Ikhtiar Mencatat Risalah Panjang Ambarrukmo Melintasi 5 Zaman, Situs yang Terus Hidup tanpa Mencerabut Akar

Ilustrasi - Buku "Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri" jadi ikhtiar mencatat risalah panjang kompleks Kedaton Ambarrukmo Yogyakarta melintasi 5 zaman. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Kompleks Kedaton Ambarrukmo mengalami berbagai transformasi dari masa ke masa. Dari kebon raja, pesanggrahan, sempat menjadi dalem Sri Sultan Hamengku Buwono VII setelah turun takhta, hingga menjadi ruang yang bisa diakses khalayak seperti saat ini. 

Kompleks Kedaton Ambarrukmo memang punya risalah panjang yang merentang 5 zaman. Namun yang jelas, ia bukan sekadar bangunan peninggalan masa lampau. Lebih dari itu, ia menjadi simbol identitas khas Yogyakarta dengan seluruh value yang terkandung di dalamnya. 

Jejak panjang dan seluruh value itu bisa dibaca secara utuh dalam buku Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri yang baru saja diluncurkan oleh Ambarrukmo Group di Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo, Selasa (21/7/2026) sore.

Launching buku "Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri" di Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo Yogyakarta MOJOK.CO
Launching buku “Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri” di Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo Yogyakarta. (Aly Reza/Mojok.co)

Ikhtiar mengumpulkan dan mencatat risalah 5 zaman Ambarrukmo

Buku Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri ditulis oleh Sejarawan Sri Margana dan Kurator Seni Mikke Susanto. 

Selama kurang lebih 9 bulan, Margana bergelut dengan arsip-arsip yang berserak untuk menelusuri risalah utuh dari Ambarrukmo. Sementara Mikke Susanto, dalam kapasitasnya sebagai kurator seni, bertugas mengkaji berbagai unsur seni yang bertebaran di dalamnya. 

Secara garis besar, Margana menjelaskan bahwa buku ini mengandung dua unsur: sejarah & politik dan seni. Selain berisi catatan naratif, juga dilengkapi dengan dokumentasi foto, baik penampakan Kedhaton di masa lampau maupun temuan-temuan benda seni dan kaitannya dengan konteks suatu masa yang pernah dilintasi Kedaton Ambarrukmo. 

Buku “Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri” berisi narasi sejarah dan dokumentasi foto lima zaman. (Aly Reza/Mojok.co)

Upaya pengumpulan dan pencatatan tersebut akhirnya mewujud menjadi sebuah buku tebal yang menjadi rekaman 5 zaman eksistensi kompleks Kedaton Ambarrukmo. Dimulai dari masa Kolonial Belanda, Jepang, masa revolusi kemerdekaan, saat ibu kota dipindah ke Yogyakarta, hingga masa modern. 

“Artinya Kedaton Ambarrukmo menjadi saksi peristiwa-peristiwa besar dan penting perjalanan bangsa Indonesia, terutama bagi masyarakat Yogyakarta,” jelas Margana. 

Dengan begitu, buku ini bisa menjadi penghubung bagi generasi sekarang-mendatang untuk mengenal perjalanan bangsanya sendiri. Menjadi ingatan kolektif tentang masa-masa penting yang pernah dilalui dan turut memengaruhi kondisi hari ini. 

Riwayat Kedaton Ambarrukmo: ruang privat raja, cita-cita Soekarno, hingga denyut pariwisata

Selama proses pengerjaan buku, Margana menyebut, di antara hal yang membuatnya tertarik adalah transformasi Kedaton Ambarrukmo di era Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VII. 

“Sri Sultan HB VII adalah satu-satunya Raja Jogja yang lengser dari kedudukan sebagai raja sebelum meninggal,” jelas Sri Margana. Momen itu, lanjut Margana, menandai transformasi kompleks Kedaton Ambarrukmo yang semula merupakan kebon raja, kemudian menjadi kediaman Sri Sultan HB VII. “Itulah kenapa dinamai kedhaton yang berarti istana.”

Sri Sultan HB VII dikenal juga dengan nama Sultan Sugih karena kaya. Di masanya, Yogyakarta memang booming ekonomi perkebunan: tanah-tanah milik keraton banyak disewa pekebun Eropa. 

Saat itu, beber Margana, pengusaha Eropa kesulitan menyewa tanah dalam rentang 50-70 tahun. Sri Sultan HB VII hanya membolehkan maksimal sewa selama 10 tahun. 

“Itu dianggap menghalangi kebijakan Kolonial, sehingga Sri Sultan HB VII dipaksa turun takhta,” papar Margana. 

Launching buku “Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri” di Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo Yogyakarta. (Dok. Ambarrukmo Group)

Setelah turun takhta, Sri Sultan HB VII lantas meninggalkan Keraton, memboyong permaisuri ketiganya Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kencana bersama anak-anaknya. Sri Sultan HB VII menetap di sana hingga wafat pada 1921.

Kedaton Ambarrukmo kemudian pernah digunakan sebagai kantor administrasi Bupati Sleman pada tahun 1947-1964. Total sebanyak lima Bupati Sleman pernah berkantor di kompleks Kedaton Ambarrukmo. Peristiwa ini diabadikan dalam bentuk monumen “Panca Hasta” (Lima Tangan) yang bisa dilihat di sana. 

