Berbahasa ngapak di Jogja ternyata berat dan memalukan. Dulu dijauhi banyak orang karena ngomong pakai bahasa ngapak tapi sekarang malah dianggap teman hanya karena fasih berbahasa Inggris.
***
“Nyong kencot.” Begitu kata Syafiq (28), kawan saya, ketika mengucapkan kalimat itu, saya langsung tahu: logat Banjarnegara masih melekat kuat pada dirinya. Sudah sembilan tahun ia hidup di Jogja. Selama itu, ia kuliah, berteman, mencari pekerjaan, dan menjalani kehidupan sebagai perantau. Namun, satu hal dari rumah yang tidak ia tinggalkan: bahasa ngapak.
Saya bahkan ikut terbawa logatnya ketika berbicara. Ada beberapa kosakata Ngapak yang sekarang terasa biasa bagi saya karena terlalu sering mendengarnya dari Syafiq.
Bagi saya, bahasa ngapak merupakan bagian dari keakraban. Bagi Syafiq, bahasa itu pernah menjadi beban yang ia bawa dari Banjarnegara ke Jogja.
Ia tidak sekadar membawa pakaian, barang, dan keperluan kuliah ketika merantau. Ia juga membawa cara berbicara yang sejak kecil membentuk dirinya. Sayangnya, tidak semua orang menerima dialek dan logatnya dengan baik.
Ketika bahasa Ngapak membuatnya insecure
Pada awal masa kuliah, Syafiq pernah mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari beberapa kawan. Salah satunya mengejek logatnya.
“Orang gagah kok bahasanya ngapak, huu ndeso,” ujar Syafiq mengenang ucapan kawannya, Minggu (20/9/2026).
Ia masih mengingat kalimat tersebut. Menurutnya, ucapan itu memang terdengar seperti candaan, tetapi membuatnya sakit hati.
Bahasa yang selama ini ia gunakan bersama keluarga dan orang-orang di kampung tiba-tiba menjadi alasan orang lain merendahkannya. Logat Banjarnegara yang semula hadir secara alamiah dalam percakapan berubah menjadi sesuatu yang harus ia pikirkan sebelum keluar dari mulut.
Hampir dua tahun Syafiq merasa insecure dengan bahasa ngapak. Ketika berkumpul dengan teman-teman, ia lebih berhati-hati berbicara. Ia tidak selalu berani menggunakan kosakata khas daerahnya. Ada kekhawatiran bahwa orang lain akan kembali menganggapnya ndeso.
“Dulu saya mikir, kalau ngomong ngapak nanti diejek lagi. Sempat beberapa lama bahkan sampai nahan buat nggak ngomong ngapak kalau lagi di luar sirkel kita,” jawabnya.
Di situlah beban yang dibawa Syafiq sebagai anak Banjarnegara terasa. Ia tidak sedang membawa sesuatu yang bisa ia letakkan di kamar kos atau tinggalkan ketika masuk kampus. Logat itu melekat pada tubuhnya. Ia hadir setiap kali Syafiq berbicara.
Bahasa ngapak menjadi penanda asal-usul yang tidak mudah ia sembunyikan, sekaligus sesuatu yang sempat membuatnya merasa harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Bahasa ngapak yang tak hilang setelah sembilan tahun merantau
Bahasa ngapak merupakan sebutan yang umum digunakan untuk bahasa Jawa dialek Banyumasan. Dialek ini berkembang di wilayah yang mencakup Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan sejumlah daerah sekitarnya.
Salah satu ciri yang kerap dikenali dari dialek Banyumasan ialah pelafalan bunyi vokal yang terdengar berbeda dari bahasa Jawa standar. Kosakata dan intonasinya juga memiliki kekhasan tersendiri.
Bagi Syafiq, kekhasan itu bukan hasil belajar dari buku. Ia tumbuh bersama bahasa tersebut. Ia berasal dari Banjarnegara. Sejak kecil, bahasa ngapak menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Ketika pindah ke Jogja, ia membawa kebiasaan itu ke lingkungan yang lebih beragam. Sembilan tahun hidup di Jogja tidak otomatis menghapus logat tersebut.
“Kalau sekarang sudah biasa. Mau ngomong ngapak ya ngomong saja,” ujar Syafiq.
Namun, ia tidak selalu sampai pada tahap menerima itu dengan mudah. Ada proses panjang sebelum ia berani kembali berbicara tanpa terlalu memikirkan penilaian orang lain.
Menurutnya, pertemanan menjadi salah satu hal yang membantunya. Ketika mulai akrab dengan saya dan beberapa kawan lain, Syafiq merasa lebih bebas menggunakan bahasa ngapak. Ia tidak lagi harus menyaring setiap kata hanya karena takut dianggap berbeda.
“Kalau sama kalian saya akhirnya berani ngomong ngapak lagi,” katanya.
