Bekal hobi masak dan keberanian mengambil langkah menyelamatkan seorang lulusan Departemen Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) dari keputusasaan. Dari merintis usaha keripik singkong, usahanya justru merambah ke banyak sektor.
Lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak luput dari PHK saat bencana melanda
Kondisi keuangan Anselmus Way sebenarnya masih aman-aman saja setelah menjadi lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebab saat itu ia langsung bisa bekerja.
Akan tetapi, situasi berubah saat pandemi Covid-19. Banyak kantor/perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja. Salah satunya adalah tempat Anselmus bekerja. Sialnya, pria asal Nias, Sumatera Utara, itu juga menjadi salah satu karyawan yang kena PHK.
Jelas Anselmus tidak pernah menduga bakal menghadapi situasi tersebut. Terlebih, selain PHK, pandemi Covid-19 juga menerjang Anselmus dengan ujian keluarga bertubi-tubi.
“Pandemi Covid-19 awal 2020 menjadi titik balik perjalanan hidup saya. Saya mengalami PHK akibat pengurangan karyawan, dan di waktu hampir bersamaan ibu meninggal dunia,” tutur Anselmus dalam cerita tertulis yang ia bagikan kepada humas UGM.
“Kondisi itu memaksa saya mengambil alih peran sebagai penopang ekonomi keluarga. Termasuk membiayai pendidikan adik-adik,” sambung lulusan FISIPOL UGM tersebut.
Di ambang putus asa, hobi masak jadi bekal untuk merintis usaha dari nol
Setelah di-PHK, Anselmus memang mendapat pesangon dari tempat kerjanya dulu. Akan tetapi, uang tersebut tidak cukup untuk menopang kebutuhan jangka panjang. Apalagi untuk biaya sekolah adik-adik.
Situasi tersebut nyaris membuat Anselmus putus saja. Namun, lulusan FISIPOL UGM itu sadar, ia punya modal “hobi masak”. Dari situ ia mulai berpikir untuk merintis usaha makanan. Dari skala sangat kecil terlebih dulu tidak masalah.
Pilihan jatuh pada usaha keripik singkong pedas dan gurih. Anselmus benar-benar merintis usaha itu dari nol. Modal usaha awal tidak menggunakan modal usaha dalam arti konvensional.

Sisa pesangon Anselmus tidak dijadikan sebagai modal produksi melainkan dipergunakan untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari. Perputarannya pun bertahap dengan mengandalkan jaringan pertemanan.
“Di tahap awal keripik singkong mampu produksi mencapai 500–1.000 pcs perbulan, Seluruhnya melalui sistem konsinyasi dengan jejaring pertemanan di wilayah Jabodetabek. Bahkan penjualan saat itu justru belum menyasar pasar Yogyakarta,” terang Anselmus.
Dari jualan keripik singkong, lulusan FISIPOL UGM merambah ke sambal hingga ayam geprek
Siapa nyana, lini usaha yang Anselmus beri nama MAMOKA Group itu terus berkembang.
Seiring perjalanan waktu, Hans mulai mempertimbangkan keberlanjutan produk. Ia sadar bahwa tren olahan keripik singkong rasa pedas-manis berpotensi menimbulkan kejenuhan pasar. Dari sini kemudian lahir inovasi produk olahan sambal MAMOKA.
“Sayang produk ini belum mendapat respons pasar yang optimal, terlebih saat itu masih di masa-masa social distancing yang membuat konsumen beralih ke platform daring,” kenang Anselmus.
Tidak tinggal diam, Anselmus lantas melakukan pivot bisnis agar tetap bisa mempertahankan ciri khas rasa pedas dan gurih. Ia lalu menciptakan Ayam Geprek MAMOKA dan mulai beroperasi melalui layanan GoFood.
Langkah ini terbukti tepat. Permintaan meningkat pesat yang pada akhirnya mendorongnya untuk segera mengurus berbagai perizinan usaha. “Akhirnya mulai mengurus terkait HAKI, sertifikasi halal, hingga legalitas lainnya,” kata lulusan FISIPOL UGM itu.
Ekspansi pun terus ia lakukan. Transformasi penjualan digital dilakukannya pula bersama GrabFood dan ShopeeFood. Di puncak penjualan secara daring, Ayam Geprek MAMOKA mampu menembus penjualan sekitar 100 porsi perhari.
“Bahkan rata-rata terjadi lima pesanan dalam satu menit, terutama saat momentum Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Permintaan konsumen yang beragam turut melahirkan inovasi baru. Dari pesanan nasi kotak, tercipta produk Rice Box “Catering MAMOKA”, disusul Snack Box “Mela Mela MAMOKA” yang menyasar kebutuhan acara dan konsumsi kolektif,” paparnya.
Ayam Geprek MAMOKA bahkan mendapat predikat sebagai salah satu ayam geprek terenak di sekitar UGM.
Ngosak-ngasik di jagar kuliner Yogyakarta
Setelah berhasil dengan produk-produk makanan siap saji yang mendapat tempat di pasar, Anselmus kembali menghidupkan produk sambal MAMOKA. Hanya saja, sambal tersebut kini dikemas sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta dengan cita rasa pedas gurih yang sungguh berbeda dari produk sambal mainstream.
Produk sambal MAMOKA ini pun kini telah dititipkan di berbagai toko oleh-oleh ternama, seperti Hamzah Batik, Raminten, dan Jogja Mart. “Beberapa kementerian pernah melakukan kunjungan ke MAMOKA Group,” akunya.
Inovasi MAMOKA tidak berhenti. Untuk menjawab permintaan pasar akan makanan basah tradisional, Anselmus kembali berinovasi dengan menghadirkan kuliner khas Sumatera Utara, seperti Mie Gomak, Miso (Mieso), Lapet, Lupis, dan Bandrek.
Produk-produk ini pun mendapat sambutan luar biasa, terutama saat dipasarkan di Pasar Kangen dengan total penjualan mencapai 3.000 pcs. Keunikan produk diperkuat dengan penggunaan bahan baku asli dari Sumatera Utara, seperti andaliman, jinten, dan bubuk daun jeruk purut. “Ini kita usahakan demi menjaga keaslian cita rasa dan memenuhi ekspektasi pasar,” jelas Anselmus.
Dari putus asa akibat PHK, lulusan FISIPOL UGM tersebut kini justru berjalan dan menatap mantap hari esok: berdaya melalui UMKM yang ia rintis di Blimbingsari, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
Sumber: UGM
BACA JUGA: Bela-belain Kuliah di UGM Sampai Kena Mental demi Bahagiakan Ayah Ibu yang Hanya Lulusan SD hingga Jadi Wisudawan Terbaik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan