Dicap Hobi Kuno, Bikin Kue Jadi Jalan Gen Z Jakarta Tetap Waras dari Beban Kerja Usai Ibu Tiada

Pekerja muda hobi bikin kue

Ilustrasi - Pekerja muda hobi bikin kue (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bikin kue sering dibilang sebagai hobi kuno. Yang banyak melakukannya adalah orang dewasa yang berniat untuk mempersiapkan berbagai perayaan, mulai dari ulang tahun sampai Lebaran. Namun, beberapa tahun terakhir, kegiatan ini mulai menjadi hobi lebih banyak orang, tidak terkecuali gen Z.

Salah seorang pekerja kantoran di Jakarta Selatan, membagikan ceritanya yang menggunakan hobi ini sebagai pintu masuk dimensi yang tidak bisa disentuhnya lagi setelah kepergian seseorang paling berarti. Juga, untuk menghidupkan kembali hari-harinya dari beban kehilangan dan pekerjaan.

Sejarah bikin kue untuk merayakan kehidupan manusia

Membuat kue atau yang dikenal dengan istilah baking secara teknis berarti melakukan pemanggangan melalui oven kompor atau listrik, dan tidak menggunakan medium air dan minyak untuk memasak ini, menghasilkan makanan seperti kue atau pastry.

Menilik sejarah salah satu hasilnya, kue yang dalam bahasa Inggris disebut cake, secara etimologi, berasal dari kaka dalam bahasa kuno Norse yang digunakan oleh pendatang dari utara Jerman di wilayah Skandinavia pada abad ke-13.

Dilansir dari bakingworld, dahulu kue dibuat sebagai hidangan untuk memperingati ritual keagamaan. Namun seiring perkembangan, kue mulai disajikan secara khusus untuk memperingati hari bersejarah dalam kehidupan, seperti hari kelahiran, perkawinan, dan berbagai perayaan-perayaan manusia. 

Merayakan hari-hari bersama ibu dengan kue

Salsa (25) yang saat ini bekerja di salah satu media massa di Jakarta Selatan, bercerita bahwa dirinya memang sempat suka membuat kue saat pandemi Covid-19. Namun setelahnya, ia tidak memilih untuk melanjutkan, terkecuali ketika ibu mengajaknya. Ia bilang beralih lebih menyenangi memasak, sebab lidahnya cenderung menyukai makanan asin dan gurih.

“Hobi dulu, kalau aku kayak, aku seneng bikin kue. Tapi, pas Covid, aku berhenti gitu. Paling aku ikut ibuku, ibuku sering bikin kue gitu paling aku bantu-bantuin aja,” kata perempuan kelahiran tahun 2000 ini kepada Mojok, Senin (9/2/2026) malam.

Ibu, kata Salsa, suka membuat kue. Sering kali ibu meminta dirinya untuk menemani, membantu membuat adonan-adonan, yang membuat ia lebih akrab terhadap proses pembuatan kue itu sendiri. Salah satu kue yang diingatnya paling sering dibuat oleh sang ibu adalah bolu gulung, yang dalam pembuatannya juga membutuhkan bantuan Salsa.

“Almarhumah ibu aku tuh bikin bolunya tuh yang bolu panggang gitu lho, jadi kadang-kadang kalau misalkan dia bikin bolu itu, nanti minta bantuin aku buat ngolesin bagian dalamnya gitulah,” ujarnya.

Ketika itu, Salsa mengatakan, tidak ada perayaan khusus yang menjadi alasan dirinya dan ibu. Ia hanya mengikuti ibu yang suka mengeksplor masakan di dapur. Mungkin hari-hari itu, yang dirayakan bersama ibu adalah hampir seluruh momen yang bisa diciptakan.

Setelah ibu pergi, membuat kue jadi jalan mengenangnya

Pada 2024, ibu Salsa sudah tidak lagi bersamanya. Sebagaimana orang-orang yang mengalami kehilangan, Salsa tidak lagi melakukan hal-hal yang biasa dilakukan bersama ibu. Absennya ibu tidak hanya membuatnya mengubah rutinitas, tetapi juga berpengaruh pada hari-hari yang dijalaninya yang terasa kurang dan berbeda. Karena itu, dirinya juga dikenal sebagai pribadi yang tenang dan pendiam—sebagai tameng dirinya yang menanggung duka kala itu.

Barulah suatu hari, pada satu tahun setelahnya, Salsa mencoba untuk mengambil cooking class bersama teman-teman kantornya. Iseng, katanya, tapi itulah yang membuka sudut ruangan yang telah tertutup cukup lama dalam dirinya.

“Aku diajakin [teman kantor], ikut aja. Tapi, kayaknya aku mau ikut lagi sih,” katanya.

Dalam kelas itu, Salsa tidak terlalu mempersiapkan banyak hal. Sama seperti ketika membuatnya bersama ibu, ia mengikuti langkah-langkah dalam mengadon dengan didampingi oleh juru masak yang akan memastikan dirinya tidak melakukan kesalahan.

