Celingak-celinguk di MR DIY sambil Dengarkan Jingle yang Candu, Rasanya Damai Sekalipun Tidak Beli Apa-apa

belanja di MR DIY. MOJOK.CO

ilustrasi - celingak-celinguk di MR DIY. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Belakangan ini saya menyadari jalan-jalan di MR DIY tanpa membeli barang apa pun alias rombongan jarang beli (rojali) ternyata mengasyikkan, walaupun dinilai tidak tahu malu. Namun menurut para pakar, kegiatan ini bisa menjadi bentuk rekreasi di tengah tekanan hidup.

***

MR DIY, toko yang menjual berbagai kebutuhan keluarga itu saya ketahui saat orang tua saya mengajak jalan-jalan di salah satu mal di Surabaya. Jauh sebelum adanya Miniso dan KKV, logo bergambar palu dengan warna kuning terang itu lebih menarik perhatian saya.

Namun waktu itu, saya hanya melewati toko MR DIY karena ibu saya lebih tertarik membeli bahan belanjaan di supermarket. Sampai kemudian, saya berkesempatan masuk sendirian ke MR DIY saat remaja untuk membeli kado.

Saat pertama kali saya ke sana, rasanya seperti memasuki dunia lain. Rasanya seperti menemukan benda baru yang belum pernah saya lihat di rumah. Saya pun memutuskan jalan-jalan di setiap lorongnya sambil melihat barang-barang yang menurut saya menarik.

Ketakjuban saya ini dapat dijelaskan dalam perspektif psikologi evolusioner. Psikolog dari University of Michigan, Daniel Kruger menjelaskan kebiasaan berkeliling mal hingga meneliti barang secara saksama ini merupakan manifestasi modern dari insting berburu dan meramu yang pernah dilakukan oleh nenek moyang kita.

Terlebih, MR DIY bisa dibilang merupakan tempat yang cocok untuk menyalurkan insting purba ini di era modern.

Bagi saya yang saat itu masih remaja berusia 12 tahun, berbagai jenis produk seperti perkakas, peralatan rumah tangga, peralatan listrik, aksesori mobil, perabotan rumah, alat tulis, alat olahraga, mainan anak, aksesori komputer dan HP, kosmetik, hingga perhiasan, tak pelak menarik perhatian saya, walaupun ujung-ujungnya saya tidak membeli apa-apa.

Alasan takjub melihat barang baru

Sama seperti saya, saat pertama kali ke MR DIY yang ada di Jogja, Ridhoi (23), perantau asal Nganjuk ini langsung terkesima. Menurutnya, banyak barang unexpected yang bisa dia temukan di MR DIY. 

“Banyak barang yang membuatku berpikir, ‘kok ada juga barang ginian di sini?’,” ujarnya pada Selasa (4/8/2026).

Penelitian oleh Nico Bunzeck dan Emrah Duzel yang diterbitkan dalam jurnal Neuron menyebut, manusia memiliki otak yang dapat langsung merespons absolute novelty atau hal yang benar-benar baru. Respons tersebut memicu pelepasan dopamin yang memotivasi seseorang untuk mengeksplorasi seperti apa yang saya dan Ridhoi rasakan.

“MR DIY itu memang cocok untuk wasting time,” kata Ridhoi yang merasa dapat mengalihkan pikiran dari stres, pekerjaan, atau masalah sehari-hari di MR DIY.

MR DIY: tempat pembelajaran mengontrol diri

Ridhoi sendiri baru pertama kali mengunjungi MR DIY pada Mei 2026 lalu. Walaupun Ridhoi sudah tahu MR DIY sejak lama, dia berusaha menahan diri untuk tidak ke sana. Dia takut jika harga barang-barangnya tidak ramah di kantong.

“Aku pikir dulu harganya akan mahal, tapi setelah kemarin aku lihat-lihat secara langsung, murah juga,” ucapnya.

Bahkan Ridhoi yang awalnya nggak kepikiran mau beli barang apa-apa, tiba-tiba saja ingin beli ini itu saat di MR DIY. Pada kunjungan kedua Ridhoi bersama temannya, mereka yang hanya ingin membeli pisau dan satu kacamata hitam, malah tergiur untuk membeli alat pencukur kumis dan pylox.

“Aneh-aneh lah pokoknya, sampai ada titik di mana aku ingin beli senter tapi setelah kupikir-pikir nggak terlalu penting dan akhirnya nggak jadi,” kata Ridhoi.

Di MR DIY, kata Ridhoi, memang agak sulit menerapkan pola belanja tidak impulsif. Namun dari sana, dia jadi memiliki kendali atas keputusannya sendiri. 

Journal of Consumer Psychology mengungkap tindakan memilih dan membeli sesuatu dapat mengembalikan kendali yang hilang atas diri seseorang, saat dia merasa tidak berdaya dan hanya bisa menerima apa yang terjadi dalam hidupnya.

MR DIY bisa jadi alternatif “tempat ketiga”

Pada akhirnya, MR DIY dapat menjadi “The Third Place”, ruang netral tempat individu menyembuhkan stres, keterasingan, dan membangun percakapan santai tanpa beban.

Berdasarkan kriteria yang disampaikan sosiolog Ray Oldenburg, third place yang ideal harus mudah diakses, terbuka untuk siapa saja tanpa syarat status sosial. Sepengalaman saya dan Ridhoi, kami tidak pernah diusir oleh penjual sekalipun hanya ingin melihat-lihat dan berlama-lama.

Sesuai dengan jingle-nya yang candu, MR DIY sebagai toko perlengkapan yang “…murah-murah harganya, banyak pilihan buat kita semua,” dapat dikategorikan third place yang bersifat egaliter dan tidak menuntut apapun. 

Maka, biarlah jingle itu terus mengalun menemani langkah santai pengunjung.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Duduk di Kursi Indomaret Ternyata Juga bikin Orang Makin Nelangsa dan Iri Hati karena Standar Orang Lain atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version