Kalau mendengar kata Bali, barangkali yang pertama muncul di kepala adalah Kuta, Seminyak, Canggu, atau tempat-tempat lain yang penuh turis. Namun kawasan Bali Utara tetap menjadi daerah paling ideal untuk slow living di Bali.
***
Bagi Mahe (28), Bali Utara adalah tempat paling ideal untuk hidup lebih pelan. Sudah lebih dari lima tahun ia merantau dan bekerja sebagai ASN di wilayah Bali Utara. Selama tinggal di sana, ia justru menemukan alasan mengapa hidup tidak harus selalu dekat dengan keramaian, kafe, atau kawasan wisata.
“Menurutku, kalau orang yang kerja dan tinggal di Bali Utara, pasti banyak yang sepakat kalau di sini enak buat slow living,” kata Mahe kepada Mojok melalui WhatsApp, Selasa (08/09/2026).
Bagi Mahe, slow living bukan berarti tidak bekerja atau bermalas-malasan. Ia hanya merasa ritme hidup di Bali Utara lebih masuk akal: bekerja, pulang, menikmati lingkungan sekitar, lalu menjalani hari tanpa harus berhadapan dengan kepadatan wisata seperti di Bali bagian selatan.
Bali Utara tidak terlalu sibuk mengejar turis
Mahe merasakan perbedaan itu sejak pertama kali menetap di Bali Utara. Suasananya, menurut dia, lebih sepi. Tempat wisata memang tetap ada, tetapi tidak setiap sudut dipenuhi turis. Kehadiran wisatawan asing juga tidak terlalu dominan seperti yang ia rasakan ketika membandingkannya dengan kawasan selatan Bali.
“Di sini tuh lebih pelan. Turis asing ada, tapi nggak sampai mendominasi kehidupan sehari-hari, dan rata-rata turis yang ada di sini nggak rese-rese ‘sih,” ujarnya.
Pengalaman tinggal beberapa bulan di kawasan pegunungan sekitar Gitgit semakin membuatnya betah. Udara yang lebih sejuk menjadi salah satu alasan sederhana yang membuatnya merasa tidak sedang hidup di daerah yang setiap hari dikejar target.
“Kalau di daerah pegunungan sekitar Gitgit itu malah lebih bikin kerasan. Hawanya dingin, suasananya tenang,” katanya.
Bagi Mahe, kondisi semacam itu sulit ditemukan di kawasan Bali yang sudah berkembang menjadi pusat pariwisata. Di Bali Utara, menurut Mahe, kehidupan tidak disetir oleh beban dan kerja harian yang memuakkan.
Padahal, Bali sendiri masih menjadi magnet besar bagi wisatawan. Badan Pusat Statistik mencatat kunjungan wisatawan mancanegara langsung ke Bali mencapai 605.013 kunjungan pada Juni 2026. Jumlah tersebut naik 4,63 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Artinya, Bali memang semakin ramai dikunjungi. Tetapi menurut pengalaman Mahe, tidak semua bagian Bali ikut berlari dengan kecepatan yang sama.
Tidak banyak turis bukan berarti tidak ramah
Ada satu hal yang menurut Mahe membuatnya semakin nyaman tinggal di Bali Utara, yakni masyarakatnya. Ia menggambarkan warga sekitar sebagai orang-orang yang ramah dan masih kuat memegang tradisi. Kehidupan masyarakat lokal menurutnya terasa lebih dekat dengan keseharian, bukan semata-mata bergerak mengikuti kebutuhan wisatawan.
“Orangnya ramah. Tradisinya juga masih kuat,” katanya.
Bukan berarti hidup di Bali Utara tanpa kendala. Mahe mengakui salah satu hal yang cukup menguras tenaga adalah mencari makanan halal. Pilihannya tidak sebanyak daerah yang lebih heterogen atau menjadi pusat mobilitas wisatawan. Namun bagi dia, persoalan tersebut masih bisa diatasi.
“Kalau makanan halal memang harus agak effort. Tapi buatku itu bukan masalah besar,” ujarnya.
Ia justru merasa keuntungan tinggal di sana jauh lebih banyak. Tidak perlu berhadapan dengan kemacetan setiap hari, tidak terlalu sering melihat kawasan yang dipenuhi turis, dan masih bisa menikmati suasana lingkungan yang menurutnya lebih tenang.
Gaji segitu masih bisa menabung
Bicara soal slow living tentu tidak cukup hanya membicarakan udara sejuk. Ada satu perkara yang lebih menentukan: uang. Pada 2026, UMP Bali ditetapkan sebesar Rp3.207.459 per bulan. Kabupaten Buleleng termasuk daerah yang menggunakan besaran UMP tersebut karena tidak menetapkan UMK tersendiri.
Dengan penghasilan di kisaran tersebut, Mahe merasa kehidupannya di Bali Utara masih cukup masuk akal. Ia bahkan mengaku masih bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung.
Di sinilah menurut Mahe letak perbedaan penting antara tinggal di Bali Utara dan kawasan yang lebih padat wisata. Bukan berarti semua kebutuhan hidup di Bali Utara otomatis murah. Namun karena gaya hidupnya lebih sederhana dan tidak banyak godaan untuk mengikuti ritme konsumsi kawasan wisata, penghasilannya masih bisa disisakan.
“Dengan gaji yang sama-sama segitu, di sini aku masih bisa nabung,” katanya.
Pernyataan itu tentu merupakan pengalaman pribadi Mahe, bukan kesimpulan bahwa seluruh pekerja di Buleleng bisa mengalami hal serupa.
Lalu apa kabar teman di Kuta?
Untuk menguji ceritanya, saya membandingkan pengalaman Mahe dengan Tata (27), seorang teman yang kini menetap di Kuta. Perbedaannya langsung terasa.
Kuta memang jauh lebih padat. Namun Tata justru mendapatkan keuntungan yang tidak selalu dimiliki Mahe: fasilitas umum lebih dekat, pilihan tempat makan lebih banyak, akses kebutuhan sehari-hari lebih mudah, dan berbagai layanan tersedia dalam jarak yang relatif dekat.
Wilayah Kuta juga berada di Kabupaten Badung yang pada 2026 memiliki UMK Rp3.791.002,57 per bulan. Angka ini lebih tinggi daripada UMP yang menjadi acuan di Buleleng. Tetapi penghasilan yang lebih tinggi tidak otomatis membuat hidup terasa lebih ringan. Menurut cerita Mahe, Tata masih memikirkan pekerjaan sampingan untuk menambah pemasukan.
“Kalau aku di sini masih bisa nabung. Kalau Tata malah masih mikir side job,” ujar Mahe.
Perbandingan tersebut tentu tidak bisa dijadikan ukuran mutlak bahwa hidup di Kuta lebih mahal atau Bali Utara lebih murah. Pengeluaran seseorang sangat bergantung pada tempat tinggal, gaya hidup, pekerjaan, dan kebutuhan masing-masing. Namun bagi Mahe, perbedaan itu cukup untuk memperkuat keyakinannya.
Bagi Mahe, Bali Utara sudah cukup
Pada akhirnya, Mahe tidak sedang mengajak semua orang pindah ke Bali Utara dan hidup slow living. Ia hanya menemukan tempat yang menurutnya cocok dengan cara hidup yang ia inginkan. Bekerja sebagai ASN, tinggal di lingkungan yang relatif tenang, sesekali berada di kawasan pegunungan, mengenal masyarakat sekitar, dan masih memiliki ruang untuk menabung membuatnya merasa tidak perlu mencari kehidupan yang lebih ramai.
“Kalau buatku, Bali Utara sudah cukup,” katanya.
Mungkin itu sebabnya Mahe tidak terlalu tertarik dengan pertanyaan klasik tentang Bali: sudah pernah ke Kuta belum? Sebab setelah lebih dari lima tahun tinggal di Bali Utara, ia justru menemukan versi Bali yang menurutnya lebih nyaman ketika tidak terlalu banyak orang datang untuk berlibur.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kapok Tinggal di Jogja, Memutuskan Kembali ke Pasuruan untuk Hidup Slow Living Meski Dicap Perantau Gagal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
