‘Gaji Habis buat Cuci Darah’ – Yang Perlu Kamu Ketahui soal “Tren” Penyakit Lansia yang Menyerang Generasi Muda

Belakangan, lini masa di Threads ramai oleh cerita anak muda usia 20-an yang menjadikan rumah sakit sebagai “rumah kedua”. Mereka rutin datang untuk menjalani prosedur cuci darah. Bangsal penyakit dalam, kini tidak lagi didominasi oleh pasien lanjut usia. Remaja dan pekerja muda mulai memenuhi antrean. 

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sebelumnya sudah menyalakan alarm bahaya. Kasus penyakit katastropik, atau penyakit dengan biaya pengobatan tinggi dan risiko kematian besar, melonjak tajam di kalangan usia produktif. 

Fenomena ini bukan sebuah kebetulan. Ini adalah bom waktu akibat gaya hidup tidak sehat yang akhirnya meledak. 

Seberapa parah lonjakan “penyakit lansia” di kalangan anak muda saat ini?

Kasus ini sangat serius dan tercatat jelas di berbagai laporan lembaga kesehatan nasional. 

Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dari Kemenkes menunjukkan fakta yang mengejutkan. Saat ini, lebih dari 10 persen penderita diabetes di Indonesia berasal dari kelompok usia di bawah 40 tahun. Angka ini terus merangkak naik setiap tahun seiring pergeseran gaya hidup modern.

Kondisi ini makin mengkhawatirkan jika kita melihat kelompok usia anak-anak. Dalam rilis resminya pada awal tahun 2023, IDAI mengungkap data kasus diabetes pada anak dan remaja di Indonesia meningkat hingga 70 kali lipat jika dibandingkan dengan data tahun 2010. 

IDAI memberikan peringatan keras kepada orang tua dan pemerintah. Lonjakan kasus Diabetes Tipe 2 pada remaja usia belasan tahun meningkat sangat tajam. Penyakit ini muncul akibat gaya hidup kurang gerak dan tingkat obesitas yang tinggi.

Artinya, generasi masa depan kita sedang menimbun bibit penyakit kronis jauh sebelum mereka memasuki usia dewasa.

Mengapa generasi muda bisa terkena diabetes hingga gagal ginjal?

Akar masalah utamanya bersumber dari konsumsi gula cair yang tidak terkendali setiap hari. Melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2013, pemerintah sudah menetapkan batas aman konsumsi gula harian. Batas maksimalnya adalah 50 gram, atau setara dengan empat sendok makan per hari untuk satu orang dewasa.

Praktik di lapangannya jauh melampaui batas tersebut. Misalnya, untuk satu gelas minuman kekinian, seperti es boba atau kopi susu gula aren ukuran reguler, umumnya mengandung 30 hingga 40 gram gula. 

Jika kamu rutin minum es kopi susu pada siang hari, memakan camilan kemasan, lalu menyantap nasi porsi besar pada malam hari, batas 50 gram itu pasti langsung terlewati.

penyakit, cuci darah.MOJOK.CO
Penyebab utama anak muda menderita penyakit katastropik karena konsumsi gula cair yang tidak terkendali setiap hari. Gula ini bisa dijumpai, misalnya, dalam es bola atau kopi susu gula aren. (Gambar: Malcolm Brostrom/Unsplash)

Terkait kebiasaan ini, Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) menjelaskan bahwa kelebihan asupan gula yang terjadi secara terus-menerus akan merusak sensitivitas hormon insulin. Saat insulin tidak bekerja maksimal, kadar gula darah akan selalu tinggi. 

Gula darah yang tinggi ini secara perlahan akan merusak pembuluh darah kecil yang berfungsi sebagai penyaring di dalam ginjal. 

Dalam literatur ilmu kedokteran, kondisi ginjal yang bocor akibat penyakit gula ini disebut Nefropati Diabetik. Saat saringan ginjal rusak parah, organ ini gagal membuang racun dari dalam tubuh. Pada tahap inilah, pasien tidak punya pilihan lain selain rutin mencuci darahnya menggunakan bantuan mesin di rumah sakit.

Apakah penyakit ini juga berdampak ke kondisi dompet?

Penyakit kronis jelas menguras fisik tubuhmu sekaligus menghancurkan kondisi finansialmu. Dalam skala nasional, Laporan Tahunan BPJS Kesehatan 2023 mencatat angka tagihan yang luar biasa besar. 

Klaim untuk penyakit katastropik–seperti gagal ginjal, penyakit jantung, dan stroke–menyedot anggaran negara hingga Rp34,7 triliun. Khusus untuk pengobatan penyakit gagal ginjal saja, tagihannya menembus angka Rp2,9 triliun. 

