Di balik puluhan ribu apem yang disebar setiap tahun dalam puncak perayaan Sedekah Apem Ya Qowiyyu di Jatinom, Klaten, ada tangan-tangan perempuan yang terus berupaya menjaga agar warisan kuliner ini tidak lekang oleh waktu.
Lebaran apem ala warga Jatinom Klaten
Beberapa hari sebelum puncak Sedekah Apem Ya Qowiyyu, dapur di rumah-rumah warga Jatinom, Klaten, sudah mulai sibuk membuat adonan apem. Ada yang memang untuk jualan, ada yang khusus disetorkan ke Yayasan Pengelola Pelestari Peninggalan Kiai Ageng Gribig (P3KAG) untuk dijadikan sebagai gunungan.
Pada hari puncak, jalanan antara rumah-rumah warga Jatinom kemudian menjelma menjadi surga apem. Mayoritas ibu-ibu membuka stand-stand untuk jualan salah satu kuliner khas Klaten itu. Karena memang yang datang mengikuti Sedekah Apem Ya Qowiyyu tidak sedikit berasal dari Klaten: selain mengharap berkah dari prosesi sebaran apem ya qowiyyu, pengunjung juga ingin membeli apem khas Jatinom tersebut.

Kata Suti, salah seorang penjual apem ya qowiyyu, pemandangan semacam itu selalu bisa dijumpai di Jatinom di setiap bulan Safar: bulan perayaan sedekah apem bagi warga setempat.
“Istilahnya sedekahan apem ya qowiyyu. Bagi warga sini sudah seperti lebaran,” tutur perempuan menjelang kepala enam tersebut saat berbincang di warungnya, Jumat (31/7/2026) siang.
Warga Jatinom Klaten kurang afdal kalau tidak bisa membuat apem
Suti sebenarnya bukan asli Jatinom, Klaten, melainkan dari Boyolali. Ia mulai banyak tinggal di Klaten sejak 1980-an untuk bekerja. Ia kemudian menikah dan menghabiskan masa hidupnya di Jatinom.
Awalnya Suti tidak bisa membuat apem. Namun, karena mayoritas warga—terutama perempuan—punya keterampilan tersebut, lambat-laun Suti pun mencoba mempelajarinya.
“Dulu belajarnya dari orang-orang tua. Bagi warga sini, rasanya kurang afdal kalau tidak bisa membuat apem,” ucap Suti.
Karena memang, warga setempat menganggap apem bukan sekadar makanan. Tapi menjadi warisan bernilai tradisi dan spiritual.
Sebab, jika ditilik dari sejarah tutur yang berkembang di tengah masyarakat Jatinom, apem ya qowiyyu berhubungan erat dengan dakwah Kiai Ageng Gribig yang dikenal sebagai sosok penyebar Islam di daerah tersebut.
Dulu Kiai Ageng Gribig menggunakan apem sebagai medium untuk mengajarkan ibadah sosial: sedekah/berbagi kepada sesama. Adapun nama “ya qowiyyu” merujuk doa yang konon diucapkan Kiai Ageng Gribig saat membagi-bagikan apem kepada masyarakat di masa itu.
Kurang lebih: Yaa qowiyyu yaa aziz qowwina wal muslimiin, yaa qowiyyu warzuqna wal muslimiin. Yang artinya: Wahai Yang Maha Kuat dan Mulia berilah kekuatan kepada kami dan segenap umat Islam, wahai Yang Maha Kuat berilah rezeki kepada kami dan segenap orang Islam.
“Jadi membuat apem itu diwariskan turun-temurun karena niatnya nguri-uri tradisi. Berharap keberkahan juga karena kita terus membuat makanan yang dulu dibuat oleh ulama, berharap selalu diberi kekuatan hidup dan rezeki sama Gusti Allah,” beber Suti.
Berkah spiritual, sosial, dan ekonomi
Suti sendiri pada akhirnya mulai ikut jualan apem sejak 2015. Bedanya dengan kebanyakan warga yang sudah mulai jualan untuk sehari-hari, Suti masih hanya jualan di bulan Safar saja.
“Kalau dulu, orang itu baru membuat dan jualan apem waktu perayaan sedekah ya qowiyyu. Yang jualan untuk sehari-hari masih jarang. Sekarang justru yang jualan buat sehari-hari semakin banyak. di pinggir-pinggir jalan banyak,” kata Suti.
Hal itu, lanjut Suti, menunjukkan bahwa apem ya qowiyyu khas Jatinom, selain dipercaya memberi berkah secara spiritual juga memberi berkah ekonomi bagi warga. Karena dari jualan itu bisa menjadi nafkah keluarga.
Sementara Suti memilih jualan hanya saat bulan Safar memang dengan tujuan merasakan vibes “lebaran apem” sebagaimana masa-masa dulu. Toh sehari-hari ekonomi keluarganya sudah ditopang dari hasil membuka warung bakso.
“Jadi berkah sosial karena kalau menuju puncak perayaan seperti ini saya kasih pekerjaan ke kerabat buat ikut membuat apem, karena yang beli alhamdulillah masih banyak. Nanti dikasih upah,” imbuh Suti.
Sebelum berbincang dengan Suti, saya sempat berbincang dengan ibu-ibu pembuat apem di warung Bu Suti. Sepengakuannya, dalam dua hari terakhir menuju puncak acara, ibu-ibu pembuat apem itu bisa dibilang hampir 24 jam tidak berhenti.
“Karena permintaan pasti banyak, Mas. Jadi ya seneng,” tuturnya. Sejak pagi, warung apem Bu Suti memang jadi jujukan banyak pembeli. Ada sekitar tiga perempuan yang bertugas membuat apem. Lalu dua orang perempuan bertugas melayani pembeli.
Menjaga cita rasa asli agar tidak lekang oleh waktu
Dari tahun ke tahun, setiap perayaan Sedekah Apem Ya Qowiyyu, Suti mengaku bisa menjual 3-5 kuintal apem, saking larisnya. “Ada yang memang sudah langganan. Kalau menjelang puncak acara sudah tanya, ‘Sudah bikin apem belum?’,” akunya.
Ada alasan kenapa apem milik Suti cukup membekas di pelanggan. Yang paling utama, Suti memang menjaga betul komposisi dasarnya sebagaimana dibuat oleh orang-orang tua zaman dulu.
“Kalau cara orang dulu buat pengembang apem itu pakai tape. Tepungnya juga pakai tepung asli. Kalau sekarang kan ada yang pakai baking powder,” jelas Suti.
Suti hati-hati betul dengan adonan apem buatannya. Sebab, ia ingin menjaga cita rasa asli apem sebagaimana buatan orang-orang tua zaman dulu. Ia berusaha menjaga teksturnya agar tidak terlalu padat atau bantat tapi juga tidak terlalu lembek. Pokoknya dibuat serba pas.
Selain itu, Suti juga mencoba mengembangkan varian lain selain original, terutama varian yang diminati anak muda zaman sekarang seperti cokelat hingga pandan.
“Apem itu warisan leluhur Jatinom, jadi harus terus diwariskan ke anak-anak. Anak saya juga tetap saya ajari, setidaknya bisa membuat apem, jadi masih ada penerus yang bisa membuat apem di Jatinom,” tutup Suti. Semakin siang, warungnya semakin ramai diserbu pembeli.
Untuk varian rasa sendiri, banyak penjual apem di Jatinom yang memang menyadari pentingnya tetap kontekstual dengan perkembangan zaman. Saat saya menyusuri gang-gang di Jatinom, saya mendapati banyak warung menjual varian rasa-rasa: seperti keju, nangka, dan lain-lain. Tangan-tangan para pembuat apem di Jatinom itu memang berupaya menjaga warisan kuliner tradisional tersebut terus eksis sampai sekarang. ***(Adv)
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Buka Coffee Shop di Klaten Tanpa Ekspektasi Justru Ramai Dikunjungi, Tandai Tren Baru Warlok hingga Jadi Incaran Pelancong atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan