Bunyi-bunyian musik yang mengalun di telinga, nyatanya sanggup mengubah cecap rasa di lidah kita. Dalam sains, ia dikenal sebagai sonic seasoning, fenomena psikologis di mana musik latar yang secara sengaja dipadukan dengan makanan atau minuman, bisa memengaruhi persepsi rasa manusia.
Sensasi percampuran bunyi, rasa, dan memori inilah yang menjadi nyawa dari sebuah malam yang magis kemarin. Ketika sepotong lagu dan tegukan cocktail dapat melempar imajinasi orang-orang melintasi waktu.
DERU: A Multisensory Experience
Kamis (22/10/2026) malam, saya melangkah masuk ke Arcadaz The Public Bar, Jogja. Malam itu, ruang bar disulap menjadi arena showcase bertajuk “DERU: A Multisensory Experience”.
Acara ini didapuk sebagai selebrasi sesi dengar Sojourn, album instrumental teranyar karya kelompok musik Kelana Swara Ambarrukmo. Berisi 11 trek lanskap bunyi, setiap komposisi di album ini dirancang sebagai instrumen kontemplasi.
Bagi saya sendiri, konsep acaranya sangat unik. Kami yang datang tak hanya diajak mendengarkan lima trek terpilih, tetapi juga disuguhkan lima jenis racikan minuman sebagai pendamping yang disajikan berbarengan.
Arsitek di balik meja bar malam itu adalah Dwi, seorang mixologist yang secara khusus menerjemahkan karakter setiap lagu ke dalam gelas cocktail. Di sini, musik bertindak sebagai narasi utama, sementara minuman hadir sebagai bumbu penguat rasa.

“Arpeggio Telon”, membuka dimensi
Perjalanan sensori dibuka oleh trek pertama bertajuk “Arpeggio Telon”. Sebagai pecinta musik metal, instrumen dalam lagu ini mengingatkan saya pada trek-trek dalam album All Gates Open dari band Blood Incantation.
Atmosferik, juga kosmik. Seperti berjalan di alam, tapi di saat bersamaan tersedot ke dimensi lain melalui portal langit. Komposisi nada yang bikin saya bengong sejenak ini, seolah meminta kawan bicara yang sepadan.
Untuk meresponsnya, Dwi menyodorkan Grace Jones, sebuah cocktail yang namanya dicatut dari penyanyi androgini ikonik asal Jamaika. Minuman ini memadukan tequila reposado yang telah dieram dalam tong kayu oak selama dua hingga 12 bulan, kemudian diolah dengan teknik fat washing campari roasted coconut dan minyak matcha.
Hasilnya adalah profil rasa yang sangat kompleks, memadukan elemen bittersweet, aroma floral, dan tendangan umami yang tak terduga.
Alunan musik yang membawa seperti ke Bali yang “asli”
Ketika ketenangan nada “Arpeggio Telon” bertemu dengan tegukan pertama Grace Jones, efek silang-indra itu langsung mengambil alih alam pikir.
Desta Wasesa, seorang pegiat musik asal Jogja yang duduk tak jauh dari saya malam itu, ikut membagikan pengalaman sensorinya. Ia menegaskan bahwa bukan sekadar racikan cocktail itu yang membuai lidah, tetapi juga perpaduan utuh antara lanskap bunyi dan cecap rasa di dalam mulut.
Perkawinan antara elemen musikal yang pelan dan minuman yang kompleks itu sukses membawanya terlempar jauh dari hiruk-pikuk Jogja. Merajut imajinasi yang seolah mendudukkannya di tengah hamparan perdesaan Bali yang sangat damai.
“Seperti di Bali. Bali yang masih asli sebelum dibangun perumahan-perumahan mewah investor,” kelakarnya malam itu.

Otak manusia selalu menjahit “masukan” dari telinga, mata, dan lidah secara bersamaan
Alunan kemudian berganti ke lagu kedua, “Sands of Time”, yang disandingkan dengan Margarita bertendangan rasa lime yang tajam. Kombinasi dua lagu pertama ini langsung memantik sinema di kepala saya.
Dengan mata terpejam, saya merasa sedang berbaring santai di atas pasir pantai pada malam hari, menatap atap langit yang penuh taburan bintang, sembari ditemani samar-samar suara deburan ombak.

Sensasi sinematik yang berputar di kepala saya ini, rupanya pernah dijelaskan oleh peneliti dari Universitas Oxford, Prof. Charles Spence. Ia menemukan bahwa otak kita selalu menjahit masukan dari telinga, mata, dan lidah secara bersamaan.
Frekuensi nada tinggi terbukti mampu mengamplifikasi rasa manis di lidah, sementara nada-nada rendah akan menonjolkan karakter rasa pahit atau earthy.
Dwi, sang peracik minuman, pun mengamini hal tersebut. Ia merancang minumannya agar suara dan rasa bekerja sama menyetir imajinasi pengunjung.
Alkohol tingkat moderat mampu mengubah cara kerja perhatian otak?
Imajinasi saya makin meliar saat memasuki trek ketiga, “Beyond the Boundaries of Dawn”, yang dikawinkan dengan Soy Old Fashioned. Perpaduan wiski Scotch blended, keju, dan sentuhan maple yang kuat menghadirkan rasa pahit-manis yang pekat.
Begitu musik mengalun bersamaan dengan masuknya minuman, saya serasa melihat kilatan cahaya bintang jatuh yang menyilaukan, yang secara mendadak menarik saya masuk ke lorong nostalgia masa lalu.
Efek melankolis itu berlanjut di trek keempat, “Lotus Dream”, yang ditemani variasi cocktail bernama Cheesecake. Alunan melodi dan cecap manis di lidah memproyeksikan kembali potongan-potongan memori masa kecil.
Suasana batin saya seketika berubah ceria, sebuah kebahagiaan yang hanya bisa dirasakan ketika kita sedang asyik bermain semasa kanak-kanak.

Riset Jennifer Wiley dari Universitas Illinois at Chicago (UIC) memang pernah mengungkapkan bahwa konsumsi alkohol tingkat moderat mampu mengubah cara kerja perhatian otak.
Alih-alih memindai informasi secara kaku, otak yang rileks akan membiarkan detail bermunculan secara spontan. Fokus yang melonggar ini justru memantik asosiasi bebas, membiarkan pikiran mengembara merajut kembali kenangan lama yang berkelindan dengan irama musik.
Musik yang bikin telinga, lidah, dan pikiran bersatu
Perjalanan lintas waktu itu akhirnya berlabuh pada trek kelima, “Fragments of the Sunken World”. Sebagai penutup, Dwi menyajikan Watermellow, sebuah minuman non-alkohol dari serai, madu, dan semangka. Cita rasanya yang manis dan segar menjadi pembersih palet yang sempurna setelah dihajar empat cocktail berat.
Didukung oleh ketukan ritme musik yang lebih up-beat, trek penutup ini seolah menjadi kilatan cahaya yang menyadarkan saya. Saya ditarik paksa keluar dari ruang nostalgia, kembali menginjak bumi masa kini dengan segala kompleksitas dan urusan esok hari.
Malam itu, lima trek dari Kelana Swara Ambarrukmo sukses menjadi portal waktu yang paripurna. Menyatukan telinga, lidah, dan pikiran dalam satu perayaan sensori yang utuh di sudut Jogja. (Adv)
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Sojourn: Alunan Laut Tenang dari Kelana Swara Ambarrukmo, Beri Rasa Lega usai Menepi dari Rutinitas Melelahkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan