MOJOK.CO – Gelaran Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 mencapai puncaknya, dan Thailand masih terlalu perkasa untuk direbut takhtanya. Garuda Pertiwi mungkin belum bisa tersenyum untuk sekarang. Kekecewaan mungkin ada di sana-sini. Tapi selalu ingat, ini adalah langkah awal dari sebuah jalan yang begitu panjang, dan mungkin saja tanpa ujungnya. Pembinaan mungkin memberi getir dan gurih, tapi tak ada hasil buruk dari proses belajar.
***
Ayla (14 tahun) melihat ruang yang kosong, terbuka, dibiarkan tak terjaga oleh para bek Jordan. Sejurus kemudian, ia mengirimkan umpan ke ruang yang begitu luang di antar bek tengah dan bek kiri Jordan. Fadilla (13 tahun) merespons dengan mengejar umpan daerah yang begitu cantik itu, dan langsung mengeksekusinya dengan begitu dingin. Garis pertahanan tinggi Jordan dihancurkan hanya dengan satu umpan terukur dari Ayla.
Gol tersebut berarti dua hal: Indonesia akhirnya melaju ke final, serta memupus asa Jordan bertemu Thailand, yang sebelumnya melipat Malaysia dengan skor 5-1.
Di babak kedua, permainan Indonesia masih mendominasi. Tapi tak ada gol tercipta lagi. Banyak peluang tercipta, tapi ketangguhan kiper Jordan, Alma Mouhanad (15 tahun) membuat gawangnya tak kena bobol selama babak kedua. Bahkan, Jordan sempat memberi ancaman meski ketangguhan bek Indonesia membuat semua upaya dan umpan-umpan terukur dari Yena Raed (14 tahun) tak menemui hasilnya.
Kegagalan Garuda Pertiwi menambah keunggulan memang jadi sorotan. Selain ketenangan pemain yang menurun di babak kedua, cederanya pemain nomor 10 mereka bikin Coach Timo (52 tahun) harus mencari solusi dalam waktu yang singkat. Dan tentu saja itu tak mudah, Coach Timo harus menggeser posisi pemain untuk menemukan solusi dari lubang yang ditinggalkan.
“Kalau tadi Anda perhatikan, Anya (16 tahun) main di sayap, Anya main di tengah, Anya main di striker, mencari solusi untuk kebolongan yang ada karena Nafe cedera,” ujar Coach Timo.
Yang jelas, segala target sudah tercapai. Indonesia main lima kali, dan bertemu Thailand, adalah target yang coba dicapai oleh Coach Timo. Semuanya bisa diraih, dan kali ini tinggal perkara hasil.
Tapi juara bukanlah satu-satunya target yang dikejar oleh Coach Timo. Baginya, pemain adalah piala yang sebenarnya. Targetnya adalah membentuk pemain, bukan memenuhi rak piala. Pembinaan yang berjenjang dan sistematis lah yang jadi tujuan, agar Indonesia bisa bicara banyak di kancah dunia.
Lawan mereka, Thailand, adalah ujian selanjutnya dari pembinaan ini. Sebab, berbeda dengan Indonesia yang baru memulai pembinaan selama 3 tahun, Thailand sudah bicara dan meramu sepak bola putri selama 3 dekade.
Tak ada ujian yang lebih berat dan lebih baik ketimbang tim ini, dan mereka berdua bertemu di final. Kerajaan yang sudah membangun istana dan kekuasaan selama 30 tahun, melawan barisan pejuang yang baru 3 tahun mengasah pedang mereka, tapi punya potensi untuk merusak hegemoni yang sudah terjaga.
Saat tenang sebelum perang
Tribun sudah penuh bahkan sejak beberapa jam sebelum mulai. Animo orang-orang untuk mendukung Garuda Pertiwi amat mengerikan. Di pertandingan semifinal melawan Jordan, gemuruh dukungan tanpa henti terdengar saat srikandi-srikandi mengiris lapangan. Sebaliknya, saat pemain Jordan mendapat bola, riuh-riuh untuk menurunkan mental menggema tanpa jeda.
Pada laga semifinal, sebanyak 1570 orang yang memadati tribun Supersoccer Arena datang memberi dukungan atau meneror lawan, tergantung kamu berada di sisi mana. Dan di final, angkanya jauh lebih tinggi. Antrean mengular di depan Supersoccer Arena jadi bukti banyaknya manusia yang ingin menjadi saksi bersejarah tim sepak bola putri Indonesia.
Para pemain turun dari bus, dengan wajah yang tenang, tak ada keraguan dan ketakutan yang tampak. Dari raut wajah mereka, terlihat mereka tanpa beban. Seakan-akan mereka tahu, inilah tempat mereka seharusnya berada: final.