Kelas pertama, Salsa memilih membayarkan sekitar Rp280 ribu untuk dapat membuat golden stroop swirl cake, semacam bolu gulung yang menonjolkan kombinasi rasa karamel dan tekstur kacang pecan. Pilihan ini, tanpa disadari, adalah kue yang sering dibuat mendiang ibunya. 

Setelah mengikuti kelas lagi dan lagi dengan pilihan berbeda, Salsa menyadari alasannya membuat kue bukan hanya untuk mengisi waktu luang di sela akhir pekan, bahkan akhir pekan dapat menjadi waktu yang amat berarti bagi pekerja Jakarta dengan beban kerja yang terkadang tidak masuk akal.

“Mungkin, ini cara aku buat ngenang ibu lagi. Soalnya ibu kan yang suka baking, ibu suka bikin-bikin gitu, ibu juga yang suka ngajak buat ditemenin,” katanya.

Kesempatan untuk mengunjungi kembali kenangan bersama ibu yang terwujud melalui pembuatan kue menghidupkan hari-hari yang dihadapinya. Bukan hanya rasa bahwa masih ada sosok lengkap orang tua di sisinya, penguatan ini juga mendorongnya untuk lebih hidup dalam menjalani hari sebagai pekerja.

Bukan sekadar bikin kue, tetapi penguat ikatan ibu-anak

Yang dialami Salsa, dalam istilah baking mungkin dapat disandingkan dengan sifting. Urusan tepung dan bubuk yang harus diayak untuk menghilangkan gumpalan-gumpalan dalam bubuk, aktivitas yang beberapa kali dijalaninya bersama ibu itu membuatnya melupakan bahwa ia tidak terlalu menyukainya. Sebab, ia menyukai kebersamaan dari waktu yang dihabiskan.

Northern Healthcare, penyedia layanan hidup independen bagi individu dengan dukungan klinis karena diagnosis kesehatan mental di Inggris, mengatakan, membuat kue dapat menguatkan hubungan keluarga. Melakukannya bersama dengan anggota keluarga menciptakan pengalaman, serta bonding terhadap satu sama lain.

Kelly Markham, mengaku mengalami hal serupa melalui baking. Ibu satu anak itu tidak menyukai baking, tetapi ia menyukai banana nut bread yang selalu dibuat ibunya setiap natal—demikian juga anaknya.

Saking sukanya, anak Kelly meminta banana nut bread yang tidak bisa dibuatnya sehingga harus menghubungi sang ibu. Saat itu, ibunya bilang sudah memberikan resep, tetapi siapapun tahu rasanya tidak akan sama seperti yang dimasak dengan tangan ibunya sendiri.

“Tapi Ma, ya nggak akan sama,” kata Kelly dalam sambungan telepon kepada ibunya, dikutip dari The Esposito Institute.

Ia berpikir untuk akhirnya ikut membuat kue itu bersama ibunya. Menurutnya, ibunya menjadi sangat senang sampai mengajaknya untuk mengikuti cooking class bersama—yang sebenarnya Kelly jelas tidak akan ingin mengikuti—tetapi kehadiran ibu mendorong Kelly untuk melakukannya.

Jadi hobi baru, lepas stres dan beban kerja gen Z

Memerhatikan cerita keduanya, ibu adalah sosok yang memperkenalkan membuat kue secara tidak langsung melalui kue-kue yang dihasilkannya. Hal ini kiranya sebab kegiatannya dapat dikatakan sebagai “grandma hobbies” atau hobi orang tua. 

Namun, neuropsikolog dari Henry Ford Health, Jannel Phillips, menjelaskan bahwa melakukan kegiatan ini sebagai hobi memiliki berbagai manfaat. Selain menciptakan keterhubungan sebagaimana yang disaksikan dari Salsa dan Kelly, membuat kue bisa membantu melepas beban.

Bagi orang-orang yang telah lelah menghabiskan waktunya untuk bekerja, juga faktor usia diri yang berada dalam rentang 20-an dengan beban emosional yang tidak bisa lepas, membuat kue dapat diandalkan sebagai pelepas beban pikiran. Itulah yang kiranya dilakukan Salsa, dari pengamatan Phillips.

“Melakukan aktivitas berulang dan berirama dapat menenangkan. [Aktivitas] ini memungkinkan untuk fokus pada momen saat ini, daripada khawatir atau stres,” kata Phillips, dikutip dari situs Henry Ford Health.

Hingga hari ini, membuat kue semakin marak digemari sebagai sebuah hobi. Hadirnya kelas-kelas yang dapat dilakukan bersama pendamping yang memastikan resep dan eksekusi berjalan selaras, serta hasil masakan yang dapat dibawa pulang mempermudah siapa saja yang berniat mencobanya. Lalu, bagi mereka yang telah mencicipi pengalaman ini sekali, mengulanginya lagi terasa tetap menyenangkan.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Maraknya Fotografer Pelari di Jogja Bukan Perkara Hobi dan Cuan Semata, Pahamilah Batas Etikanya dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version