ADVERTISEMENT

Drama Korea: Menjadi Penyelamat Mental bagi Web Developer Ketika Beban Kerja Menumpuk

drama korea

Bagi sebagian orang, pekerjaan di depan komputer mungkin dianggap sudah cukup menghibur. Namun, anggapan itu tidak berlaku bagi Dodo (34). Sehari-hari bekerja sebagai web developer, Dodo justru memilih drama Korea sebagai pelarian ketika pekerjaan mulai menumpuk.

***

Bukan sekadar menonton satu-dua episode sebelum tidur. Kalau sedang benar-benar penat, Dodo bisa menyisihkan satu hari penuh untuk mengkhatamkan satu serial drama Korea.

“Ketika menonton drakor, rasanya saya lebih bisa fokus,” ujar Dodo kepada saya, Jumat (18/9/2026).

Bagi Dodo, drakor bukan cuma tontonan. Ia menjadi ruang untuk berhenti sebentar dari pekerjaan yang sehari-hari menuntutnya terus berpikir.

Lima hard disk isinya drama Korea semua

Hubungan Dodo dengan drama Korea ternyata bukan baru dimulai ketika berbagai platform streaming bermunculan. Ia sudah menonton drakor sejak 2011.

Pada masa ketika layanan streaming belum semudah sekarang, Dodo punya cara sendiri untuk menyimpan koleksi tontonan. Ia memiliki lima hard disk dengan kapasitas masing-masing 1 terabyte. Isinya? Drama Korea semua.

“Dulu kan belum ada platform streaming seperti sekarang,” kata Dodo.

Ia kemudian bercerita bahwa salah satu drakor yang pertama ia sikat melalui platform streaming adalah Love Story in Harvard. Dari sana, kebiasaan menonton drama Korea terus berjalan sampai sekarang.

Namun, Dodo bukan tipe penonton yang otomatis tertarik dengan segala hal yang berhubungan dengan Korea. Ia tidak terlalu mengikuti K-pop ataupun konten food vlogger Korea.

“Meskipun suka drakor, tapi saya tidak begitu tertarik dengan K-pop atau food vlogger Korea gitu, sih,” ujarnya.

Yang membuatnya bertahan justru cerita.

Drama Korea sebagai penawar kepala penuh

Menjadi web developer membuat Dodo akrab dengan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi. Ketika kode tidak berjalan sebagaimana mestinya atau bug belum juga ditemukan, pekerjaan bisa terasa menguras pikiran.

Dalam situasi seperti itu, Dodo punya kanal untuk mengalihkan kepalanya sejenak.

“Biasanya kalau sudah jenuh nge-coding atau mumet soal web bug, saya nonton drakor,” katanya.

Ia biasanya memilih genre berdasarkan kondisi pikirannya. Drama Korea bergenre aksi dan asmara menjadi pilihan ketika sedang stres dan membutuhkan penyegaran. Sementara genre teka-teki justru lebih sering ia simpan untuk waktu senggang karena membutuhkan perhatian lebih.

“Drakor yang genre aksi dan cinta-cintaan itu saya tonton ketika memang stres dan butuh sedikit penyegaran, sedangkan kalau teka-teki ketika ya pas luang saja,” ujar Dodo.

Menariknya, bagi Dodo, menonton bukan berarti membuat pikirannya semakin malas bekerja. Ia justru merasa setelah memberikan jeda, konsentrasinya bisa kembali.

Karena itu, satu hari untuk menonton drakor tidak selalu ia anggap sebagai pemborosan waktu. Ada kalanya ia memang sengaja berhenti mengerjakan pekerjaan untuk memberi ruang bagi kepalanya beristirahat.

Extraordinary Attorney Woo dan kekaguman pada sutradara yang bercerita

Ketika saya bertanya drakor apa yang menurutnya layak ditonton setidaknya sekali, Dodo langsung menyebut Extraordinary Attorney Woo.

