Jabatannya di kampus cukup seram, panglima tempur jalanan. Sebab, selain kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) di Jogja, Ryaas Amin harus pintar membagi waktu untuk ngojol atau menjadi pengemudi ojek daring.
Selesai ngampus langsung narik
Semakin dewasa, Ryaas Amin menyadari bahwa biaya kebutuhan pribadinya tidaklah sedikit, tapi ia tak mau terus-terusan bergantung ke orang tua. Di malam-malam panjang meratapi nasib, Ryaas Amin memutuskan menjadi pengemudi ojol tanpa memutus impiannya untuk meraih gelar sarjana di UGM.
“Sebenarnya kalau manajemen waktu, aku biasanya mulai merencanakannya pas memilih mata kuliah atau saat masa KRS,” kata Ryaas dikutip dari laman resmi UGM, Senin (2/2/2026).
“Jadi, saat memilih mata kuliah, aku juga harus mempertimbangkan jumlah SKS sebagai patokan waktu antara waktu kuliah dan bekerja,” lanjutnya
Hanya saja, Ryaas mengalami kendala karena tak punya motor pribadi. Akhirnya, ia meminjam motor milik sang kakak dan digunakan secara bergantian. Saat motor kakaknya nganggur, Ryaas memakainya untuk menghantar dan menjemput pesanan.
Lambat laun, saat pesanannya mulai banyak, Ryaas mulai memakai motor milik pamannya. Kini, ia tak hanya mengantar penumpang tapi juga mengambil layanan pesan-antar makanan. Dalam sebulan, Ryaas bisa mengumpulkan uang sebanyak Rp3 juta. Lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di Jogja serta membayar kuliahnya secara pribadi di UGM.
Tak melepaskan mimpi jadi sarjana UGM
Sejujurnya, menjalani kuliah di UGM sambil ngojol bukanlah keputusan mudah bagi Ryaas. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan, termasuk takut tak bisa menyelesaikan kuliahnya dan takut tak diberi izin oleh orang tuanya. Beruntung, mereka mendukung setiap langkah Ryaas.
“Orang tua selalu mendukung, tapi nggak secara terang-terangan. Yang penting, kuliah sama kerjanya seimbang,” kata Ryaas sembari tersenyum.

Tekanan hidup telah mengalahkan Ryaas untuk mengambil jalan hidup yang terjal. Tapi nyatanya, setelah dilakukan dengan konsisten, ikhlas, dan sabar, hal yang tadinya berat kini terasa lebih ringan.
“Kalau pekerjaannya tuh sebenernya relatif mudah, karena fleksibel dan bisa dilakukan di mana aja. Kalau ditekuni tuh penghasilannya juga tidak mengecewakan, kok,” ujarnya.
Bagi Ryaas, uang memang penting tapi sejatinya ilmu lebih berharga dari itu. Ia ingin membuktikan peribahasa yang diyakini oleh orang-orang hebat, bahwa di mana ada kemauan di situ ada jalan. Dengan kata lain, sebuah impian dan keinginan merupakan hal yang harus diperjuangkan.
Oleh karena itu, Ryaas selalu berusaha untuk mewujudkan impiannya dengan usaha dan kerja keras, meski jam tidurnya harus berkurang. Namun, hal itulah yang menjadi motivasi utamanya dalam menjalani kuliah di UGM, sembari menekuni pekerjaannya sebagai pengemudi ojek online.
“Penghasilan bisa diatur. Ada saatnya istirahat, ada saatnya harus bekerja. Jadi kalau memang memiliki keinginan, kita harus benar-benar mengusahakannya,” ucapnya mantap.
Pelajaran hidup jalani kuliah sambil kerja
Kebutuhan yang mendesak tidak selalu sejalan dengan ketersediaan sumber daya yang ada. Keinginannya untuk lebih berani dalam mengambil keputusan dan hidup mandiri, membuatnya terus berusaha mengupayakan impiannya. Lebih dari itu, ia tidak ingin bergantung secara terus-menerus kepada orang tuanya.
“Aku tuh pengen sesuatu, tapi aku pengen mewujudkannya atas usahaku sendiri. Jadi, kalau misal itu zonk, aku nggak merasa ngerugiin orang tuaku,” ungkapnya.
Pengalaman kuliah sambil kerja ini menjadikan Ryaas sebagai pribadi yang lebih tangguh dan gigih dalam berusaha. Menurutnya, usaha yang telah ia tekuni dapat menjadi bekalnya nanti dalam menjalani kehidupan setelah menyelesaikan kuliah.
Kini, ia merasa lebih terbiasa menghadapi berbagai rintangan dan permasalahan.
“Proses ini bisa jadi bekalku setelah lulus kuliah nanti, sih. Aku jadi bisa terbiasa mengatur skala prioritas, multi-tasking, dan kadang mengatasi konflik dari para pelanggan.” Ujar mahasiswa Fakultas Psikologi UGM tersebut.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kuliah Teknik Pertambangan UNHAS hingga Dapat Beasiswa LPDP ke Tiongkok, Ubah Nasib Driver Ojol Jadi Supervisor atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













