Perayaan Kustomfest 2026 “High Octane” sukses digelar pada 10-11 Oktober 2026 di Jogja Expo Center (JEC). Menampilkan ratusan kendaraan kustom dari berbagai daerah dan juga segala hal tentang dunia otomotif. Acara tersebut tidak hanya menjadi ajang ‘lebaran’ bagi penikmat kendaraan kustom. Melainkan menjadi lebarannya semua umat.
***
Pada Minggu (11/10/2026), saya datang ke Jogja Expo Center (JEC) untuk meliput Kustomfest 2026. Festival kendaraan custom yang mengusung tema High Octane itu memasuki tahun ke-15. Masalahnya, saya termasuk orang yang tidak paham otomotif. Saya tahu motor punya mesin, tetapi jangan berharap saya bisa menjelaskan perbedaan mesin satu kendaraan dengan kendaraan lainnya.
Begitu memasuki arena JEC, saya langsung melihat deretan mobil, motor gede, chopper, hingga Vespa dengan berbagai bentuk dan karakter. dilansir dari Naikmotor, Kustomfest 2026 memamerkan 225 kendaraan, mulai dari sepeda motor, mobil, hingga sepeda. Para builder dan artisan juga membawa karya lain seperti helm, diecast, dan lukisan. Jumlah itu membuat saya sadar bahwa kendaraan custom bukan sekadar urusan mengganti tampilan motor. Ada kreativitas, keterampilan, dan kerja panjang di balik setiap karya.
Saya berkeliling tanpa tahu harus memulai dari mana. Pengunjung lain sibuk mengamati detail kendaraan, membicarakan komponen, atau mengambil foto. Saya justru sibuk mencari tahu mengapa acara yang sudah berlangsung selama 15 tahun ini bisa menarik orang dari berbagai latar belakang, termasuk mereka yang tidak hafal nama komponen mesin.

Motor keranda menjadi daya tarik Kustomfest 2026
Salah satu kendaraan yang menarik perhatian saya datang dari WBikeKustom Garage Kotagede. Mereka membawa motor custom bertajuk “Mayit” atau “Dunia Hanya Sementara”, dengan konsep keranda jenazah. Bentuknya membuat pengunjung berhenti untuk melihat lebih dekat.
Di sekitar motor itu, obrolan pengunjung berkisar pada komponen, spesifikasi mesin, dan ‘biaya’ membangun kendaraan tersebut. Saya mendengarkan sambil berusaha memahami istilah yang muncul dalam percakapan. Bagi mereka, detail teknis itu penting. Bagi saya, gagasan mengubah sepeda motor menjadi karya dengan konsep keranda justru lebih mudah dipahami.
Di Kustomfest, kendaraan kustom menawarkan lebih dari sekadar alat transportasi. Setiap builder punya ruang untuk mengembangkan gagasan, memilih bentuk, dan mengolah material sesuai karakter yang ingin mereka tampilkan.
Kustomfest 2026 juga menghadirkan program seperti Kustom Bike Show, Hot Rod & Kustom Car Show, Flat Track, dan Kustom Bicycle. Ragam program tersebut menunjukkan bahwa festival ini tidak hanya berkutat pada satu jenis kendaraan. Panitia juga menghadirkan ruang bagi karya visual, kompetisi, dan pertemuan antarpelaku kustom kultur.
Mengajak anak ke surga kendaraan custom
Di antara pengunjung yang berkeliling, saya melihat beberapa keluarga datang bersama anak-anak mereka. Saya kemudian berbincang dengan Ifan (27), Wanda (25), dan anak mereka, Azka (4).
Bagi Ifan dan Wanda, Kustomfest bukan hanya tempat berkumpulnya pecinta otomotif. Mereka juga memanfaatkan acara ini sebagai tempat rekreasi keluarga.
“Kustomfest ini selain menjadi surga bagi kami yang juga suka otomotif, juga menjadi tempat rekreasi bagi anak kami. Buktinya, dari tadi anak saya nggak mau diam melihat motor-motor custom, sampai saya kewalahan,” ujar mereka.
Ifan punya alasan lain untuk berkunjung. Di rumah, ia menyimpan motor Honda CB tua yang ingin ia bangun kembali. Ia datang untuk mencari inspirasi, melihat berbagai bentuk modifikasi, dan membayangkan tampilan yang cocok untuk motornya.
“Saya di rumah ada sebuah motor CB tua gitu, Mas. Di sini niatnya mau melihat-lihat, nyari inspirasi, barangkali saya bisa ‘mbangun’ motor saya itu. Ya kalau tidak sama persis, minimal terlihat sangar lah,” katanya sambil tertawa.
Saya lalu bertanya kepada Wanda bagaimana ia menyikapi kegemaran suaminya mengutak-atik motor.
“Saya hanya bisa mendukung hobinya saja sih, Mas. Kan uangnya juga pakai uang dia. Asal tidak mengganggu uang belanja bulanan dan kebutuhan anak, saya rasa aman saja,” ujar Wanda.
Jawaban itu membuat saya melihat sisi lain dari kendaraan custom. Hobi tersebut memang bisa membutuhkan biaya dan waktu, tetapi keluarga punya cara sendiri untuk menyepakati batasannya. Bagi Ifan, festival ini memberi inspirasi. Bagi Wanda dan Azka, perjalanan ke JEC juga menjadi agenda bersama.

Kustomfest 2026 jadi ajang cuci mata, bukan cuma cari tahu mesin
Saya kemudian bertemu Dinda (26) dan Bunga (26), dua perempuan yang datang untuk menikmati suasana Kustomfest 2026. Mereka tidak mengaku sebagai ahli otomotif. Keduanya justru datang untuk melihat-lihat dan cuci mata.
“Ya kami memang niatnya mau lihat-lihat saja sih, Mas, cuci mata juga lihat harga rumah di Jogja berbentuk mobil dan motor ini,” ujar mereka sambil tertawa.
Candaan soal harga rumah itu terasa masuk akal ketika saya kembali melihat deretan kendaraan di arena pameran. Sebagian kendaraan tampil dengan detail pengerjaan yang membuat orang ingin berhenti lebih lama. Namun, saya tidak punya dasar untuk menebak harga sebuah motor hanya dari bentuknya.
Kehadiran Dinda dan Bunga juga mengingatkan saya bahwa pengunjung perempuan tidak harus datang dengan bekal pengetahuan teknis. Mereka bisa menikmati desain, mengambil foto, belajar mengenali jenis kendaraan, atau sekadar menghabiskan waktu bersama teman.
Kustomfest memang identik dengan dunia otomotif yang kerap dipenuhi laki-laki. Namun, pengalaman dua pengunjung ini menunjukkan bahwa ketertarikan terhadap kendaraan custom tidak selalu bermula dari mesin. Kadang-kadang, rasa penasaran terhadap bentuk dan suasana sudah cukup untuk membuat seseorang datang.
SPPC Queen Lekha dan para fakir otomotif di Kustomfest 2026

Di salah satu sudut JEC, saya menemukan instalasi unik milik Queen Lekha Choppers yang mengusung konsep Satuan Pelayanan dan Pembangunan Chopper (SPPC). Instalasi itu menghadirkan suasana dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), lengkap dengan merchandise seperti kaus, workshirt, helm, sarung tangan, dan aksesori lainnya.
Saya berhenti di sana, lalu bertemu Deni (35). Seperti saya, ia baru pertama kali datang ke Kustomfest. Kami sama-sama tidak punya banyak pengetahuan tentang kendaraan custom.
“Jujur amaze sih, Mas. Dari dulu pengen banget datang tapi selalu nggak bisa, makanya sekarang disempatkan, dan rasanya seneng banget,” kata Deni.
Ia mengaku sempat merasa tidak percaya diri sebelum datang. Dalam bayangannya, pengunjung Kustomfest pasti orang-orang yang memahami seluk-beluk motor dan modifikasi. Namun, setelah masuk ke arena, ia menemukan bahwa orang awam seperti dirinya juga bisa menikmati acara tersebut.
“Awalnya nggak pede, Mas, karena pikiran saya yang datang pasti orang yang tahu seluk-beluk motor kustom. Ternyata ada juga orang kayak saya yang plonga-plongo masuk ke sini,” ujarnya sambil mengarahkan pandangan kepada saya.
Saya tertawa. Setidaknya, saya tidak sendirian. Bagi kami, menikmati Kustomfest tidak mensyaratkan kemampuan membaca spesifikasi mesin. Kami bisa mengagumi bentuk kendaraan, mengamati kreativitas para builder, dan menikmati pengalaman baru tanpa berpura-pura memahami semua hal yang kami lihat.
Lima belas tahun menjadi lebaran semua umat
Kustomfest 2026 berlangsung pada 10–11 Oktober di JEC, Yogyakarta. Selama dua hari, festival ini mempertemukan builder, artisan, komunitas, dan penggemar kendaraan custom dari berbagai daerah. Acara tersebut juga menghadirkan tamu internasional dari sejumlah negara, termasuk Jepang, Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat. .
Tema High Octane tahun ini juga hadir ketika pelaku industri kustom menghadapi tekanan ekonomi dan persaingan komponen produksi massal dari luar negeri. Direktur Kustomfest, Lulut Wahyudi, menjelaskan bahwa tema tersebut menjadi dorongan untuk menjaga semangat para pelaku industri kustom tetap menyala. .
Di luar urusan mesin dan kompetisi, Kustomfest juga menyediakan panggung musik yang menghadirkan sejumlah band, termasuk Seringai, Morfem, dan Kelompok Penerbang Roket. Festival ini sekaligus menggelar kegiatan sosial bersama Pemerintah Kota Yogyakarta yang menghimpun dana Rp1,027 miliar untuk mendukung kegiatan sosial dan pendidikan. Dengan begitu, perayaan ini tidak berhenti pada urusan memamerkan kendaraan.
Setelah berkeliling dan berbincang dengan beberapa pengunjung, saya mulai memahami mengapa Kustomfest bisa bertahan selama 15 tahun. Para pecinta otomotif datang untuk melihat karya, mencari inspirasi, dan bertemu komunitas. Keluarga seperti Ifan dan Wanda menjadikannya agenda rekreasi. Dinda dan Bunga datang untuk cuci mata. Sementara Deni dan saya pulang membawa pengalaman baru meski masih sama-sama fakir otomotif.
Kustomfest punya ruang untuk orang yang membangun motor, orang yang ingin belajar, keluarga yang mencari hiburan, sampai orang awam yang sekadar ingin melihat-lihat. Setelah 15 tahun berjalan, barangkali itulah salah satu alasan Kustomfest terasa seperti lebaran: orang datang dengan minat yang berbeda, tetapi bisa menikmati perayaan yang sama. Benar-benar lebaran semua umat.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Pemkot Yogyakarta dan Kustomfest Kumpulkan Donasi Rp1,029 Miliar untuk Bantuan Bedah Rumah dan Pendidikan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan