Menjadi pengguna iPhone tentu merupakan gengsi tersendiri. Banyak orang yang rela beralih dari Android . Namun hal itu tidak berlaku untuk Gita (23), penjaga toko sepatu di Wirobrajan, Yogyakarta, itu membuat keputusan gegabah yang membuat sebagian gajinya harus menghilang setiap bulan. Naasnya, ia menyesal dan kembali ke Android setelah 10 bulan menggunakan iPhone.
***
Gita mengaku keputusan itu gegabah. Ia belum benar-benar tahu apa yang akan ia lakukan dengan iPhone, tetapi sudah memilih seri Pro dengan cicilan 12 bulan. “Ya saya akui itu keputusan gegabah sih, karena belum tahu bagaimana menggunakan iPhone tiba-tiba langsung nyicil dengan spek yang cukup tinggi, ya akhirnya biaya cicilannya juga cukup tinggi,” ujar Gita kepada saya melalui WhatsApp, Selasa (06/10/2026).
Cicilan iPhone tersebut mencapai sekitar Rp1,3 juta setiap bulan. Angka itu nyaris setengah dari gajinya. Anehnya, bukan hanya cicilan yang kemudian membuat Gita menyerah dan kembali ke Android.
Gaji kecil, gengsi iPhone besar
Gita sebenarnya masih mendapat bantuan orang tua untuk membayar cicilan. Masalahnya justru muncul setelah iPhone berada di tangannya.
“Saat itu cicilannya sudah di angka sekitar Rp1,3 juta mas, nyaris setengah gaji saya,” katanya.
Keputusan membeli iPhone juga tidak sepenuhnya lahir dari kebutuhan. Gita merasa perlu memiliki perangkat yang sama seperti teman-temannya.
“Ya karena teman-teman saya pakai iPhone lebih dulu, ya saya malu kalau masih pakai Android sendiri, nanti dikira nggak ikut tren,” ujar Gita.
Di titik itu, iPhone bukan lagi sekadar telepon genggam. Gita menggunakannya sebagai penanda bahwa dirinya berada di lingkungan pertemanan yang sama.
Pengalaman Gita sebenarnya punya konteks sosial yang lebih luas. Penelitian oleh Project Multatuli berjudul “Gengsi, Validasi, dan FOMO: Jerat iPhone pada Gen Z” terhadap pengguna iPhone generasi Z di Purwokerto menemukan bahwa kepemilikan iPhone tidak hanya berkaitan dengan fungsi teknologi, tetapi dengan prestise, citra diri, interaksi sosial, dan gaya hidup konsumtif. Gita mengalami bagian yang paling sederhana dari fenomena itu: ia ingin terlihat setara dengan teman-temannya.
Baru punya iPhone, malah mulai membandingkan
Ironisnya, setelah menjadi pengguna iPhone, Gita justru mulai membandingkan ponsel tersebut dengan Android yang sebelumnya ia gunakan selama lebih dari empat tahun. Dari sisi penyimpanan, Android lamanya bahkan lebih unggul. Kebutuhan hariannya juga tidak berubah setelah berganti perangkat.
“Kalau nyicilnya sebenarnya nggak repot mas, malah yang repot itu setelah unit di tangan, beberapa bulan digunakan saya jadi membandingkan ketika menggunakan Android, ternyata lebih enak menggunakan Android,” ujarnya.
Bagi Gita, persoalannya sederhana. Ia tidak menggunakan ponsel untuk pekerjaan berat. Sehari-hari, perangkat itu hanya ia pakai untuk membuka media sosial, berkirim pesan, dan mengambil foto.
“Ya sebenarnya sama saja mas, malah enakan Android secara fungsinya,” kata Gita.
Pengalaman itu tidak berarti iPhone tidak punya keunggulan. Gita sendiri mengakui kamera iPhone lebih bagus dibandingkan Android yang ia gunakan.
“Memang secara kamera Android saya jelas kalah dan iPhone diakui kehebatan kameranya,” ujarnya.
Namun, keunggulan kamera itu tidak cukup membuat Gita mempertahankan iPhone.
iPhone bagus, tapi belum tentu dibutuhkan
Perdebatan iPhone dan Android sering berhenti pada spesifikasi, kamera, performa, atau sistem operasi. Padahal, persoalan Gita bukan soal mana yang lebih canggih. Ia justru menemukan pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa ponsel secanggih itu jika kebutuhan sehari-harinya tidak berubah?
Gita tetap menggunakan ponsel untuk mengobrol, menggulir media sosial, dan memotret. Bahkan, sebagian foto yang ia ambil bukan untuk dirinya sendiri.
“Lha wong sama-sama dipakai harian juga, chatting, skrol medsos, sama foto itupun kebanyakan foto-foto teman karena jadi disuruh ngefoto mereka yang bukan pengguna iPhone,” katanya.
Dengan kata lain, iPhone yang ia cicil tidak mengubah kebutuhan Gita. Yang berubah hanya perangkat dan nominal uang yang harus ia keluarkan setiap bulan.
Kondisi pasar juga menunjukkan bahwa ponsel premium memang semakin mendapat tempat di Indonesia. Counterpoint Research mencatat segmen smartphone premium dengan harga di atas US$600 mencapai 8,3 persen dari pengiriman smartphone Indonesia pada kuartal pertama 2026, angka tertinggi yang pernah dicatat segmen tersebut.
Artinya, keinginan memiliki ponsel mahal bukan fenomena yang berdiri sendiri. Tetapi pengalaman Gita menunjukkan bahwa pertumbuhan kelas premium tidak otomatis membuat setiap orang membutuhkan perangkat premium.
Sepuluh bulan kemudian menyerah dan cicilan dialihkan
Setelah menggunakan iPhone selama sekitar 10 bulan, Gita akhirnya mengambil keputusan yang mungkin terdengar memalukan bagi orang yang sejak awal membeli iPhone demi gengsi: ia berhenti menggunakannya. Ia mengoper cicilan tersebut kepada kakaknya.
“Akhirnya ya ga kuat dan balik lagi ke Android aja, mas,” kata Gita.
Keputusan itu sekaligus mengakhiri eksperimennya menjadi pengguna iPhone. Bukan karena jelek, bukan pula karena cicilannya benar-benar tidak sanggup ia bayar. Gita hanya merasa perangkat tersebut tidak sebanding dengan kebutuhan hariannya. Ia kembali menggunakan Android yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.
Bagi Gita, ada satu hal yang memang hilang setelah kembali ke Android: gengsi. Ia tidak lagi menggunakan perangkat yang sama dengan teman-temannya. Namun, ada sesuatu yang juga kembali ia dapatkan: uang gaji yang tidak lagi tersedot untuk cicilan. Pada akhirnya, Gita tidak benar-benar kalah dari iPhone. Ia hanya kalah dalam urusan gengsi, lalu menang ketika mulai menghitung kembali kebutuhan sendiri.
“Memang secara gengsi tidak bisa disamakan,” ujarnya.
Tetapi untuk Gita, Android tetap lebih masuk akal. Ponsel itu cukup untuk melakukan semua hal yang memang ia lakukan setiap hari—tanpa harus merelakan sebagian besar gajinya demi terlihat setara dengan orang lain.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: 8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan