Ibarat habis manis, sepah dibuang. Itulah yang dialami Honda BeAT yang sudah menemani penggunanya mengarungi jalanan selama 7 tahun, tapi digantikan dengan Vespa Matic yang sedikit-sedikit bersikap manja untuk perawatannya, hanya karena alasan warna dan gaya.
Cerita ini datang dari Zira (23) yang sebelumnya mengaku sebagai pengguna Vespa Matic. Ketertarikan Zira bermula dari warna Vespa Primavera 125 yang lucu. Tapi ternyata, di baliknya, kelucuan mengalahkan perjuangan motor BeAT tangguh yang lebih dulu mengabdi kepadanya.
7 tahun mengarungi jalanan 3 kota bersama Honda BeAT
Kata Zira, Honda BeAT adalah salah satu dari motor lamanya. Ia pernah menggunakan Yamaha Mio dan Honda Scoopy juga, selain BeAT dan Vespa Matic yang digunakannya saat ini.
Namun, di antara kendaraan yang pernah dicoba, BeAT adalah motor paling lama yang pernah menemaninya. Mulai dari SMA sampai lulus kuliah, totalnya selama 7 tahun.
“Paling lama kayaknya aku pakai BeAT deh. Sejak aku SMA sampai aku S1,” katanya, Jumat (26/2/2026) siang.
Motor itu menemani Zira selama tinggal di Jogja saat SMA. Ia juga dibawa saat Zira berpindah ke Semarang untuk kuliah. Di sela-sela itu, Zira juga menggunakan motornya sesekali untuk pergi ke Klaten mengunjungi keluarga.
Bisa dikatakan, selama itu, BeAT adalah teman paling setia Zira yang mengiringinya ke mana pun.
Namun, kebersamaan keduanya berakhir sia-sia. Zira meninggalkan BeAT demi Vespa Matic.
Meninggalkan Honda BeAT demi Vespa Matic yang dianggap “lucu”
Alasan Zira mengganti kendaraannya juga cenderung tidak sejalan dengan prinsip pemilihan kendaraan yang sesuai dengan spesifikasi, sesuai kebutuhan. Awalnya, ia hanya melihat Vespa Primavera 125 dari warna hijau yang disebutnya lucu.
Menurutnya, warna ini terbilang unik. Tidak ditemukan pada kendaraan matic lain, seperti warna hijau pada BeAT, misalnya, yang cenderung nyentrik dan malah berujung norak untuk selera sebagian orang.
Namun masalahnya adalah, selain warna, Zira tidak memahami apa pun soal motor ini.
“Nggak ada [spesifikasi yang dipahami]. Karena warnanya aja gemes, warna ijo toska,” katanya.
Selain itu, dibandingkan menggunakan BeAT, Vespa jelas lebih bergengsi. Zira memperkirakan, kebanyakan teman-temannya saat ini menggunakan Vespa. Tentu, ada nilai sosial dari motor seharga Rp50 juta ini.
“40 persen kayaknya [teman-teman pakai motor ini],” kata Zira.
Karena itulah, Zira menambahkan Vespa ke dalam wishlist-nya. Ia juga memberitahu sang mama, kemudian mendapatkannya sebagai hadiah kelulusan kuliah.
@scooteris.sby Vespa Primavera 150cc Tosca 💙 ✔ Melayani pembelian cash / credit seluruh jawa timur ✔️ DP / Angsuran Ringan ✔️ Free Member Card ✔️ Free Test Ride ✔️ Melayani Home Service ✔️ Proses Aman, Cepat dan Terpercaya Beli Vespa, ingat *Vespa Satya* 🛵 💨 More Info : ☎️ 082338703544 (Admin) 📍Jl. Tegalsari no. 2G, Surabaya. #vespa #vespamatic #vespasurabaya #vespalovers #vespaindonesia #vespascooter ♬ Dj Jalan Pargoy X Goyang Jaypong – DJ MIFTAH
Setelah digunakan, Vespa ternyata tidak sekeren gengsinya
Setelah menggunakan Vespa selama lebih dari satu tahun, Zira merasa lebih nyaman dengan Vespa dibandingkan motor BeAT lamanya.
Ketika saya tanya alasannya, ia bilang, menjadi terbiasa dengan bodi motor Vespa yang lebih besar. Dibandingkan dengan Honda BeAT, Zira menyebut dirinya lebih leluasa menggunakan Vespa karena alasan ini.
“Sebenarnya nyaman-nyaman aja, cuma terlalu kecil tempat duduknya itu, rasanya kayak kecil banget gitu lho pake BeAT itu. Terus semenjak aku pakai Vespa, aku jadi kayak enak juga ya motor besar gitu,” kata Zira.
