ADVERTISEMENT

Biaya Tahlilan di Desa Mahal karena Omongan Tetangga: Ada Standard “Pantas” yang Kudu Dipenuhi, Bikin Tuan Rumah Tak Punya Waktu Berduka

Amplop tahlilan di desa tengah dikritik karena terkesan seperti pemorotan dan memberatkan. Namun, isinya ternyata paling dinantikan MOJOK.CO

Di desa, biaya tahlilan amat mahal karena ada standard kepantasan yang harus dipenuhi. Banyak keluarga ujung-ujungnya berutang, semata-mata buat “membungkam” mulut tetangga.

***

Dua tahun lalu, Danar (32) harus merelakan kepergian sang ayah. Kesedihan jelas merundung lelaki asal Jawa Timur ini. Namun, di desanya, duka kehilangan kerap ditunda demi hal lain yang harus diselesaikan.

Mendiang ayahnya adalah tokoh terpandang di kampung, sebuah status yang melekat karena kakek Danar dulunya merupakan mantan kepala desa. Status sosial ini rupanya membawa konsekuensi berat saat kematian tiba. 

Belum kering tanah makam, keluarga besar langsung mendesak Danar untuk menyembelih kambing sebagai hidangan bagi tamu tahlilan, setidaknya mitung ndino (peringatan tujuh harian).

“Kata keluarga besar memang itu sudah sepantasnya. Tujuh harian itu menu tahlilan ya daging kambing,” ungkapnya, Senin (21/9/2026).

Danar menolak halus desakan tersebut. Ia sadar, menyembelih kambing sendiri berarti menambah beban tenaga dan finansial di tengah suasana rumah yang masih kalut. 

Sebagai jalan tengah, ia memutuskan untuk membeli daging kambing potongan di pasar. Meski sedikit meng-calm down urusan dapur, nominal uang yang mengalir keluar nyatanya sama besarnya. Tradisi memaksanya merogoh kocek dalam-dalam demi memenuhi sebuah “kewajiban” sosial.

Kasta menu di tahlilan sesuai standard di desa

Pengalaman Danar sebenarnya adalah cermin dari realitas yang lebih luas. Sebagai orang yang juga hidup di lingkungan desa di Wonogiri, saya sangat memahami tekanan tak kasatmata ini. 

Di desa saya, ada standard kepantasan khusus yang wajib dipenuhi oleh tuan rumah yang sedang berduka. Saat keluarga saya menggelar tahlilan untuk mendiang Nenek Buyut dan Pakde beberapa waktu silam, saya baru menyadari bahwa menu hidangan duka ini memiliki “kasta” tersendiri yang sangat menguras kantong.

Untuk peringatan tiga harian, misalnya, standard pantasnya adalah hidangan olahan ayam. Masuk tujuh harian, menunya wajib naik kelas menjadi daging kambing. 

Pada peringatan empat puluh harian, standardnya kembali daging kambing, meski beberapa keluarga menengah ke atas mulai memaksakan penggunaan daging sapi agar dipandang pantas. Nah, untuk peringatan seratus harian, mendak (peringatan satu tahun), hingga seribu harian, daging sapi adalah syarat mutlak yang pantang ditawar.

Entah sejak kapan dan siapa yang pertama kali merumuskan aturan kasta daging ini, yang jelas ia telah mengakar menjadi standard umum di masyarakat perdesaan

Berdasarkan kalkulasi pengalaman saya sendiri, sekadar menyiapkan logistik makanan ringan, besek (bingkisan untuk dibawa pulang tetangga), dan hidangan utama hingga hari ketujuh saja bisa dengan mudah membakar uang belasan juta rupiah.

Tidak “afdal” kalau tak pakai standard ini

Standard kasta hidangan itu nyatanya tidak pandang bulu, berlaku juga di tempat tinggal Danar. Ketika menggelar peringatan 100 harian ayahnya, misalnya, Danar harus membeli daging sapi dalam jumlah besar sekaligus menyiapkan amplop berisi uang untuk para tamu yang hadir. 

Danar mengaku kepalanya pusing mengatur pengeluaran. Namun, ia menyadari dirinya masih cukup beruntung. Secara finansial, saat itu tabungannya sedang stabil, ditambah kerabat jauh dan saudara-saudaranya ikut patungan memberikan bantuan dana.

Namun, bagaimana dengan mereka yang kondisi ekonominya serba pas-pasan? 

Danar sering menyaksikan langsung tetangganya yang secara finansial tidak mampu, terpaksa ikut memaksakan diri tunduk pada standard ini. 

Alasan utamanya ada dua: takut menjadi sasaran empuk gosip tetangga terkait “standard kepantasan”, dan termakan oleh dogma keliru bahwa “jika tidak pakai kambing atau sapi, tahlilannya tidak afdal”.

“Ujung-ujungnya, kematian di desa itu ya kerap bikin boncos keluarga yang ditinggalkan,” jelas Danar.

Demi membungkam mulut tetangga dan menjaga gengsi keluarga, mereka yang ditinggalkan terpaksa gali lubang tutup lubang. Ada yang berutang ke tengkulak, meminjam uang kas RT, hingga menjual aset seadanya seperti menebang pohon jati di kebun bahkan menggadaikan surat motor.

Tuan rumah tak diberi waktu berduka

Ironi paling menyedihkan dari seluruh rentetan tradisi ini adalah dirampasnya hak tuan rumah untuk meratapi kepergian keluarga. Mereka tidak diberi ruang dan waktu untuk sekadar memproses rasa kehilangan. 

“Ibaratnya itu, baru aja mengantar jenazah ke pemakaman, malam harinya pikiran mereka udah harus diperas tuh. Ngitung anggaran makanan, kepantasan isi nasi berkat, dan melayani tamu.”

Danar pernah menyaksikan kepiluan ini secara langsung dengan mata kepalanya sendiri. Suatu hari, ada anggota keluarga tetangganya yang meninggal dunia. Anak dari almarhum datang ke rumah Danar, tanpa meneteskan air mata sedikit pun. 

Ekspresinya datar. Bukan karena ia tidak sedih, tapi ia menduga karena otaknya sudah keburu dipenuhi kepanikan urusan tahlilan. Sang anak datang hanya untuk meminta tolong diantarkan ke sebuah warung sembako. 

Tujuannya, meminta kasbon segala kebutuhan dapur untuk persediaan acara tahlilan di rumahnya hingga tujuh harian. Ia sama sekali tidak memegang uang tunai saat kematian itu datang.

“Jadi ya bener, bagi masyarakat kelas bawah, kehilangan anggota keluarga berarti harus siap menunda masa berkabung kan? Nangis nggak bikin duit datang, padahal tahlilan itu besar pengeluarannya,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Nasi Berkat Tahlilan: Dimasak Susah Payah demi Hormati Tamu tapi Sering Berakhir Mubazir dan Dicaci atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 September 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Exit mobile version