Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Ilustrasi - Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Buka puasa bersama (bukber) di restoran atau tempat makan menjadi salah satu tradisi bulan Ramadan yang menjalar di tengah masyarakat kita. Sepintas terlihat menjadi simbol keharmonisan. Namun, ternyata, ada sisi tidak menyenangkannya dari tradisi tersebut. Terutama jika bukber yang dilakukan oleh orang kaya. 

***

Bagi pemilik restoran atau tempat makan, Ramadan menjadi masa panen cuan karena pasti akan ketiban gelombang pengunjung untuk buka bersama (bukber). Terutama mulai pertengahan Ramadan sampai akhir bulan, banyak orang yang mulai meluangkan waktu untuk bertemu dan menikmati menu iftar bersama-sama agar tidak ketinggalan dari orang lain. 

Meski peak season-nya baru sejak pertengahan, tapi sejak awal Ramadan pun pengunjung yang datang ke restoran atau tempat makan untuk bukber sudah terbilang padat. 

Sejak hari pertama Ramadan, Indra (24) sudah harus bekerja keras melayani pengunjung di restoran iga bakar di Jogja tempatnya bekerja. Ia juga bersiap dengan kemungkinan berhadapan dengan tingkah memuakkan dari orang kaya yang mengadakan buka bersama. 

Melayani buka bersama (bukber) orang kaya: tidak sabaran dan minim empati

Pengalaman tidak menyenangkan dan sulit dilupakan dialami Indra pada momen Ramadan 2025 lalu.

Akar situasinya sebenarnya lazim terjadi di setiap restoran melayani pesanan bukber dari pengunjung yang membludak: pesanan banyak, ada satu-dua pengunjung yang merasa pesanannya tak kunjung datang. 

“Kecenderungan orang kaya itu, mereka merasa hanya mereka yang patut diistimewakan. Misalnya, dengan bilang, ‘Kami pesan menu banyak loh, Mas, bayar banyak, kok lama banget, sih’,” beber Indra. 

Jelas mereka tidak punya empati. Mereka hanya fokus ke perut sendiri. Indra percaya, orang-orang kaya yang tengah buka bersama itu pikirannya tidak akan sampai pada memikirkan nasib para pekerja di restoran: Indra dan kawan-kawannya bahkan hanya sempat meneguk air putih untuk membatalkan puasa saat azan Magrib berkumandang. Mereka pun tidak kunjung jeda karena pengunjung terus berdatangan. 

Tak sabaran dan seperti mau menang sendiri

Ini momen pada Ramadan 2025 lalu yang susah Indra lupakan itu: 

Seingat Indra, peristiwa tidak menyenangkan itu terjadi pada menjelang akhir Ramadan. Sejak awal, orang kaya yang datang dengan keluarganya (pria 40-an tahun bersama istri dan dua anak) itu memang sudah menunjukkan kesan tidak menyenangkan. 

Kata Indra, cara pesan menunya sengak, hanya karena pelayan restoran iga bakar Jogja itu meminta mereka geser ke meja lain. Sebab, meja yang pertama keluarga orang kaya duduki itu sudah tertera tanda “reservasi”: sudah di-booking orang lain. 

“Berapa sih bayar meja gini. Saya bayar. Masa sama-sama beli saya nggak boleh duduk,” begitu kata si pria. Tapi pelayan tetap tidak bisa memberikan meja tersebut kepada si pria karena memang sudah direservasi. 

Sikap menyebalkan selanjutnya, berkali-kali si pria kaya itu bertanya kepada pelayan yang mondar-mandir mengantar pesanan: kenapa pesanan keluarga pria kaya itu belum kunjung datang? 

“Lemot banget!” Gerutu si pria. “Ini baru nyembelih sapinya apa, lama banget?” 

Indra yang ditanya hanya bisa menjelaskan, kalau pesanan banyak, dan harus didahulukan pemesan yang lebih awal. Walaupun berkali-kali ia mendengar gerutuan tak henti-henti dari si keluarga orang kaya tersebut. 