Selain itu, Zira merasa bagasi motor Vespa lebih lega sehingga bisa menyimpan lebih banyak barang sekaligus. Keunggulan ini, katanya, penting bagi pengendara motor yang harus membawa beberapa perlengkapan untuk berjaga-jaga.
Namun sayangnya, sebagai perempuan yang juga suka membawa beberapa printilan, Vespa tidak menyediakan cantolan untuknya menggantungkan barang. Untuk yang satu ini, Zira merasa BeAT jadi dapat satu poin plus.
“Tapi, plus-nya Vespa itu juga dia bagasinya spacious karena motornya lebih besar. Tapi, Vespa juga nggak ada cantolannya, nggak seenak BeAT,” ujarnya.
Dari kekurangan kecil ini, Zira baru menyadari kalau kendaraan ini tidak seunggul itu. Ada satu kekurangan yang juga dirasakannya selama menggunakan Vespa untuk bepergian sehari-hari, yaitu ketangguhan Vespa yang jauh dari BeAT lamanya.
Vespa tidak mampu menerjang jalanan berbatu, apalagi rusak. Motor ini lebih nyaman untuk pengguna urban saja, digunakan di jalanan perkotaan yang cenderung mulus.
“Kalau Vespa itu kalau di jalanan berbatu, nah itu agak kurang dipakai, karena kan kayaknya emang untuk perkotaan aja,” akunya.
Faktanya, Honda BeAT lebih nyaman dan murah
Nah, dibandingkan dengan Vespa yang hanya ramah jalanan perkotaan. Juga, tarikannya yang kurang mulus—agak mengejutkan saat digas, seperti penggambaran Zira. BeAT terasa lebih nyaman dalam penggunaan sehari-hari.
“Kalau BeAT itu plus-nya ya, ya itu kalau digas itu kayak nyaman-nyaman aja, Kalau tarikannya dia beda. Kalau misalnya Vespa itu dia langsung kayak ngegas gitu lho, kalau BeAT tuh kayak pelan, stabil transmisinya,” kata Zira.
Dengan tarikan gas yang lebih nyaman itu, sebetulnya tidak bisa dipungkiri bahwa BeAT menjadi motor matic yang cukup “ideal” dalam penggunaan standar.
Belum lagi, harga BeAT standar dipatok sekitar Rp18 juta. Harga ini dikalikan dua saja, belum mampu mencapai harga Vespa Matic milik Zira, Primavera 125, yang setidaknya merogoh Rp50 juta.
Sudah dijual dengan harga yang lebih miring, perawatannya juga lebih mudah. Zira sendiri mengakui mulai dari bahan bakar sampai dengan servis BeAT jauh berbeda dengan Vespa. Singkatnya, BeAT lebih tahan banting dan terima apa saja.
“Terus juga, plus-nya BeAT itu untuk bensin lebih murah karena BeAT itu biasanya Pertalite oke lah. Karena kan aku kalau Vespa harus Pertamax,” ungkapnya.
“Terus, dari segi perawatan juga kayaknya, kalau BeAT itu jarang servis deh. Maksudnya, kayak nggak usah terlalu sering-sering servis dan kalau misalnya nyari tempat servis itu mudah bisa servis di mana aja,” kata dia menambahkan.
Menurut Zira, keunggulan BeAT ini membuatnya terkesan tidak serewel Vespa yang harus lebih berhati-hati.
Bayangkan saja, dengan motor yang sudah dibanderol harga mahal sendiri, Zira tidak mungkin mau memberikan perlakuan cuma-cuma yang berisiko.
Bahan bakar, sampai servis, dilakukan di tempat khusus untuk alasan keamanan jangka panjang. Namun di sini juga, bisa disadari bahwa BeAT benar-benar menunjukkan ketangguhannya yang menerima diperhatikan seminim mungkin.
“Kalau Vespa kan kalau aku pribadi itu pengin tempat servisnya yang khusus, yang official, harganya juga mahal jadi perawatannya juga nggak sembarangan. Kalau misalnya kayak di bengkel-bengkel yang biasanya itu aku takut aja kayak ada nanti tiba-tiba kekurangan sparepart gitu,” akunya menjelaskan.
Sayangnya, dengan rasa lebih terbiasa dan kenyamanan yang sudah beralih kepada Vespa, Zira bilang, pilihannya tidak akan goyah untuk kembali pada BeAT yang dahulu menemaninya. Dalam berkendara pun, Zira akan lebih memilih Vespa, meski harus mengorbankan tangan selama berkendara, berisiko pegal linu sesampainya di tujuan.
“Tapi kalau travel agak jauh itu enakan pakai Vespa juga, soalnya dia lebih gede [bodi motor] walaupun tarikannya pegel,” ujarnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