Bagi Syafiq, penerimaan dari teman-teman membuatnya tidak perlu memilih antara menjadi orang Banjarnegara atau menjadi bagian dari lingkungan Jogja. Ia bisa menjalani keduanya sekaligus.
Belajar bahasa Inggris, tetap membawa bahasa Ngapak
Syafiq kemudian menempuh kuliah Pendidikan Bahasa Inggris. Ia semakin fasih menggunakan bahasa Inggris, termasuk setelah menyelesaikan studi.
Kemampuan itu membuka pekerjaan sampingan sebagai penerjemah. Ia menerima pekerjaan menerjemahkan tulisan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, termasuk tugas dan skripsi. Ada ironi dalam perjalanan tersebut.
Bahasa Inggris, yang ia pelajari melalui pendidikan formal, menjadi keahlian yang menghasilkan uang. Sementara itu, bahasa ngapak, yang ia peroleh sejak kecil, pernah membuatnya merasa rendah diri.
Namun, Syafiq tidak menganggap keduanya harus saling menggantikan. Ia bisa mengerjakan terjemahan ke bahasa Inggris, lalu kembali menggunakan bahasa ngapak ketika berbicara dengan kawan dari daerah asalnya.
“Ya bahasa ngapak tetap saya pakai. Kan itu bahasa saya dari dulu,” ujarnya.
Saya bertanya, “Kalau harus memilih, kamu lebih nyaman ngomong bahasa Indonesia atau ngapak?”
Syafiq tertawa sebelum menjawab.
“Ya tergantung lawan bicaranya. Kalau sama orang Banjarnegara, ya ngapak.”
Jawaban itu sederhana. Tetapi, bagi Syafiq, bahasa ngapak bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa itu menyimpan kebiasaan, lingkungan, dan ingatan tentang tempat ia tumbuh.
Ketika mereka yang mengejek ternyata membutuhkan juga
Kenangan tentang ejekan masa awal kuliah tidak hilang begitu saja. Syafiq masih mengingat orang-orang yang pernah meremehkan logatnya. Ironisnya, setelah ia menguasai bahasa Inggris dan menerima pekerjaan penerjemahan, beberapa kawan yang dulu mengejeknya justru datang meminta bantuan.
Mereka membutuhkan keahlian Syafiq untuk menerjemahkan tulisan ke bahasa Inggris. Syafiq tentu mengenali mereka.
“Kalau dendam sih tidak sebenarnya, cuma karena mereka menghina dan menjauhi saya, sekarang malah pada datang minta tolong, mana pakai nawar jasaku lagi, kan sialan,” ujarnya sambil tertawa.
Ada dongkol dalam kalimatnya. Ada pula kelucuan yang membuat cerita lama itu tidak sepenuhnya menjadi luka. Dulu, Syafiq merasa harus menjaga bahasa ngapaknya agar tidak menjadi bahan ejekan. Kini, orang-orang yang pernah merendahkan cara bicaranya justru membutuhkan kemampuan bahasa yang ia bangun selama kuliah.
Namun, ia tidak menganggap kemampuan bahasa Inggris membuat dirinya lebih berharga daripada ketika ia hanya berbicara bahasa ngapak. Bagi Syafiq, keduanya adalah bagian dari dirinya. Bahasa Inggris memberinya pekerjaan. Bahasa ngapak mengingatkannya pada rumah.
“Saya enggak bisa mengubah dari mana saya berasal,” katanya.
Saya tertawa mendengar ucapannya. Wajah Syafiq yang kadang terlihat serius memang terasa kontras dengan logat khas Banjarnegara yang keluar ketika ia berbicara. Tetapi, justru di situlah saya melihat sesuatu yang dulu tidak selalu ia sadari: logat itu tidak pernah mengurangi dirinya sebagai manusia.
Syafiq sudah sembilan tahun tinggal di Jogja. Ia telah melewati kuliah, pertemanan, pekerjaan, dan berbagai tuntutan hidup sebagai perantau. Ia juga pernah merasakan bagaimana identitas daerah membuat seseorang harus berjuang untuk diterima.
Kini, ia tidak lagi menganggap bahasa ngapak sebagai sesuatu yang perlu disembunyikan. Ia tetap membawa Banjarnegara dalam percakapannya. Sesekali logat itu terdengar lucu bagi orang yang tidak terbiasa. Namun, bagi Syafiq, bahasa ngapak adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak perlu ia tinggalkan hanya demi terlihat lebih modern.
Ia boleh fasih berbahasa Inggris. Tetapi, ketika berbicara dengan saya, ia tetap Syafiq yang berkata, “Nyong kencot.”
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Omong Kosong Dangdut Miskin Tema dan Kamu Perlu Tahu Karya Monumental Dangdut Ngapak atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.