Pada tahun 1960-an, Kedaton Ambarrukmo memasuki babak baru dalam sejarahnya. Pemerintah Republik Indonesia memutuskan untuk menggunakan dana pampasan perang dari Jepang untuk membangun berbagai proyek, salah satunya adalah Hotel Ambarrukmo. 

“Pada bagian ini, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX perlu di-mention. Sebab, beliau menyediakan tanah raja untuk dibangun hotel sebagaimana cita-cita Soekarno. Dan memang tujuan Sri Sultan HB IX ingin mengembangkan pariwisata Yogyakarta,” terang Margana. 

Apalagi saat itu Yogyakarta masih dipenuhi hotel bekas Kolonial. Bagi Sri Sultan HB IX tentu tidak representatif sebagai wajah pariwisata Yogyakarta, sehingga dirasa perlu untuk memiliki simbol representatif bagi wajah Yogyakarta sendiri. Lalu berdirilah Ambarrukmo Palace yang kemudian bertransformasi menjadi Royal Ambarrukmo Yogyakarta dan saat ini menjadi salah satu ikon perhotelan di wilayah DIY. Tidak hanya menyambut tamu-tamu domestik, tamu di Royal Ambarrukmo Yogyakarta kini juga banyak dari mancanegara. 

Terus hidup dan berkesinambungan tanpa mencerabut akar

Tidak jauh berbeda, Rendra Agusta, pembaca manuskrip kuno yang turut menjadi narasumber dalam peluncuran buku sore itu menyebut, kompleks Kedaton Ambarrukmo punya posisi yang berbeda dari situs-situs sejenis lainnya di Yogyakarta. 

Kata Rendra, manuskrip-manuskrip di Yogyakarta memang tidak banyak membahas posisi pesanggrahan. Kendati di Yogyakarta, selain Ambarrukmo, sebenarnya bisa dijumpai banyak pesanggrahan lainnya. Seperti Situs Warungboto, Tamansari, hingga Pesanggrahan Gembirowati. 

“Ambarrukmo menjadi berbeda karena punya kekhasan sendiri dalam merespons situasi. Transisi dari yg awalnya privat bagi raja kemudian bisa diakses publik,” ujar Rendra. 

“Ambarrukmo menjadi salah satu situs yang secara kesinambungan tidak pernah putus jadi saksi sejarah panjang Yogyakarta, dari kerajaan, masa Kolonial, hingga masa sekarang,” sambungnya. 

Itulah kenapa hadirnya buku Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri sangat penting bagi generasi sekarang-mendatang. Sebab, menurut Rendra, buku ini tidak sekadar bicara soal sejarah Ambarrukmo, tapi mengingatkan perihal bagaimana perubahan zaman tidak lantas mencerabut identitas akar. 

“Ibarat pohon besar, Ambarrukmo ini tumbuh besar dan terus sustain karena akarnya dalam. Contohnya, di era modern, Ambarrukmo beradaptasi, masih menjadi ruang beragam workshop tentang kebudayaan Jawa. Ini penegasan bahwa modernitas tetap harus berakar kuat pada identitas akarnya,” tegas Rendra. 

Suasana launching buku “Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri” di Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo Yogyakarta. (Dok. Ambarrukmo Group)

Memayu hayuning bawana, memayu hayuning Yogyakarta

Apa yang dipaparkan Margana maupun Rendra tersebut hanya satu kepingan saja dari buku Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri. Masih ada berlimpah kepingan-kepingan sejarah dan nilai yang perlu dibaca oleh publik perihal Kedhaton Ambarrukmo. 

Managing Director Ambarrukmo Group, Haris Susanto, berharap buku ini bisa diserap oleh Gen Z hingga Gen Alpha. 

“Karena kami harap buku ini nilainya bisa menjadi sebuah panduan perihal mengenali identitas atau jatidiri kita, khususnya masyarakat Yogyakarta,” ungkap Haris. 

Haris menjelaskan, dalam budaya kerja Ambarrukmo Group, memang ada tiga nilai Jawa yang menjadi pegangan: memayu hayuning bawana, sangkan paraning dumadhi, dan manunggaling kawula Gusti. Secara garis besar, tiga nilai Jawa tersebut mengarah pada kesadaran pada identitas asal. 

Misalnya dalam konteks memayu hayuning bawana (memperindah keindahan dunia (rumah)). Jika masyarakat Yogyakarta mengenal identitas rumahnya (Yogyakarta), maka kemudian akan terjadi memayu hayuning Yogyakarta (memperindah Yogyakarta). Tentu dalam aspek apapun. Entah melalui karya maupun yang lain. 

Buku Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri yang baru saja diluncurkan tersebut sebenarnya merupakan edisi kedua setelah terbitnya edisi pertama pada 2012 silam. Dalam edisi kedua, tim penulis mencoba menambal kekurangan data ditemukannya sumber-sumber baru. Dengan begitu risalah panjang perihal Ambarrukmo bisa dibaca secara lebih utuh. 

Untuk saat ini buku ini bisa dibeli melalui media sosial Ambarrukmo atau dengan datang langsung ke Mirunggan Gallery di Royal Ambarrukmo.***(Adv)

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Sojourn: Alunan Laut Tenang dari Kelana Swara Ambarrukmo, Beri Rasa Lega usai Menepi dari Rutinitas Melelahkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Exit mobile version