Laut selalu terlihat tenang sebelum badai datang. Selalu.
Garuda Pertiwi vs Thailand: efektif vs rapi
“Indonesia Raya” berkumandang. Seluruh manusia di tribun berdiri. Pertandingan segera dimulai, dan intensitas sudah dimulai sejak awal. Garuda Pertiwi dan Thailand menggempur dengan cara yang berbeda. Thailand mengandalkan possession based football, dan pemainnya punya kemampuan di ruang sempit. Sedangkan Garuda Pertiwi mengandalkan long ball, berusaha bypass lini tengah Thailand dan mengeksploitasi garis pertahanan tinggi milik Thailand.
Usaha yang dilakukan oleh Jazlyn Kayla (16 tahun) dan kawan-kawan masih buntu. Bek-bek Thailand sigap dalam melakukan intersep atas usaha bypass lini tengah yang dilakukan oleh Indonesia. Terlihat dari statistik, Thailand unggul dalam intersep sejumlah 45, 3 lebih banyak ketimbang Indonesia.
Justru Thailand yang lebih dulu memecah kebuntuan pada menit 23. Free kick dari Kawinthida Kikuntod (16 tahun) menghujam gawang Alleana Ayu Arumi (16 tahun), yang selama gelaran Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 tak pernah dibobol, membuat Thailand unggul 1-0 di babak pertama.
Garuda Pertiwi bukan tanpa usaha, tapi perlu diakui, Thailand lebih matang dalam perkara bermain dan merespons taktik anak buah Coach Timo. Overload yang dilakukan oleh pemain Thailand saat punggawa Garuda Pertiwi memegang bola praktis membuat serangan terputus. Terlihat di kala Anya dan Keysa (13 tahun) mendapat bola, setidaknya ada dua pemain Thailand yang menjaga pergerakan mereka, serta yang lain menutup ruang umpan yang bikin opsi penyerangan Garuda Pertiwi mandek.

Praktis, Anya dan Keysa kerap mengambil opsi untuk mencoba melawan bek dengan dribble karena tak ada opsi dan ruangnya tertutup. Usaha untuk mencoba menyerang dari second line pun sulit dilakukan karena Thailand begitu disiplin dalam menjaga ruang. Serangan Indonesia tak menemui hasil yang positif, hanya menghasilkan 1 shot on target, berbanding 4 oleh Thailand.
Hingga akhir, skor tak berubah, 1-0 untuk kemenangan Thailand. Garuda Pertiwi gagal di tanah sendiri, tapi menunjukkan pertarungan sengit yang amat pantas untuk disebut sebagai final. Dua tim terbaik sepanjang gelaran menunjukkan kenapa mereka berlaga di final.
Pertahanan Garuda Pertiwi yang patut diapresiasi
Meski lini serang Garuda Pertiwi bisa diatasi oleh Thailand, tapi hal yang sama pun dialami oleh tim lawan. Serangan-serangan dari Thailand bisa diatasi oleh barisan pertahanan yang dipimpin oleh Jazlyn Kayla. Gelar kiper terbaik yang didapat oleh Alleana bukanlah suatu kebetulan, sebab di pertandingan ini, ia membuat 3 saves dan sigap dalam permainan.
Status Thailand yang datang sebagai penguasa ASEAN tak berarti mereka melenggang mudah tanpa perlawanan. Coach Timo dalam konferensi pers usai pertandingan mengatakan, sebelumnya Thailand tidak bisa diganggu sama sekali. Tapi dalam match ini, untuk pertama kali selama gelaran Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026, ada tim yang bikin Thailand terancam.
“Ini itu (kekalahan, red-) menyakitkan itu kenapa? Ini menyakitkan karena kita seharusnya juga bisa menang. Seharusnya bisa masuk ke penalti dan kalau masuk ke penalti, saya yakin kita bisa menang,” ucap Coach Timo dalam konferensi pers.
Meski begitu, menurut Coach Timo, segala target sudah dicapai. Pertama main lima kali, kedua main melawan Thailand. Dalam konferensi pers sebelumnya, ia juga mengatakan bahwa piala sebenarnya adalah para punggawa Garuda Putri yang ia bina selama beberapa waktu ini.
Hegemoni Thailand di sepak bola ASEAN mungkin memang belum tertandingi. Tapi, Garuda Pertiwi mengirimkan pesan yang amat kuat, bahwa takhta bisa tumbang kapan saja, dan Thailand tidak bisa jumawa kelewat lama.
Srikandi Merdeka Cup 2026 merupakan turnamen sepak bola putri kelompok usia U-16 yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation. Edisi tahun ini diikuti Timnas Putri U-16 Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapore, Hong Kong, Saudi Arabia, dan Jordan.