Hiruk-pikuk di jalan utama Malioboro, Jogja, ternyata bukan satu-satunya daya tarik utama bagi wisatawan. Beberapa pelancong justru menemukan kedamaian lewat kepakan sayap merpati saat menyusuri gang kecil Kampung Sosromenduran.
***
Deretan pagupon menghias dinding samping pintu masuk Jalan Kampung Sosromenduran, Gedong Tengen, kawasan Malioboro, Jogja. Saat kaki melangkah melintasinya, kepak sayap burung merpati langsung menyambut—berterbangan.
Bagi penikmat fotografi, suasana sebuah sudut gang di Malioboro itu tidak pelak memantik diri untuk mengarahkan kamera: menangkapnya dalam lensa.
Langkah kaki yang mengantar saya ke sudut-sudut kecil Jogja
Deretan pagupon itu saya dapati tanpa sengaja ketika tengah jalan-jalan santai di kawasan Malioboro sejak pagi pada Kamis (24/9/2026).
Saya bukan asli Jogja. Merantau di Jogja juga belum lama. Selama ini saya mengira bahwa Malioboro ya “sebatas” jalanan yang kerap muncul di banyak konten media sosial. Sampai seorang teman mengatakan: Jalan lah ke sudut-sudut kecil kota ini, pasti akan selalu menemukan “sesuatu”.
“Ibarat kamu berkali-kali menyusuri sisi-sisi lain di luar jalan utama Malioboro, nanti bakal nemu saja sesuatu,” begitu kalimat persisnya.
Dan ternyata benar begitu. Beberapa kali mengulangi jalan-jalan santai di Malioboro, saya kerap menemukan sudut-sudut yang hidup dan memberi kesan tersendiri. Seperti beberapa pekan lalu saat saya menemukan toko buku The Lucky Boomerang, lalu siang itu menemukan sudut gang berisi deretan pagupon merpati.
Di Jalan Kampung Sosromenduran siang itu, saya bertemu dengan Ilham (47) yang mulanya tengah duduk-duduk santai di poskamling. Ia mengaku sebagai penghobi sekaligus perawat burung merpati di gang tersebut. Dari Ilham kemudian saya tahu, bahwa keberadaan pagupon merapi tersebut ternyata kerap mencuri perhatian wisatawan yang sengaja atau tidak sengaja melintas.
Deretan pagupon sederhana di kawasan Malioboro yang membuat turis asing senang
Ilham bercerita, turis asing sering keheranan sekaligus kagum saat melihat pagupon kayu sederhana yang ada di Kampung Sosromenduran, kawasan Malioboro, tersebut. Di negara mereka, kandang merpati biasanya dibuat lebih modern atau berbentuk megah seperti menara raksasa.
Pagupon sederhana ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka. Itu lah kenapa, dari pengamatan Ilham, tidak jarang setiap turis asing yang melintas langsung mengarahkan kamera atau ponsel untuk memotret.
“Turis-turis yang lewat sini malah senang. Mereka juga suka memotret merpati di sini. Mungkin teringat dengan suasana Eropa,” ujar Ilham.
Pagupon kayu minimalis nan sederhana yang berjejer di dinding Kampung Sosromenduran, kawasan Malioboro, itu dulunya Ilham beli dari Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakata (PASTY). Pagupon-pagupon itu dihuni oleh 40 merpati yang seluruhnya berjenis tinggian.
“Beberapa (merpati) memang punya saya, tapi ada yang titipan. Yang nitip ya orang-orang sini. Saya bertugas membersihkan dan kasih makan,” jelas Ilham.
“Jadi warga sini ya tidak protes meski letaknya ada di jalan yang jadi lalu-lalang,” sambungnya. Apalagi, keberadaan merpati-merpati itu kemudian toh memberi kesenangan: tidak hanya bagi warga setempat, tapi juga turis asing.
Melatih merpati untuk mengepakkan sayap
Tak hanya itu, Ilham juga “dipercaya” melatih merpati tinggian di sudut gang di kawasan Malioboro tersebut. Bagi Ilham, ada perasaan bangga saat melihat merpati yang dia latih bisa terbang jauh di udara dan bisa kembali ke rumah.
“Saya nggak bisa menjelaskan rasanya, tapi dalam hati itu kayak ada kesenangan tersendiri. Kan kami ini melatihnya dari nol ya, terus sampai dia bisa terbang sejauh 10 meter, 30 meter, bahkan ada yang sampai 2 kilometer, itu rasanya bangga,” tutur Ilham.
Menurutnya, melatih burung merpati terbilang susah-susah gampang. Ia bahkan tak ingat sudah berapa puluhan ekor merpatinya yang hilang karena tidak kembali. Padahal, salah satunya sudah Ilham latih hingga bisa terbang sampai jarak 700 meter.
Jelas saja Ilham gelo. Namun, perasaan itu timbul bukan karena dia merasa rugi berjuta-juta, melainkan ada ikatan batin antara pemilik dengan hewan peliharaan yang sudah dia rawat dari kecil.
“Saya masih ingat, merpati saya namanya Kei. Rumahnya bahkan masih ada sampai sekarang, tapi dia sudah meninggal. Kelindas orang motoran yang lewat sini. Wah, saya sedih sekali, tapi ya mau bagaimana lagi. Malah, saya bersyukur kalau dia hilang, nggak mati,” tutur Ilham.
Kedamaian di sudut gang kecil Malioboro, Jogja
Karena ikatan emosional yang sudah terjalin erat, Ilham pun tak rela menjual merpati-merpatinya. Ada yang menawar dengan harga tinggi pun—setidaknya hingga saat ini—masih ia tolak.
Pria asal Kabupaten Bantul itu mengaku tak tega jika merpatinya harus beradaptasi kembali, padahal burung itu sudah mengenali rumahnya yang ada di kawasan Malioboro. Karena alasan itu lah, Ilham tetap pada pendiriannya untuk tidak menjual mereka.
Baginya, burung merpati adalah keluarga. Lebih dari itu, merpati juga mengingatkan dia pada pengalamannya sewaktu kecil. Saat ayahnya yang juga mencintai burung merpati sering mengajaknya pergi ke Pasar Ngasem untuk melihat-lihat burung.
Di sana, ia bisa mendengar suara kicauan burung-burung yang terdengar riuh. Saat dewasa, suara burung merpati seolah menenangkan jiwanya. Maka tak heran, Ilham selalu menyempatkan diri untuk duduk bersantai di kawasan Malioboro tersebut seperti sekarang ini.
“Lha, wong saya bukan pegawai negeri kok. Jadi bebas, hehe. Saya sekuriti, kerjanya shift. Kalau pagi kerja, sorenya ngurus burung. Kalau sore kerja, paginya ganti ngurus burung,” kata Ilham.
Syukur-syukur, waktu istirahat seperti itu tidak hanya dinikmatinya sendiri, tapi juga turut dirasakan orang lain. Khususnya, wisatawan yang melintas di Kampung Sosromenduran. Lewat kepakan sayap merpati-merpati kesayangannya, Ilham berharap sudut kecil di Malioboro ini bisa terus menjadi oase yang menenangkan bagi siapa pun yang singgah.
Dari sudut gang tersebut, saya kemudian melangkahkan kaki di sudut-sudut lain. Menyelakan waktu dan meresapi momen jalan kaki di kawasan Malioboro, kata seorang teman, masih akan membawa saya ke oase-oase berikutnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Pemkot Jogja Luncurkan Program ‘Setu Sinau’ di Malioboro, Wisatawan Kini Bisa Belajar Budaya Sambil Jalan-Jalan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