Gara-gara lama layani menu buka bersama (bukber) orang kaya, diludahi dan dimaki-maki

Dengan tergopoh, Indra membawa menu pesanan ke meja keluarga kaya tersebut, setelah menunya dipastikan sudah siap. Saat Indra hendak berbalik ke dapur, si pria kaya tadi meminta Indra berhenti. Menunggu pria kaya itu mencicipi. 

Pria tersebut mencubit potongan kecil daging di iga bakar, lalu memasukkannya ke mulut. Namun, alih-alih menelan, pria kaya tersebut justru melepehnya di hadapan Indra. Bahkan ia juga meludahi piring-piring berisi nasi dan menu-menu yang mereka pesan. 

“Makanan kayak taik gini lama banget,” ujar si pria kaya itu. Setelahnya, ia mengajak istri dan dua anaknya pergi dari restoran iga bakar di Jogja tersebut, sembari mulut yang tidak henti-henti mengumpat lamanya pelayanan di restoran itu. 

Kejadian itu sempat menyita perhatian para pengunjung lain yang juga tengah menggelar bukber. Mata-mata penasaran tertuju pada Indra. Termasuk pelayan lain yang kemudian menghampiri Indra.

“Orang kaya itu kalau bukber memang kadang menyebalkan. Tapi kejadian itu paling menyebalkan dan aku nggak bisa lupa,” tutur Indra. 

Tahunya sebagai raja di meja makan

Cerita serupa dituturkan oleh Zamratus (24), perempuan yang pernah menjadi mahasiswa di Jogja. Ia mencoba membagikan perspektif dari sudut pandang seseorang yang ikut menemani buka bersama orang kaya. 

Dulu ketika kuliah, Zamratus punya tema perempuan yang memang merupakan anak orang kaya. Tidak level lah kalau ia makan di Warteg atau Warmindo, apalagi nongkrong di kafe Basabasi atau Bento. Harus tempat makan/nongkrong yang pricy.

Di antara tabiat buruk si teman tiap berada di tempat makan adalah: berperilaku seolah-olah ia adalah raja. Mentang-mentang ada kalimat pembeli adalah raja. Termasuk dalam momen buka bersama. 

“Dia sering terang-terangan marah ke pelayan, misalnya pesanan kami belum datang. Padahal kubilang, udah, pesanan lagi banyak, kalau mau mengingatkan barangkali takut terlewat, ya bisa baik-baik,” jelas Zamratus. 

Karena Zamratus menyadari, betapa riwehnya si pelayan dan juru masak di restoran melayani membludaknya pengunjung yang datang untuk bukber. Masalahnya, si teman yang sehari-hari lebih sering dilayani itu jelas tidak punya kesabaran menunggu dan apalagi pikiran sejauh itu untuk berempati. 

Cranky dan suka memberi ulasan jelek

Cranky juga, sih. Misalnya, menu pesanan salah dikit aja, bisa jadi masalah. Pesan es teh, yang datang es jeruk, kalau aku sih ya sudah nggak apa-apa. Sama-sama masih bisa diminum,” tutur Zamratus. 

Tapi tidak dengan teman Zamratus yang orang kaya itu. Ia akan langsung memanggil pelayan, lalu ngedumel habis-habisan karena pesanan yang keliru. 

“Di tahap ekstrem, dia juga akan ngasih bintang 1 dan review jelek di Google Maps tempat makan itu. Maksudku, kan nggak usah seberlebihan itu ya,” kata Zamratus.

Itu lah kenapa Zamratus akhirnya agak pilih-pilih jika ada ajakan buka bersama di restoran atau tempat makan di Jogja. Ia hanya akan berangkat bersama teman-teman yang setara secara ekonomi. Ia kapok buka bersama dengan teman kaya yang lebih sering menunjukkan arogansi. 

Padahal, bagi Zamratus, bisa loh seseorang menjadi orang kaya dengan bermartabat. Bersikap wajar toh tidak akan mengurangi fakta bahwa seseorang adalah golongan orang-orang bercuan.

“Yang waras ya, yang waras. That’s simple!” Tutup Zamratus dengan terkekeh.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Bukber di Tempat Makan Adalah Acara yang Menyiksa Juru Masak, Sebel Masak Ratusan Porsi untuk Orang yang Sok Berbuka Padahal Nggak Puasa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version