Dalam beberapa kasus, UTBK SNBT memang tidak serta merta urusan kemampuan akademik. Tapi juga bicara soal keberuntungan. Sebab, faktanya, ada siswa yang dikenal pintar di masa SMA tapi gagal lolos UTBK SNBT untuk tembus menjadi mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Ujung-ujungnya terdampar kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) dan malah menjadi mahasiswa goblok yang nyaris drop out (DO).
***
Dua kali gagal lolos UTBK SNBT membuat Karim (26) merasa kalau Tuhan tidak adil padanya. Sebab, selama SMA di Jawa Timur, Karim dikenal sebagai salah satu siswa terpintar.
Bahkan sedari SD, Karim sudah langganan juara kelas. Namanya juga kerap muncul di top 3 paralel. Terutama sekali, ia membidangi Matematika dan Ilmu Alam (Biologi, Fisika, dan Kimia). Itu tidak lepas dari kultur pendidikan di keluarganya yang begitu kuat. Sejak SMP orang tua Karim—yang keduanya adalah guru PNS—memberi Karim fasilitas les privat.
Tidak heran jika ia tumbuh sebagai salah satu siswa terpintar. Selama SMP-SMA, namanya sering dipanggil untuk mewakili sekolah dalam berbagai kompetisi akademik. Terutama untuk bidang Matematika dan Ilmu Alam.
Karena catatan tersebut, Karim jelas sangat optimis bisa kuliah di universitas terbaik. Saat itu ia mengincar kuliah di Universitas Brawijaya (UB). UIN sama sekali tidak masuk dalam rencana hidupnya.
Gagal UTBK SNBT untuk Universitas Brawijaya (UB) padahal les privat, terpaksa kuliah UIN buat pelarian
Ketika gagal SNBP pada 2017 (waktu itu masih SBMPTN), Karim sebenarnya sudah mulai mempertanyakan: apa yang kurang dari prestasinya sampai tidak lolos untuk kuliah di UB?
Namun, saat itu, ia masih punya harapan di UTBK SNBT (saat itu masih SBMPTN). Maka, demi lolos ke Universitas Brawijaya (UB), Karim sampai mengikuti les privat untuk mempelajari soal-soal UTBK SNBT.
Sayangnya, ia tetap tidak lolos juga. Di titik itulah harga dirinya merasa runtuh. Malu di hadapan teman-temannya yang lain: tidak pintar-pintar amat tapi bisa lolos universitas terbaik dan bergengsi. Sementara Karim, punya label siswa terpintar malah tidak bisa bicara banyak.
“Orang tua sebenarnya mengarahkan ke swasta. Tapi aku kan penginnya Universitas Brawijaya. Orang tua nawari tes mandiri UB. Tapi aku masih punya plan buat daftar SBMPTN tahun berikutnya ke UB,” ujar Karim, Selasa (31/3/2026).
Sebagai pelarian dan mengisi waktu menanti UTBK SNBT tahun berikutnya, Karim yang kebetulan lulus UIN, akhirnya memutuskan untuk menjalani dulu kuliah di UIN. Tapi rencananya itu hanya pelarian sesaat. Targetnya tetaplah menjadi mahasiswa UB.
2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya, terpaksa lanjut menjadi mahasiswa UIN meski gagap
Tapi di UTBK SNBT tahun berikutnya pun, di tengah-tengah aktivitas Karim menjadi mahasiswa UIN, ia masih tidak bisa tembus kuliah di UB. Artinya, sudah dua kali ia gagal UTBK SNBT.
Maka, daripada tidak kuliah sama sekali, ia mencoba ikhlas melanjutkan kuliah di UIN. Toh ia sudah kecewa dan sudah putus asa kalau mau coba-coba UTBK SNBT lagi. Sementara kalau daftar di swasta atau secara mandiri, ia tidak siap dengan biaya lebih mahal yang harus dikeluarkan. Biarlah Universitas Brawijaya menjadi sebatas cita-cita yang telah pupus.
Tapi kuliah di UIN benar-benar membuatnya gagap. Pertama, mayoritas mahasiswa UIN adalah lulusan pesantren. Sementara Karim tidak. Alhasil, ia merasa ada gap budaya dan intelektual antara ia dan mahasiswa lain.
“Ada intensif Bahasa Arab dan kajian kitab gundul di semester awal. Asli aku kowah-kowoh (plonga-plongo),” ungkap Karim.
Jadi mahasiswa goblok gara-gara salah jurusan dan pergaulan
Seiring waktu, Karim juga merasa tiba-tiba menjadi mahasiswa goblok di UIN. Persoalannya adalah karena ia salah jurusan.
Di UTBK SNBT, Karim sebenarnya mendaftar Matematika UB. Namun, di UIN, ia justru mengambil jurusan lain di Fakultas Humaniora. Saat itu, niatnya sebenarnya iseng-iseng daftar di jurusan yang punya potensi mudah tembus. Dan ternyata memang ia tembus.
“Aku dari SMP-SMP kan memang fokusnya di Matematika dan Ilmu Alam, sehingga kalau ngomongin agama-agama, kayak kepontal-pontal ngikutinya,” kata Karim.
Alhasil, saat teman-temannya sibuk diskusi di kelas, Karim hanya bisa diam sambil ngang-ngong-ngang-ngong. Tugas-tugas kuliah pun ia kerap mengandalkan teman sekelompok.
Tidak hanya merasa jadi mahasiswa goblok karena salah jurusan di UIN, Karim lama-lama juga mendapat cap sebagai mahasiswa yang tidak diharapkan oleh sebuah kelompok. Pokoknya kalau ada kelompok yang ada namanya, mahasiswa di kelompok tersebut—terutama cewek-cewek—pasti langsung menggerutu.
“Aku merasa nggak bisa ngikuti mata kuliah. Itu bikin males. Jadi aku jarang masuk. Kalau ada tugas juga nggak kukerjakan saking malesnya. Jadi ya ngulang-ngulang mata kuliah akhirnya,” kata Karim.
Apalagi didukung dengan lingkaran pertemanan Karim yang isinya mahasiswa-mahasiswa pemalas. Itu membuat Karim merasa ada teman untuk kuliah sekadarnya.
Nyaris DO dan diancam tidak dibiayai orang tua
Habit malas itu membuat Karim menjadi satu dari sedikit mahasiswa UIN yang nyaris terancam DO. Sebab, hingga menjelang semester 12, ia tidak kunjung merampungkan skripsi.
Orang tua Karim pada akhirnya pun mempertanyakan: apa yang terjadi pada Karim? Menimbang, selama ini Karim dikenal sebagai siswa terpintar di SMA. Selain itu, tiap kali ditanya orang tua, Karim juga selalu bilang kuliahnya beres.
“Orang tua ngiranya, karena aku pinter, aku bisa adaptasi di bidang ilmu apapun. Padahal, bidang ilmu di jurusan yang kuambil di UIN ini beda sama sekali dengan Sains. Ya namanya juga hasil iseng,” tutur Karim.
Orang tua Karim lantas memberi tenggat ke Karim: pokoknya harus selesai skripsi semester 13. Kalau semester 13 tidak kunjung ada progres, maka orang tua Karim menegaskan akan memutus aliran uang saku ke Karim.
Karim sempat berpikir untuk mencari joki skripsi. Namun, ada gengsi sebagai siswa terpintar yang menahannya: masa mantan siswa terpintar skripsinya pakai jasa joki?
Alhasil, dengan susah payah dan lewat bantuan teman, Karim bisa menuntaskan skripsinya di semester 13. Hanya saja, masalah berikutnya: sebagai mantan siswa terpintar, ia malu karena kariernya berakhir sebagai guru honorer bergaji Rp300 ribu. Karena ijazah UIN yang ia punya, apalagi dengan catatan lulus molor, ia kesulitan mencari pekerjaan di sektor formal.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Diajar Dosen “Absurd” saat Kuliah UIN: Isi Matkul Paksa Sesatkan dan Mengafirkan, Ujian Akhirnya Praktik Wudu yang Berakhir Nilai C atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
