Capek menganggur membuat seorang lulusan Bimbingan Konseling (BK) melamar menjadi manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Namun, perjalanan awal menjadi manajer Kopdes pun tidak mudah bagi pemula di dunia kerja sepertinya, dari gaji dirapel hingga target omzet yang memusingkan.
***
Lazimnya lulusan dari jurusan Bimbingan Konseling (BK) bekerja di lingkup sekolahan. Secara, gelar yang disandang adalah S.Pd.
Namun, untuk mendaftar sebagai guru BK saja, ternyata tidak mudah bagi Anggrek*(24), bukan nama asli. (Narasumber meminta nama disamarkan untuk alasan keselamatan). Padahal selama empat tahun menempuh studi di dunia konseling, bayangannya setelah lulus kuliah tidak akan jauh-jauh jadi seorang guru BK. Teori-teori konseling, ilmu psikologi perkembangan anak, sampai kiat-kiat menenangkan seorang remaja puber sudah hafal di luar kepala.
Akan tetapi, setelah setahun lulus dari perguruan tinggi pada Desember 2025 lalu, Anggrek mengaku amat kesulitan mendapat gaji pertamanya. Ia bukannya hanya mengandalkan lowongan di bidang guru BK. Ia bahkan sampai apply pekerjaan di luar bidang jurusan kuliahnya.
“Udah lamar kerja (guru BK) sana-sini. Dari SD, ke SMP, sampai SMA. Bahkan ngelamar sampai keluar kota. Semua udah kucoba,” katanya ke Mojok, Jumat, (09/10/2026).
“Ya, karena, udah lama banget nganggur. Nggak ada pemasukan sama sekali. Karena terpaksa harus kerja, aku daftar di luar ilmu yang aku kuasai, kayak buruh pabrik sampai jadi admin,” imbuhnya lesu.
Daftar manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih karena capek nganggur
Jelas saja situasi tersebut membuat Anggrek nyaris putus asa. Sampai akhirnya, di tengah keputusasaannya, ia menemukan lowongan sebagai manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih alias KDMP.
Pada medio bulan April 2026, pemerintah membuka 35.476 lowongan kerja sebagai manajer di Kopdes Merah Putih. Lowongan tersebut juga membuka peluang bagi fresh graduate yang tengah membutuhkan pekerjaan.
Saat mendapati informasi lowongan tersebut, Anggrek nekat saja mendaftar, meski ia menyadari kalau ia masih minim ilmu manajerial.
“Alhamdulillah, lamaran terakhir (manajer Kopdes Merah Putih) keterima. Dari 600.000-an orang yang daftar, aku lolos seleksi. Tapi, aku harus ikut pelatihan dulu selama kurang lebih 45 hari,” tutur Anggrek.
“Ya kemarin waktu pendidikan/pelatihan juga dikasih bekal ilmu buat mengelola Koperasi Desa, tapi porsinya lebih banyak di latihan fisik,” tambahnya.
Awalnya Anggrek merasa senang betul. Yang penting tidak nganggur lah. Namun, kebahagiaannya tidak berlangsung lama karena kondisi Kopdes Merah Putih yang kemudian ia hadapi.
Lika-liku jadi manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih: digantung, gaji dirapel, hingga omzet memusingkan
Setelah menjalani masa pendidikan, ternyata Anggrek tidak langsung bisa bekerja. Ia masih harus nganggur lagi, menunggu informasi perihal penempatan. Anggrek menyebutnya sebagai masa-masa “digantung”.
Setelah kurang lebih dua bulan digantung, Anggrek akhirnya mendapat informasi resmi bahwa ia ditempatkan di Kopdes Merah Putih di sebuah desa di Jawa Barat.
Hanya saja, masalah tidak serta-merta selesai. Sebab, karena stock barang yang belum cukup, alhasil membuat Kopdes Merah Putih tempatnya bekerja tidak kunjung buka, setidaknya sampai saat ia berbagi cerita ini.
“Karena belum ada barangnya, arahan dari Babinsa (semacam mentor), sementara aku disuruh buat perkenalan dulu ke warga-warga desa setempat,” beber Anggrek.
“Sambil nunggu barang lengkap, sekarang disuruh bantuin buat jadi manajer pembantuan di Kopdes yang sudah buka,” imbuhnya.
Tetapi itu pun belum menyelesaikan masalah yang Anggrek hadapi. Pasalnya, meski sudah mulai aktif bekerja (diperbantukan di Kopdes Merah Putih lain yang sudah buka), sampai sekarang upah yang seharusnya ia dapat tak kunjung diterima.
“Gaji pertama yang harusnya dikasih bulan ini (Oktober) katanya bakal dirapel di bulan depan (November),” tuturnya. Tidak pelak, situasi Anggrek saat ini pun masih belum jauh berbeda dari masa menganggur sebelumnya. Masih dalam ketidakpastian. Setiap saat selalu muncul benih-benih keputusasaan.
Target omzet dan jam kerja yang bikin down dan pusing, tapi harus tetap dijalani
Di bawah pengawasan Menteri Koordinator Bidang Pangan, tugas seorang manajer Koperasi Desa Merah Putih yang terdaftar sebagai pegawai BUMN PT. Agrinas Pangan Nusantara, kurang lebih berada di ruang lingkup operasional koperasi. Mengawasi jalannya koperasi dan bertanggung jawab untuk melaporkan perkembangan usaha kepada pengurus.
Setelah Surat Keputusan (SK) penugasaan turun pada Anggrek per 1 Oktober 2026, kini Anggrek harus menghadapi kenyataan betapa berat tugas-tugas yang harus ia jalani sebagai manajer Kopdes Merah Putih nanti.
“Dalam sebulan, koperasi harus dapat omzet minimal Rp40 juta-Rp50 juta,” jelas Anggrek. “Selain itu, di SK-nya dalam seminggu harus 40 jam kerja dan hari Sabtu-Minggu nggak boleh libur.”
Melihat itu, Anggrek malah menjadi down. Pesimis apakah ia bakal mampu memenuhi target omzet tersebut atau tidak. Tapi ya bagaimana lagi, mau bagaimanapun ia harus bekerja. Toh ia yakin, pasti nanti tiba waktunya gajinya akan benar-benar turun. Daripada menganggur dan nihil pemasukan.
Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Tidar (Untidar) Magelang periode Agustus-November 2026.
Penulis: Al Afnan Mahatta
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan