ADVERTISEMENT

Budaya “Ngretakne” Sering Dianggap Mengganggu oleh Orang Kota, padahal Menjadi Penawar Sepi dan Obat Mujarab bagi Orang Sakit di Desa

Menjenguk orang sakit, orang sakit, ngretakne.MOJOK.CO

Istilah ngretakne memang nyaris mustahil ditemukan jejaknya dalam mesin pencari Google maupun kamus digital. Namun, di akar rumput, tradisi komunal ini terus hidup dan menjadi jaring pengaman sosial yang menyelamatkan warga desa dari kesepian.

***

Beberapa waktu lalu, sebuah keluhan mampir di beranda Facebook saya. Seseorang memprotes keras tradisi menjenguk orang sakit beramai-ramai di kampung. 

Kalau kita pakai kacamata orang kota, argumennya terdengar sangat masuk akal. Kata mereka, orang sakit itu butuh ketenangan untuk istirahat, bukan malah diajak mengobrol sampai malam. 

Belum lagi urusan kantong. Tuan rumah seolah punya beban tak tertulis untuk menjamu tamu satu RT dengan minuman dan camilan. 

Ujung-ujungnya, dan ini yang diprotes keras, acara menjenguk ini sering berubah menjadi ajang gosip antartetangga.

Istilah “Ngretakne” tak bisa dijumpai di Google

Bagi mereka yang terbiasa dengan aturan jam besuk rumah sakit yang ketat dan steril, tradisi komunal ini jelas terasa melanggar batas privasi. Di wilayah Wonogiri dan sekitarnya, kebiasaan menjenguk beramai-ramai ini akrab disebut ngretakne

Menariknya, kalau kita iseng mengetik kata ini di Google, mesin pencari itu akan kebingungan. Istilah ngretakne nyaris tidak meninggalkan jejak di kamus digital atau literatur formal mana pun. 

Namun, di akar rumput, praktiknya mendarah daging dan menjadi napas kehidupan warga desa.

Ekonomi sirkular dari tetangga untuk tetangga

Di kampung saya, ngretakne punya sistem dan jadwalnya sendiri. Ketika ada warga yang baru pulang rawat inap dari rumah sakit, tetangga tidak datang bergerombol tak keruan. Mereka membaginya dalam “sif” yang teratur. 

Misalnya, Senin malam jatahnya rombongan bapak-bapak dan ibu-ibu RT 1, Selasa untuk RT 2, dan seterusnya. Rombongan ini biasanya datang membawa buah tangan seadanya, mulai dari bungkusan gula, teh, mi instan, hingga amplop berisi uang hasil patungan.

Soal keluhan di medsos bahwa tuan rumah bisa “bangkrut” gara-gara harus menyuguhkan camilan setiap malam, kenyataannya tidak semengerikan itu. Ada sistem ekonomi sirkular yang berjalan. 

Gula, teh manis, dan biskuit kaleng yang disuguhkan oleh tuan rumah malam ini, biasanya adalah hasil bongkaran dari bingkisan yang dibawa rombongan penjenguk pada malam sebelumnya. Semuanya cuma berputar dari tetangga, kembali untuk tetangga.

Ngretakne bukan pengganggu, malah penawar sepi

Jujur saja, dulu saya sempat berada di barisan orang yang mengamini keluhan di Facebook tadi. 

Saat saya masih duduk di bangku SMP, simbah saya kebetulan baru pulang setelah dirawat di rumah sakit. Sesuai tradisi, rumah kami mendadak berubah wujud jadi tempat pertemuan dadakan.

Selama berhari-hari, rumah tak pernah sepi. Suara tawa yang keras, kepulan asap rokok, dan obrolan ibu-ibu memenuhi ruang tamu sampai larut malam. 

Saya yang waktu itu butuh ketenangan untuk tidur jelas merasa sangat terganggu. Dalam hati saya mengomel, orang baru sembuh kok malah dipaksa begadang meladeni tamu.

Namun, cara pandang saya berbalik seratus delapan puluh derajat seiring bertambahnya usia. Sekarang, ketika saya lebih banyak menghabiskan waktu di kota orang, saya sadar akan satu realitas yang cukup sedih. 

Desa kita perlahan menjadi tempat yang sangat sunyi. Banyak rumah berukuran besar yang kini hanya dihuni oleh kakek dan nenek tua karena anak cucunya pergi merantau. 

Di tengah kesunyian masa tua itulah, ngretakne tidak lagi terasa seperti gangguan. Ia malah menjadi penawar sepi.

Menjadi “pengayem” perantau yang cemas pada keadaan ortu

Realitas soal sepinya rumah di desa juga dirasakan oleh Eknan (29). Pria asal Gunungkidul ini melihat ngretakne sebagai jaring penyelamat bagi para pekerja rantau sepertinya. 

Menetap dan bekerja di Sleman membuat Eknan tak punya kemewahan waktu untuk selalu siaga menjaga orang tuanya di kampung. Ia hanya bisa pulang seminggu sekali. Belakangan, intensitas pulangnya bahkan makin jarang karena tumpukan pekerjaan.

Ketika orang tuanya jatuh sakit, rasa bersalah sebagai anak rantau langsung menyerang batinnya. Namun, beban pikiran itu mendadak luntur saat warga desa mengambil alih perannya. 

“Paling nggak karena tiap malam rumah ramai, saya nggak kepikiran lagi orang tua siapa yang menemani di rumah,” ujarnya, Selasa (8/9/2026).

Kehadiran rombongan tetangga yang datang bergantian setiap malam untuk menemani sang ayah dan ibu seolah menjadi pengganti kehadirannya yang absen. Bagi Eknan, keramaian dan kehangatan warga itu adalah bentuk kepedulian yang mengisi kekosongan rumah tuanya.

Obat mujarab orang yang sakit

Lebih dari sekadar menambal rasa sepi, Eknan menemukan “keajaiban” lain dari tradisi yang sering dituduh berisik ini. Baginya, ngretakne bekerja layaknya efek plasebo yang memulihkan fisik orang tuanya jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.

“Waktu bapak dan ibu di rumah sakit, mereka malah kelihatan makin drop. Ruangannya sepi, dingin, dan jam besuknya dibatasi ketat. Padahal, yang mereka mau itu sebenarnya cuma ngobrol dan ketemu orang-orang yang mereka kenal,” ungkap Eknan.

Pemandangan kontras langsung terlihat begitu orang tuanya pulang ke rumah dan tradisi ngretakne dimulai. Ayah dan ibunya yang tadinya lemas tertidur di ranjang rumah sakit, mendadak punya tenaga ekstra untuk duduk menyambut tamu. 

Mendengar cerita tetangga soal hasil panen, update siapa tetangga yang baru melahirkan, hingga menertawakan obrolan receh khas pos ronda, ternyata sukses memantik gairah hidup mereka kembali.

Orang tua Eknan yang berstatus pasien masa pemulihan itu bahkan sanggup ikut mengobrol meladeni tamu hingga malam hari tanpa sedikit pun mengeluh lelah. Entah bagaimana ilmu medis menjelaskannya, tapi afirmasi, tawa, dan kepedulian dari warga kampung itu sukses membuat mereka merasa sehat seketika. 

“Jadi kalau ada yang mengeluh soal ini, ya biarkan saja sih. Tapi kalau dari aku sendiri, justru terbantu sama budaya ini.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 9 September 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.