ADVERTISEMENT

Cetak Buku Yasin buat Tahlilan Pakai Foto Almarhum Terkesan Aneh dan Creepy, Tapi Sangat Berharga bagi Keluarga

Cetak buku Yasin dan tahlil untuk 40 hari tahlilan dengan foto almarhum/almarhumah dicap anah padahal punya nilai berharga MOJOK.CO

Cetak buku Yasin dan tahlil untuk tahlilan 40 hari dengan foto almarhum/almarhumah memang terkesan “aneh” bagi sebagian orang. Namun buku Yasin yang dibagi-bagikan tersebut memiliki nilai tidak kasat mata yang sangat berharga bagi pihak keluarga yang mencetaknya. 

***

Cetak buku Yasin untuk tahlilan menjadi fenomena yang jamak ditemukan di tengah masyarakat kita. Terutama di pulau Jawa dengan tradisi tahlilan yang masih sangat kuat.

Pembagian cetakan buku Yasin tahlilan tersebut umumnya dilakukan pada peringatan kematian setelah melewati tujuh hari pertama. Misalnya, di momen tahlilan peringatan 40 hari kewafatan atau 100 hari kewafatan seseorang. 

Salah satu desa yang masih erat dengan tradisi cetak buku Yasin misalnya adalah desa Sabirin (27) di Jombang, Jawa Timur. Hanya memang, katanya, biasanya orang-orang dengan ekonomi bagus lah yang melakukannya. Tidak setiap warga menyediakan. 

“Biasanya jadi seperti souvenir lah, diberikan ke tamu tahlilan, boleh dibawa pulang,” ujar Sabirin, Rabu (7/10/2026). 

“Kalau hard cover, kayaknya aku belum pernah nemu. Seringnya soft cover. Yang pasti, mesti ada foto almarhum/almarhumah,” sambungnya.

Beberapa orang, terutama di sekitar saya, menilai bahwa memasang foto terkesan agak aneh dan ganjil. Malah kesannya creepy, memberi sensasi bergidik kalau lihat foto almarhum yang tercetak di buku Yasin dan tahlil. Namun, dari sudut pandang orang yang mencetak, seperti yang diungkapkan oleh Aziz (40-an) (orang sedesa Sabirin), cetak buku Yasin dengan foto almarhum sejatinya punya nilai tidak kasat mata yang amat berharga. 

Bagaimana awal mula tren cetak buku Yasin tahlilan dengan foto 

Dalam konteks Jawa, tahlilan semula berbentuk transmisi lisan (mengandalkan ingatan atas kalimat-kalimat tayyibah yang diajarkan tokoh agama di era Wali Songo). 

Jika merujuk Antoine Cabaton dalam Les Chams Musulmans de I’Indochine Francaise (1907), yang membawa pengaruh tradisi tersebut adalah kalangan muslim Champa (kini Vietnam) melalui Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Raden Ali Murtadho (Ali Musada) sebagai saudara tuanya Sunan Ampel. 

Transisi dari tradisi lisan menuju tradisi teks cetak mulai menemukan momentumnya pada akhir abad ke-19 hingga paruh kedua abad ke-20. Perkembangan teknologi mesin cetak modern (offset printing) memicu perubahan format tahlilan yang tadinya hanya dihafalkan atau ditulis manual di atas manuskrip/kitab tulisan tangan, mulai dibukukan secara massal dalam bentuk buku saku tipis bernama “Kitab Yasin dan Tahlil”.

Sejarah perkembangan kitab keagamaan cetak massal di Indonesia ini diteliti secara komprehensif oleh Martin van Bruinessen dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat (1995). Seiring perkembangan zaman, teks-teks keagamaan pendek—termasuk kumpulan doa, Surat Yasin, dan Majmu’ Syarif—mulai dicetak massal di Singapura, Bombay, dan kemudian merambah ke Batavia serta Surabaya pada awal abad ke-20 Masehi untuk memenuhi kebutuhan umat Islam perkotaan yang mulai melek huruf.

Memasuki dekade 1990-an yang memuncak pada era 2000-an, sebuah fenomena budaya baru lahir seiring penetrasi komputer pribadi (desktop publishing) dan teknologi cetak digital (digital printing) yang kian murah di pasar lokal. Buku Yasin tidak lagi sekadar menjadi alat bantu baca yang bersifat komunal dan generik, melainkan bertransformasi menjadi komoditas souvenir yang dipersonalisasi (custom).

Keluarga yang berduka kini sengaja memesan buku Yasin yang mencantumkan nama lengkap, silsilah keluarga, tanggal lahir, tanggal wafat, hingga foto diri almarhum/almarhumah di halaman sisipan depan, misalnya di tahlilan 40 hari. Buku ini tidak lagi dikembalikan kepada tuan rumah, melainkan diberikan secara permanen sebagai cinderamata bagi pelayat dengan harapan akan bermanfaat: dibaca di kemudian hari.

Jika menggunakan pisau analisis sosiologis dari Greg Fealy dan Sally White dalam buku Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia (2008), bangkitnya kelas menengah Muslim urban menjadi pemicu bagaimana agama disuguhkan dalam nuansa kemasan produk konsumen, seperti majalah fashion Muslimah, musik pop Islami, ponsel berfitur azan, dan sejenisnya. Buku Yasin menjadi salah satu bagian dari fenomena tersebut. 

Pasang foto saat cetak buku Yasin untuk mengenang sosok almarhum/almarhumah

Kenapa mencetak buku Yasin dengan tambahan foto menjadi sangat berharga? Bagi Aziz dan keluarga, hal itu menjadi upaya agar sosok mendiang terus hidup dalam ingatan. Seminimal-minimalnya di ingatan keluarga sendiri. 

“Zaman dulu kan belum banyak hp seperti sekarang, belum bisa simpan-simpan foto,” ungkap Aziz. 

Mungkin foto almarhum tersimpan di sebuah album foto, mungkin juga terpampang di dinding rumah. Namun, ada sensasi berbeda jika memasang foto di buku Yasin. 

Seperti diketahui, buku Yasin berisi Q.S. Yasin penuh sekaligus doa-doa tahlil yang sebagian besar merupakan penggalan ayat-ayat Al-Qur’an. Selain juga berisi doa-doa baik yang penuh tenaga: memohon ampunan hingga diberi kelapangan di alam kubur. 

Dengan begitu, besar harapan bagi Aziz bahwa tidak almarhum/almarhumah tidak sekadar fotonya saja yang berada di tempat baik. Tetapi ruh dan jasadnya juga benar-benar ditempatkan di tempat terbaik oleh Allah Swt setelah mendapat ampunan dari-Nya. 

“Ya sekarang udah ada hp ya. Tapi kenapa di sini masyarakat masih suka cetak buku Yasin buat 40 hari tahlilan? Karena yang tahu fotonya kan cuma keluarga. Buku Yasin yang dibagikan ke tetangga itu harapannya ya semoga tetangga ingat, pernah punya tetangga namanya Pak Ini/Bu Ini,” beber Aziz. Akan tetapi, ada alasan yang lebih besar dari sekadar persoalan ingatan dari menjadikan buku Yasin berfoto sebagai souvenir tahlilan bagi pelayat: 

Semoga jadi amal jariyah karena berguna

“Semoga jadi amal jariyah bagi almarhum, sehingga amalnya nggak putus-putus,” begitu kata Aziz. 

Begini. Tidak setiap orang hafal persis urutan maupun kalimat demi kalimat Q.S. Yasin atau tahlil. Sehingga, di desa Aziz, menjadi pemandangan umum jika ada orang membaca Yasin dan tahlil dengan buku, tidak hafalan di luar kepala. Terutama saat tahlilan sendiri ketika ziarah kubur. 

“Kalau tahlilan bareng-bareng karena undangan, itu kan modalnya asal ngikut imam (pemimpin tahlil) baca apa. Kalau nggak hafal ya diam saja, dilewati. Tapi kalau ke kuburan sendiri, waktu malam Jumat atau pas momen Ramadan begitu, kan sendiri-sendiri. Karena takut salah dan nggak hafal, bawa lah buku Yasin,” beber Aziz. 

Itulah harapan dari menjadikan buku Yasin sebagai souvenir tahlilan: buku tersebut bakal berguna bagi orang lain. Jika sudah begitu, tinggal berdoa bahwa pahala dari kegunaan tersebut (apalagi untuk amal baik seperti membaca Yasin dan tahlil) bisa mengalir ke almarhum/almarhumah di alam kubur. 

Syukur-syukur kalau pas bawa buku Yasin tersebut, lalu lihat ada foto almarhum/almarhumah, langsung teringat dan tidak luput mengirim doa untuk mendiang. 

Memang berguna, ketimbang beli sendiri

Memang, tidak setiap orang yang lihat foto mendiang tetangga dari foto buku Yasin lantas langsung turut mengirimkan doa, seperti yang diakui Sabirin. Namun, Sabirin mengakui bahwa souvenir tahlilan berupa buku Yasin memang sangat berguna. 

“Jujur, orang sini masih takut keliru kalau baca-baca. Jadi masih lah ada yang suka beli buku Yasin di toko misalnya buku Yasin dan tahlil di rumah sudah lecek. Tujuannya ya itu, buat tahlil sendiri malam Jumat di rumah atau pas ziarah kubur,” jelas Aziz. 

Maka dari itu, mendapat buku Yasin dan tahlil dari tetangga sehabis tahlilan menjadi sesuatu yang berguna. Setidaknya bagi Aziz, karena artinya ia tidak perlu beli lagi. 

“Selain itu, ya memang kadang kalau lihat foto di buku Yasinnya, jadi keingat, oh iya, pernah punya tetangga namanya Pak Ini/Bu Ini,” tuturnya. “Ya mau ingatan baik atau buruk, itu urusan lain lah.”

Bagaimana sebenarnya hukumnya, haram atau boleh?

Buya Yahya, ulama fikih pengasuh Lembaga Pengembangan Da’wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah yang berpusat di Cirebon, Jawa Barat, menjelaskan, pada dasarnya foto bukanlah sesuatu yang hina. Oleh karena itu, tidak diharamkan jika memasang foto untuk keperluan cetak buku Yasin dan tahlil. 

Buya Yahya menyebut, boleh-boleh saja jika foto yang dipasang bukanlah foto yang tidak senonoh. Namun, ia menyarankan lebih baik tidak usah karena persoalan kepatutan menempelkan foto di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Senada, Ustaz Abdul Somad (UAS) juga tidak menyalahkan pemasangan foto di buku Yasin. Namun, ia lebih menganjurkan ke tuan rumah: kalau mau wakaf (memberikan sesuatu pada pelayat), jika pilihannya adalah buku Yasin dan mushaf Al-Qur’an (utuh 30 juz), maka akan lebih baik jika mewakafkan mushaf Al-Qur’an saja.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa Nomor 5 Tahun 2005 memberikan pandangan tegas mengenai masalah ini. Dalam fatwa tersebut, MUI menyatakan bahwa menempelkan foto atau tulisan pada mushaf Al-Qur’an adalah HARAM jika memenuhi beberapa kondisi. 

Pertama, jika tindakan tersebut mengandung unsur pelecehan atau penghinaan terhadap mushaf Al-Qur’an. Sebab mushaf bukan sekadar buku, melainkan simbol kemuliaan firman Allah Swt yang wajib dijaga kehormatannya. MUI berpendapat, tindakan yang merendahkan, seperti menempelkan gambar yang tidak relevan atau tidak pantas, dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap mushaf.  

Kondisi kedua adalah jika tindakan tersebut menimbulkan permusuhan atau perselisihan di kalangan umat Islam. Penempelan foto tokoh, tulisan tertentu, atau simbol kelompok pada mushaf dapat memicu konflik, terutama jika diartikan sebagai bentuk keberpihakan terhadap kelompok tertentu. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Biaya Tahlilan di Desa Mahal karena Omongan Tetangga: Ada Standard “Pantas” yang Kudu Dipenuhi, Bikin Tuan Rumah Tak Punya Waktu Berduka atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.