Beban ini sangat berat bagi sistem jaminan kesehatan kita.

Untuk pasien secara individu, ancaman finansial datang dari biaya pengobatan. Berbagai jurnal ekonomi menyebut fenomena biaya tambahan ini sebagai out-of-pocket expenses (biaya dari kantong sendiri) dan indirect cost (biaya tidak langsung). 

Tindakan cuci darah memang ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan. Namun, kamu tetap harus mengeluarkan uang untuk membayar ongkos transportasi ke rumah sakit sebanyak dua kali seminggu selama seumur hidup. Kamu juga harus membeli nutrisi atau suplemen medis khusus yang tidak masuk dalam daftar tanggungan asuransi.

Lebih parah lagi, pasien cuci darah sering kali kehilangan pekerjaan utama mereka. Banyak pekerja muda terpaksa mengundurkan diri karena harus absen secara rutin dua kali seminggu. 

Kondisi fisik yang mudah lelah juga membuat produktivitas kerja mereka anjlok drastis. Pada akhirnya, dompet pasien terkuras habis saat pemasukan justru terhenti.

Adakah cara instan untuk membersihkan gula atau lemak berlebih dalam tubuh?

Klaim tentang produk teh pelangsing atau pil pembersih racun yang bisa menguras gula dalam hitungan hari adalah mitos besar. 

Pakar Gizi dr. Tan Shot Yen, meluruskan hal ini. Ia berulang kali menegaskan bahwa konsep detoksifikasi menggunakan produk komersial kemasan adalah omon-omon, cuma bahasa pemasaran. Istilah itu sama sekali tidak diakui dalam dunia medis.

Penjelasan serupa juga datang dari Konsultan Ginjal Hipertensi, dr. Decsa Medika Hertanto. Melalui berbagai publikasi edukasinya, dr. Decsa memperingatkan masyarakat untuk menjauhi teh pelangsing berbahan daun jati cina atau obat pencahar sembarangan. 

Produk-produk semacam ini biasanya hanya mengandung zat yang memaksamu membuang cairan tubuh terus-menerus. Zat tersebut tidak membuang lemak atau gula. 

Bukannya menjadi sehat, pengguna produk ini malah berisiko mengalami dehidrasi parah. Kondisi kekurangan cairan yang ekstrem ini bisa berujung pada kerusakan ginjal akut, atau dalam istilah penyakit medis dikenal sebagai Acute Kidney Injury.

Tubuh manusia pada dasarnya sudah memiliki organ hati dan ginjal yang berfungsi gratis untuk menyaring racun setiap detiknya. 

Cara paling rasional untuk membantu kerja kedua organ tersebut sangat sederhana. Kamu hanya perlu menghentikan asupan makanan instan dan minuman manis. Selain itu, pastikan kamu tidur teratur selama tujuh hingga delapan jam agar sel tubuh memiliki waktu luang untuk memperbaiki diri.

Apa langkah pencegahan paling ampuh yang bisa dilakukan hari ini?

Pencegahan paling ampuh justru sama sekali tidak membutuhkan biaya mahal. Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah menggunakan panduan resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 

Melalui Peraturan BPOM Nomor 22 Tahun 2019, pemerintah mewajibkan pabrik untuk mencantumkan tabel Informasi Nilai Gizi di bagian belakang setiap produk kemasan. 

Biasakan dirimu untuk selalu membaca tabel ini sebelum mengonsumsinya. Jika keterangan kandungan gula sudah menyentuh angka 15 gram per sajian, sebaiknya hindari. Angka itu sudah mengambil hampir sepertiga jatah gula harianmu.

Langkah kedua adalah mematuhi pedoman pergerakan fisik dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam dokumen resminya yang membahas panduan aktivitas fisik, WHO mewajibkan setiap orang dewasa untuk bergerak aktif minimal 150 menit per minggu. 

Kemenkes kemudian mengadopsi aturan global ini ke dalam kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di Indonesia.

Praktik di lapangan juga sangat mudah. Kamu cukup berjalan kaki cepat selama 30 menit sehari, minimal lima hari dalam seminggu. 

Aktivitas fisik yang rutin ini secara medis terbukti mampu meningkatkan kinerja hormon insulin. Saat insulin bekerja secara optimal, tubuh akan membakar sisa gula darah secara alami sebelum berubah menjadi racun penyebab penyakit gagal ginjal. 

Dua kebiasaan gratis ini jauh lebih ampuh menjaga kesehatan ginjalmu dibandingkan asuransi kesehatan dengan premi paling mahal sekalipun.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sesal Berobat ke Dukun Bayi ketimbang ke Dokter, Bukannya Sembuh tapi Salah Kaprah hingga Penyakit Jadi Makin Serius dan Ancam Nyawa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version