Serial Korea yang dirilis pada 2022 ini mengisahkan Woo Young-woo, pengacara muda yang berada dalam spektrum autisme dan bekerja sebagai pengacara pemula di sebuah firma hukum. 

Ceritanya berkembang melalui kasus-kasus yang ia tangani sekaligus persoalan kehidupan pribadi dan relasinya dengan orang-orang di sekitarnya.

Bagi Dodo, daya tarik serial itu bukan sekadar kisah pengacaranya.

“Yang membuat saya bertanya-tanya dan penasaran terus menjadi kagum adalah bagaimana sutradara ini bisa membuat alur cerita yang sangat menggugah,” katanya.

Ia memang lebih tertarik pada bagaimana sebuah cerita dibangun. Cara sebuah adegan disusun, bagaimana konflik dikembangkan, sampai bagaimana penonton dibuat penasaran menjadi hal yang ia perhatikan ketika menonton.

Netflix sendiri mencatat bahwa serial tersebut berbeda dari drama hukum yang hanya mengandalkan persaingan dan situasi ekstrem. Cerita justru banyak bergerak melalui hubungan antarkarakter serta detail dari kasus yang ditangani Woo Young-woo.

Buat Dodo, bagian seperti itulah yang membuat drakor menarik. Ia tidak hanya sedang mencari tontonan untuk menghabiskan waktu, tetapi juga menikmati bagaimana pembuat cerita merancang sebuah cerita sampai penontonnya ingin terus melihat episode berikutnya.

Selain membaca Al-Quran, drakor jadi ruang rekreasi

Ada hal lain yang membuat kebiasaan Dodo menonton drakor sedikit berbeda. Ia tidak menempatkannya sebagai satu-satunya cara untuk melepas penat.

Selain membaca Al-Quran, menonton drama Korea menjadi salah satu caranya mencari jeda ketika pikiran sedang penuh.

Bagi seorang web developer, pilihan untuk menghilangkan stres memang bisa bermacam-macam. Ada yang bermain gim, nongkrong, olahraga, atau kembali mengerjakan hobi yang jauh dari pekerjaan.

Dodo memilih layar yang berbeda dari layar pekerjaannya. Ia setiap hari berhadapan dengan komputer untuk bekerja, tetapi ketika ingin beristirahat dari pekerjaan, ia justru kembali menatap layar untuk menyaksikan cerita orang Korea.

Bedanya, kali ini ia tidak sedang mencari bug. Ia sedang mencari jeda.

“Kalau saya sih, drakor adalah kanal untuk melepas stres,” ujarnya.

Tak harus K-Pop, yang penting ceritanya

Dodo sudah sekitar 15 tahun mengenal drama Korea. Lima hard disk berisi koleksi drakor menjadi bukti bahwa kebiasaannya bukan sekadar tren sesaat.

Namun, ia tetap membatasi kecintaannya pada cerita. Tidak otomatis K-pop, makanan Korea, atau konten lain dari Korea ikut menjadi kegemarannya.

Baginya, drakor punya fungsi yang lebih sederhana: menjadi ruang untuk berhenti ketika pekerjaan terlalu penuh.

Ada kalanya ia menonton aksi. Ada kalanya memilih kisah asmara. Kalau sedang santai dan ingin berpikir lebih banyak, genre teka-teki menjadi pilihan.

Dan setelah semua urusan pekerjaan selesai, ia tetap punya satu selera musik yang tidak berubah: dangdut Pantura.

“Soal musik tetap dangdut Pantura, no debat,” katanya.

Drama Korea boleh menjadi penyelamat ketika bug menumpuk. Tetapi untuk urusan musik, Dodo rupanya sudah punya pendirian sendiri. Dan bagi Dodo, drama Korea adalah suaka untuk para web developer yang stres.

“Drakor adalah hak segala bangsa!” tutupnya.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Mahasiswa S2 UGM Dicap Buang-buang Waktu karena Suka K-Pop, Malah Bisa ke Luar Negeri berkat Hobi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.

Exit mobile version