Sekitar 220 meter dari gapura besar dengan tiang berukiran naga di Malioboro (Kampung Ketandan), terdapat sebuah angkringan bergaya khas Tionghoa dengan tulisan “Fu Lu Shou” pada gerobaknya. Sebuah doa keberuntungan bagi sang pemilik maupun orang-orang yang mengunjunginya.
***
Desain sebuah gerobak angkringan yang didominasi cat berwarna merah dan kuning menyita perhatian saya, saat menyusuri Kampung Ketandan pada Kamis (24/9/2026) siang. Seorang pedagang dan pembelinya tampak bercakap-cakap dengan ramah di bawah plang bertuliskan “Fu Lu Shou”.
Sebagaimana sistem penulisan aksara Tionghoa yang memiliki makna pada tiap karakternya, Fu Lu Shou merupakan simbol dari tiga dewa keberuntungan.
Menurut kepercayaan Tiongkok, Fu adalah lambang keberuntungan dan kebahagiaan keluarga. Sementara Lu berarti lambang kekayaan, kemakmuran, serta kesuksesan karier. Dan Shou berarti umur panjang serta kesehatan yang prima.
Di sela jalan-jalan menyusuri Kampung Ketandan di kawasan Malioboro, Jogja, saya pun mampir di angkringan yang kemudian saya tahu bernama Angkringan Sekar Ndut tersebut.

Menurut Tika, si pemilik Angkringan Sekar Ndut, aksara Tionghoa tersebut dulu ditulis oleh mendiang ayahnya. Bukan sekadar untuk penghias, tetapi menjadi semacam ukiran doa harapan keberuntungan. Dan benar saja, keberuntungan yang berasal dari gerobak tersebut selalu menyertai langkah Tika dan orang-orang di sekitarnya.
Gerobak bergaya Tionghoa di Kampung Ketandan yang memakmurkan keluarga
Tika mengaku bukan keturunan Tionghoa, ia hanya berusaha mendesain gerobak angkringannya sesuai dengan tempat dia berjualan di Jalan Ketandan, sebelah utara Pasar Beringharjo, Malioboro.
“Sebenarnya gerobak ini dari almarhum bapak yang mengecat, dulu nggak begini. Warnanya masih full cokelat tapi karena bangunan di sekitar kami sudah bergaya seperti ini, jadi bapak mau nambah-nambah ornamen kayak lampion juga,” tutur Tika saat berbincang dengan Mojok sembari membuat pesanan.
Tika manut-manut saja dengan keinginan sang bapak, asal tujuannya bisa menarik pembeli, meskipun esensi menu yang ditawarkan tetaplah makanan dengan kearifan lokal alih-alih chinese food.

“Saya bukanya sudah dari pagi Mbak, nanti sekitar jam 16.00 WIB tutup karena kalau malam pesaingnya malah banyak,” kata Tika yang sudah lebih dari 15 tahun berdagang di Kampung Ketandan, Malioboro.
Ia mengaku menunya sering kali habis sebelum sore karena banyak orang mampir. Jika sudah begitu, dia biasanya akan menawarkan dagangan Ayam Penyet Cabe Ijo Mbok Galak milik adiknya, karena dagangan adiknya berada tepat di samping angkringan miliknya,
“Ini cabe ijonya mantap pol Mbak, adik saya baru buka di sini. Harganya cuma Rp13 ribu,” ucapnya.
Angkringan Sekar Ndut: jujugan bagi wisatawan
Pembeli Angkringan Sekar Ndut, kata Tika, banyak berasal dari wisatawan mancanegara hingga warga sekitar. Meski lokasinya tidak berada di pusat keramaian Malioboro, Tika mengaku selalu ada pelanggan yang mampir terutama saat Imlek.
Potensi wisatawan yang mampir ke angkringan Tika sejalan dengan rencana Malioboro yang akan menjadi kawasan full pedestrian. Mengusung program “Malioboro Mulyà: Mlaku, Mampir, Mangerteni”, diharapkan para wisatawan bisa merasakan pengalaman wisata di kawasan Malioboro secara lebih eksploratif.
Tidak hanya berjalan di jalan utama, tapi juga bisa menemukan hidden gem kuliner, tempat singgah, maupun tempat-tempat unik lain di sudut-sudut gang di kawasan Malioboro, seperti yang saya temukan di Kampung Ketandan, Malioboro.

Nyatanya, gerobak angkringan bertuliskan Fu Lu Shou milik Tika mampu menarik perhatian saya dan wisatawan sekitar.
Dan Fu Lu Shou yang berarti berharap keberuntungan tersebut memang benar-benar memberi “keberuntungan” bagi Tika dan keluarga. Gerobak angkringan tersebut telah menjadi tulang punggung Tika untuk membiayai kebutuhan hidup anaknya usai Tika memutuskan berpisah dengan pasangan.
Setidaknya, dari penghasilannya tersebut, Tika masih mampu menyekolahkan anaknya hingga SMA. Lebih dari itu, angkringan Sekar Ndut kini bahkan menjadi tujuan utama warga. Tak jarang, saya pun melihat beberapa pedagang kaki lima maupun tukang parkir yang menjadi langganan Tika.
Sesekali, Tika bahkan menyapa tukang kerupuk yang lewat di jalanan Kampung Ketandan untuk mampir atau mengingatkan pedagang dawet guna membayar utang minumannya.
“Pak e, aja lali rongewune ya (Pak, jangan lupa Rp2 ribunya ya),” teriak Tika.
Sambil mendorong gerobaknya menuju jalanan pusat Malioboro, pedagang dawet itu hanya tersenyum sambil melambaikan tangan.
Namun Tika tampaknya sudah biasa. Baginya, angkringan Sekar Ndut lebih dari sekadar tempat mencari nafkah, melainkan wujud doa bapak yang terus menyala.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kala Pagupon Merpati di Sudut Gang Kecil Malioboro Jadi Titik Singgah Menenangkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan