak muda terhadap kencan atau ketertarikan romantis. 

Sudah kebal ditanya kapan nikah

Desi Murniati (31) adalah salah satu perempuan yang mengalami crush recession. Dia pun tidak terhindar dari pertanyaan, “kapan nikah?” terutama saat acara kumpul keluarga, apalagi usianya sudah menginjak kepala tiga.

Keluarga Desi beralasan, khawatir dengan kondisi fisiknya jika menikah di atas usia 30 tahun. Sebab tidak bisa dimungkiri, lebih banyak perempuan di usia akhir 30-an mengalami kesulitan hamil dan lebih berisiko saat melakukan persalinan dibandingkan usia akhir 20-an atau awal 30 tahun.

Meski begitu, Desi mengklaim dirinya tidak bisa disebut kadaluwarsa karena perempuan bukan barang yang bisa dilepas pakai. Perempuan, kata dia, tidak hanya dilihat dari bisa atau tidaknya bereproduksi.

“Perempuan pun punya hak untuk tubuh kami sendiri, termasuk dalam hal bereproduksi. Lagian perempuan zaman sekarang sudah semakin berdaya dan paham hidup, nggak cuma soal punya anak,” kata Desi saat dihubungi Mojok, Senin (3/8/2026).

Alami crush recession, 9 tahun tidak naksir cowok

Di sisi lain, ada beberapa alasan yang membuat Desi tidak antusias menyukai seseorang secara romantis hingga belum punya keinginan menikah. Utamanya, karena dia merasa jatuh cinta hanya buang-buang waktu dan energi.

“Dulu zaman sekolah dan kuliah aku masih bisa naksir seseorang, tapi sejak lulus aku merasa banyak perspektif yang berubah. Bahkan bisa dibilang aku sudah 9 tahun nggak naksir cowok,” ucapnya. 

Berdasarkan pengalamannya menyukai seseorang, Desi mengaku selalu tidak membuahkan hasil alias bertepuk sebelah tangan. Oleh karena itu, dia memilih berhenti untuk meromantisasi segala sesuatunya. Tidak lagi berdebar setiap kali bertukar pesan dengan laki-laki atau bertemu dengannya secara langsung.

“Aku nggak mau memandang spesial orang lain, kalau dia baik ya, ya sudah cukup sampai di situ. Dan dewasa ini aku juga sudah tahu tanda-tanda orang suka dengan seseorang. Suka juga buat apa kalau nggak jadi pilihan,” ucapnya. 

Pelatih kencan bersertifikat di Hily, Julie Nguyen menegaskan crush recession muncul bukan karena mereka tidak ingin menjalin hubungan, tapi karena mereka berpikir lebih baik menghindari kelelahan emosional akibat berkencan, seperti yang dirasakan Desi.

Hadirnya media sosial juga turut memunculkan fenomena crush Recession ini. Setiap kencan, kata Julie Nguyen, bisa menjadi bahan obrolan publik di media sosial. Padahal dulu, ketertarikan seseorang terhadap orang lain masih bisa dituangkan dalam buku harian.

Namun sekarang, ketertarikan sekecil apapun bisa terlihat dan berisiko dipermalukan di depan umum, hingga menyebabkan patah hati. Pada akhirnya, rasa suka kepada seseorang sangat rawan diketahui publik dan bukan menjadi ranah privat.

Dating app jadi pemicu crush recession

Walaupun tidak menyukai seseorang selama 9 tahun lebih, Desi pernah mencoba untuk menumbuhkan kembali rasa tertariknya menjalin hubungan secara romantis. Salah satunya dengan iseng mengunduh aplikasi kencan. 

Sialnya, tanpa Desi ketahui, aplikasi kencan adalah salah satu faktor kemunculan crush recession

“Ternyata capek juga membangun komunikasi dari awal dengan banyak orang,” ucap Desi.

Seorang psikolog, Brittany Woolford menjelaskan aplikasi kencan bisa menyebabkan seseorang mengalami kelumpuhan emosional alih-alih memudahkan mencari pasangan. Gambarannya begini, dari sekian ribu profil, pengguna perlu menyaring satu per satu profil yang dianggapnya menarik.

Sayangnya, seleksi tersebut justru memudarkan perasaan spesial terhadap satu individu, sehingga perasaan jatuh cinta semakin sulit tumbuh. Seperti yang dialami Desi. Alih-alih menemukan seseorang yang tepat, Desi justru menjumpai banyak akun mesum. Terlebih, jika percakapannya tidak berjalan mulus, Desi pun kewalahan untuk mulai lagi dari awal. 

Pada akhirnya, gejolak emosi akibat jatuh cinta dengan harapan menjalin hubungan serius dan banyak usaha berujung tidak menguntungkan baginya. Tak pelak, Desi lebih banyak pertimbangan untuk menjalin hubungan di usianya sekarang.

Crush recession tak berarti buruk

Salah satu pertimbangan utama Desi adalah faktor ekonomi. Tak jarang Desi melihat teman-temannya yang harus mengeluarkan uang lebih untuk pacaran di malam minggu. Apalagi jika ada pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh alias LDR.

Masalah pun semakin rumit ketika mereka berencana untuk menikah. Bagaimana mereka harus mendiskusikan siapa yang akan bekerja? Apakah sang istri masih diperbolehkan bekerja setelah menikah? Bagaimana mengelola gaji di antara satu atau keduanya? Hingga keputusan memiliki anak dan masa depan mereka nanti. 

Brittany Woolford tak menampik faktor di atas dapat menyebabkan seseorang mengalami crush recession akibat lelah jatuh cinta. Bagi generasi sekarang, kata dia, jatuh cinta sambil memikirkan finansial adalah beban yang terlalu berat untuk dipikul bersamaan. 

“Harus menghadapi ketidakstabilan finansial dan global, sambil harus menempatkan diri dalam keadaan rentan untuk sebuah hubungan yang kemungkinan besar akan berakhir, tampaknya terlalu berat untuk dikelola,” kata Woolford dikutip dari Real Simple, Selasa (4/8/2026).

Di sisi lain, para ahli percaya bahwa fenomena crush recession muncul bukan karena generasi muda menolak hubungan romantis, melainkan lebih hati-hati lagi dalam membangun hubungan. 

Mereka tidak lagi takut terhadap label atau stigma, tapi justru berusaha memahami jati dirinya di tengah perubahan sosial yang begitu cepat. Seperti Desi yang kini lebih menikmati waktu sendiri selama tinggal di desa. Salah satunya dengan mengeksplorasi atau belajar banyak hal, apa yang dia suka atau tidak suka.

“Buatku, menikah bukan suatu pencapaian. Di usia ini aku lebih ingin jadi orang baik yang beneran baik. Ingin sehat dan berkecukupan untuk memberikan manfaat bagi sekitar,” tegasnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version