Usianya sudah 71 tahun. Namun, Joko Sutrisno masih mengemudikan mobil sendiri dari Madura menuju tempat perhelatan bulutangkis Audisi Umum PB Djarum 2026 di Kudus, Jawa Tengah. Di dalam mobil itu ada empat anak didiknya yang sedang mengejar kesempatan menjadi atlet bulu tangkis profesional.
***
Salah satu anak didik yang dibawa adalah Jihan Makaila (11), atlet perempuan asal Gowa, Makassar. Jihan merupakan anak didik Joko sejak masih kelas 1 SD. Kali ini, perjalanan mereka membuahkan hasil. Jihan berhasil lolos ke babak berikutnya dalam Audisi Umum PB Djarum 2026.
Bagi Joko, mengantar atlet bulutangkis bertanding bukan sekadar urusan datang ke lokasi, lalu menunggu pertandingan selesai. Ia ingin memastikan anak-anak yang dibinanya mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.
Di PB Angkasa Bangkalan, Joko bahkan lebih sering dipanggil “Mbah”. Bukan cuma karena usianya paling tua di antara para pelatih dan atlet, tetapi karena ia memang sudah dianggap seperti kakek oleh anak-anak binaannya.
Dari Gowa ke Madura untuk audisi umum PB DJarum 2026 dan hantarkan anak didiknya meraih asa
Joko sebenarnya sudah cukup lama berada di Gowa, Makassar. Di sana ia membina sejumlah atlet muda, termasuk Jihan. Ia mulai menangani Jihan bermain bulutangkis sejak 2020, ketika anak itu baru duduk di kelas 1 SD. Bertahun-tahun dibina di Gowa, Jihan kemudian dibawa pindah ke Madura pada awal 2026.
Kepindahan itu bukan tanpa alasan. Joko sedang ikut merintis PB Angkasa Bangkalan. Klub tersebut baru berdiri sekitar empat bulan ketika Joko membawa para atlet binaannya untuk berlatih di sana.
“Memang baru merintis, Mas. Sehingga baru ada 16 atlet binaan kami, dengan enam atlet perempuan yang berasal dari Makassar, Jogja, dan Madura,” kata Joko kepada Mojok, Jumat (11/09/2026).
Jihan menjadi salah satu atlet yang ikut dalam proses awal tersebut. Bagi Joko, membangun klub dari nol berarti harus siap dengan banyak keterbatasan. Jumlah atlet belum banyak, fasilitas dan sumber daya juga masih harus dikembangkan. Namun, ia memilih tetap menjalankannya.
Latihan berlangsung hampir setiap hari. Sabtu dan Minggu digunakan untuk beristirahat. Usia membuat tubuh Joko tidak lagi sekuat ketika masih muda. Ia juga tidak mungkin mengerjakan semuanya seorang diri. Karena itu, ada asisten yang membantu proses latihan. Meski begitu, Joko masih berusaha hadir dan menemani anak-anak binaannya.

Ikhlas melatih dan tidak mau membebani orang tua atlet
Salah satu hal yang membuat PB Angkasa berbeda adalah biaya pembinaannya. Joko menyebut biaya pembinaan bulutangkis sekitar Rp1,5 juta per bulan. Angka itu sudah mencakup makan, latihan, tambahan nutrisi, sampai akomodasi ketika atlet mengikuti turnamen.
Biaya tersebut relatif rendah jika dibandingkan dengan pembinaan di sejumlah klub lain yang menurut Joko bisa mencapai Rp4-5 juta per bulan. Namun, Rp1,5 juta pun tidak selalu menjadi harga mati. Untuk atlet dari keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi, Joko memilih menyesuaikan biaya berdasarkan kemampuan keluarga.
“Sesuai kemampuan ekonomi keluarga mereka saja. Saya tidak tega kalau misal harus mematok harga,” ujar Joko.
Ia mencontohkan Farel (10), salah satu atlet asli Madura yang berasal dari keluarga buruh.
“Farel itu keluarganya hanya buruh. Apa ya saya tega minta uang segitu per bulan, sedangkan gaji bapak ibunya saja mungkin masih harus dibagi dengan kebutuhan lain,” lanjutnya.
Bagi Joko, pembinaan atlet muda tidak seharusnya hanya bisa dinikmati anak-anak yang orang tuanya mampu membayar mahal. Ia lebih memilih mencari jalan agar anak-anak tetap bisa berlatih. Prinsip itu pula yang ia terapkan kepada Jihan dan atlet-atlet lainnya ketika mengikuti turnamen. Termasuk saat Audisi Umum PB Djarum. Tidak ada biaya tambahan khusus yang ia minta kepada keluarga atlet untuk perjalanan tersebut.
Nyetir mobil sendiri dari Madura untuk hantarkan anak didiknya menjadi atlet nasional
Perjalanan menuju Audisi Umum PB Djarum 2026 menjadi salah satu gambaran bagaimana Joko menjalankan perannya sebagai pelatih. Ia membawa empat atlet dari Madura. Tidak menggunakan sopir khusus, Joko sendiri yang mengemudikan mobil.
Di usianya yang sudah 71 tahun, perjalanan jauh tentu bukan perkara ringan. Namun, Joko tidak melihatnya sebagai sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Baginya, anak-anak itu harus tetap mendapatkan kesempatan bertanding. Jika ada cara yang bisa dilakukan untuk menghemat biaya sekaligus memastikan mereka sampai ke lokasi, ia akan melakukannya.
Joko juga tidak sekadar berangkat ketika ada turnamen. Sehari-hari ia tetap terlibat dalam pembinaan. Ia menyebut tantangan terbesar saat ini adalah kondisi fisiknya yang sudah tidak seperti ketika muda.
“Kalau tenaga memang sudah tidak seperti dulu,” katanya.
Karena itu, keberadaan asisten menjadi penting. Tetapi Joko tetap menyempatkan diri menemani anak-anak yang ia sebut sebagai cucu-cucu binaannya. Usia boleh membuat langkahnya tidak secepat dulu. Tetapi pekerjaannya sebagai pelatih belum berhenti.
Mimpi atlet putri di audisi PB Djarum 2026 dan harapan dari lapangan kecil di Madura

Joko juga melihat peluang besar bagi atlet putri dalam pembinaan bulu tangkis saat ini. Ia senang melihat PB Djarum memberikan perhatian lebih terhadap pembinaan atlet perempuan. Menurutnya, kesempatan tersebut penting karena atlet putri juga memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pemain profesional.
Jihan adalah salah satu anak yang sedang mencoba mengambil kesempatan tersebut. Ia datang dari Gowa, kemudian pindah ke Madura, berlatih hampir setiap hari, lalu menempuh perjalanan jauh bersama pelatihnya untuk mengikuti Audisi Umum PB Djarum 2026. Kini Jihan berhasil melangkah ke babak berikutnya.
Bagi Joko, hasil itu mungkin baru satu tahap kecil. Masih panjang jalan yang harus dilalui Jihan dan atlet-atlet lainnya. PB Angkasa pun masih berusia empat bulan. Jumlah atletnya baru 16 orang. Klub tersebut masih merintis dan tentu belum memiliki segala sesuatu yang dimiliki klub-klub besar. Namun, Joko percaya pembinaan tidak selalu dimulai dari tempat yang serba lengkap.
Kadang-kadang, pembinaan bulutangkis dimulai dari lapangan latihan, pelatih yang mau bertahan, orang tua yang berusaha membiayai anaknya, dan perjalanan panjang menggunakan mobil yang disetir sendiri oleh seorang pelatih berusia 71 tahun. Joko mungkin sudah terlalu tua untuk disebut sebagai atlet. Tetapi ia belum merasa terlalu tua untuk membantu anak-anak muda mengejar mimpi mereka.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Persaingan Ketat Para Atlet Putri di Audisi Umum PB Djarum 2026 Kudus, Pernah Gagal tapi Berjuang Lagi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan