Punya Gazebo di Halaman: Meski Rumah Tak Megah tapi Bikin Betah karena Jadi Spot Terbaik Relaksasi dan Macam-macam Fungsi

Punya rumah dengan gazebo di halaman: tempat terbaik untuk me time hingga deep talk MOJOK.CO

Ilustrasi - Punya rumah dengan gazebo di halaman: tempat terbaik untuk me time hingga deep talk. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Rumah Afian (26) di sekitaran Nganjuk kota, Jawa Timur, memang bukan tipe rumah mewah—jika standar rumah mewah adalah bertingkat dua atau dengan desain estetik kekinian. Tidak luas pula. Tapi ada satu hal yang membuat rumahnya terasa istimewa: gazebo di halaman depan rumahnya. 

Dulu di masa mahasiswa, saya beberapa kali menginap di rumah Afian. Terutama jika saya sedang dalam perjalanan balik ke arah Surabaya dari Magetan, Caruban, dan sekitarnya. 

Afian lantas akan menjamu saya di gazebo halaman rumahnya. Gazebo berbahan kayu glugu yang sebenarnya tidak besar-besar amat. Tapi muat lah jika untuk menampung saya dan satu teman lain tidur. 

Alih-alih menginap di dalam rumah, saya dan teman saya memang memilih tidur di gazebo. Bukan semata karena sungkan, tapi karena tidur di gazebo memang seenak itu disertai semilir angin. 

Rumah itu sebenarnya rumah orang tua Afian. Akan tetapi, karena ia belum menikah, sampai saat ini ia masih tinggal di sana. Toh tidak mudah pula bagi Afian untuk keluar dari rumah tersebut—-sudah terlalu nyaman.

“Gazebo itu kayaknya baru ada pas aku masuk SMA. Tapi sejak ada, memang jadi spot favorit masing-masing keluarga,” katanya saat berkontak lagi dengan saya baru-baru ini. 

Gazebo di halaman rumah: tempat menyambut pagi dan sore terbaik

Meski sudah terpaut jarak, saya dan Afian masih terus tersambung hingga sekarang. Sesekali pun kami masih sempat bertemu jika sedang sama-sama di Surabaya. 

Tidak jarang, di jam-jam setengah 6 pagi, Afian mengirimi saya foto secangkir kopi yang ia seruput di gazebo rumah dengan keterangan: Urip kok syahdune ngene (Hidup kok syahdu begini). Begitulah kebiasaan Afian setiap pagi, sesaat sebelum berangkat kerja di sebuah lembaga pemerintah daerah. 

Saat baru-baru ini saya minta: Coba paparkan enaknya rumah dengan gazebo di halaman, yang ia sebut di urutan pertama adalah: gazebo di halaman rumah menjadi tempat tersyahdu menyambut pagi dan sore hari. 

“Sebelum berangkat kerja, pagi-pagi to, udud dulu di gazebo sambil ngopag. Ibaratnya menyiapkan energi untuk bergelut dengan birokrasi. Terus berangkat. Terus sore hari, rebahan sambil sebat-sebat sebelum mandi,” bebernya. 

Belum kalau di hari libur. Jika tidak sedang ada agenda keluar, maka Afian bisa menghabiskan banyak waktunya di gazebo halaman rumah. Apalagi kalau siang hari. Tidur di gazebo terasa silir-silir, bikin tidur terasa lebih nyenyak. 

“Kalau orang bilang, ngopi pagi atau sore di teras rumah kan nikmat. Sambil ngelamun. Nah, di gazebo lebih nikmat, karena rasanya seperti ada sebuah ruang tersendiri,” sambung Afian. 

Tempat relaksasi di malam hari

Di malam hari, gazebo di halaman rumah Afian punya beragam fungsi. Afian sering memfungsikan gazebonya sebagai tempat untuk me time. 

Selepas isya, jika tidak sedang ada tamu, maka ia akan menenteng kopi, rokok, buku, ponsel, dan bantal ke gazebo. 

“Jadi tempat buat relaksasi lah. Karena kalau di kamar kan kadang kala juga bosen. Kalau di gazebo, suasananya alami. Ada suara jangkrik lah, gesekan daun lah,” kata Afian. 

Seringkali Afian ingin me time di gazebo dengan membaca buku. Namun, karena godaan suasana, biasanya ia lebih cepat menutup bukunya, menata bantal di lantai kayu gazebo, lantas rebahan sambil scroll-scroll media sosial. 

Melamun sembari mengisap berbatang-batang rokok pun tidak masalah. Pokoknya kegiatan apapun yang bisa membuatnya rileks sejenak sebelum esok harinya bergelut lagi dengan tenggat pekerjaan. 

Sejak dulu Afian selalu begitu. Sering ia membuat story di WhatsApp maupun Instagram: menunjukkan aktivitas malamnya di atas kayu glugu. Teramat sering dengan keterangan yang memancing rasa gemas dan iri: Urip kok syahdune ngene. 

Gazebo di halaman rumah: alternatif sekadar kumpul atau deep talk

Kecenderungan tamu-tamu yang datang ke rumah Afian, terutama kalangan laki-laki, pasti langsung njujuk gazebo kendati sudah dipersilakan masuk ke dalam rumah. Saya salah satunya. 

Alasan para tamu, kata Afian, macam-macam. Entah karena pengin nyari angin silir lah, pengin sebat leluasa lah, dan lain-lain. Tapi rata-rata selalu bilang: “Lebih enak nyantai di sini.” 

Kata Afian, dulu bapaknya membuat gazebo sebenarnya hanya untuk ruang bersantai keluarga. Pada akhirnya memang demikian. Tidak jarang Afian, orang tuanya, dan adiknya kumpul-kumpul di gazebo. Entah untuk saling bercerita atau makan bersama. 

“Tapi akhirnya memang jadi alternatif kumpul-kumpul. Tamu datang ya jagongan-nya di situ. Saudara datang ngumpulnya ya lebih suka di situ,” ungkap Afian. 

Sementara jika teman dekat yang datang, maka yang terjadi bisa deep talk yang amat panjang. Dari selepas Isya sampai lewat tengah malam. 

Berapa biaya untuk menebus kesyahduan itu? 

Gazebo di halaman rumah Afian berukuran 3×3 meter. Ia tidak tahu persis berapa biaya bapaknya membangun dulu. 

Namun, jika merujuk pasaran umum hari ini, ukuran tersebut dibanderol dengan harga Rp12 jutaan-Rp15 jutaan. Kalau mau lebih murah, maka bisa ambil di ukuran 2×2 meter atau 2×2,5 meter dengan kisaran harga Rp7 jutaan-Rp11 jutaan.

Harga tentu saja bisa berubah (lebih mahal) menyesuaikan komponen-komponen lain seperti jenis atap, kualitas glugu, dan biaya pengiriman. 

“Rumahku memang nggak gede, tapi karena ada gazebo ini justru sudah terasa paripurna. Ya walaupun kalau kata orang, rumah itu terasa paripurna kalau udah ada garasinya (garasi berisi mobil),” tutur Afian. 

“Kan tolok ukur sukses kelas menengah itu kalau di rumahnya terparkir mobil,” tutupnya dengan tawa. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Punya Rumah dengan Halaman Luas di Desa Kerap Disalahpahami, Dinikmati Tetangga tapi Jadi Sumber Konflik Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version