Indonesia mengalami kondisi darurat kualitas guru dan “krisis talenta” STEM. Jika tak segera diatasi, ambisi negara untuk menikmati bonus demografi dan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah hanya akan menjadi omon-omon.
***
Di tengah ambisi Indonesia untuk menjadi negara maju dan pemain utama dalam ekonomi global, sebuah peringatan keras muncul mengenai fondasi paling mendasar bangsa ini: kualitas sumber daya manusia.
Indonesia dinilai sedang menghadapi kondisi darurat dalam produksi talenta STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) dan krisis kualitas profesi guru yang serius.
Dalam sebuah diskusi mendalam di channel Youtube Gita Wirjawan, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, menyoroti ketimpangan yang menganga antara Indonesia dan raksasa ekonomi dunia, Tiongkok.
Data menunjukkan bahwa ketertinggalan Indonesia dalam mencetak “otak” di balik inovasi teknologi sudah berada di tingkat yang mengkhawatirkan.
Kesenjangan yang Mencolok
Sudirman memaparkan data komparatif yang mengejutkan. Tiongkok, kata dia, saat ini mampu memproduksi sekitar 4,5 juta lulusan STEM (S1, S2, S3) setiap tahunnya.
Sebagai pembanding, India menghasilkan sekitar 2 hingga 2,5 juta lulusan, dan Amerika Serikat sekitar 800.000 lulusan.
“Sementara itu, Indonesia tertinggal jauh dengan hanya mencetak sekitar 250.000 lulusan STEM per tahun,” ujarnya, dikutip Jumat (30/1/2026).
Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi juga cerminan dari kemampuan sebuah bangsa untuk berinovasi. Tiongkok tidak lagi sekadar memproduksi barang, tetapi juga jasa yang sangat inovatif secara teknologi karena investasi masif mereka pada pendidikan berbasis STEM.
Hal ini berdampak langsung pada performa ekonomi. Dalam 30 tahun terakhir, pendapatan per kapita Tiongkok melonjak hingga 10 kali lipat, sementara kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, hanya tumbuh sekitar 2,7 kali lipat.
Sudirman menilai, penyebab utamanya adalah kurangnya investasi struktural pada kualitas pendidikan dan guru.
Guru: dari Profesi Terhormat Menjadi “Pilihan Terakhir”
Akar masalah dari defisit talenta ini bermuara pada bagaimana negara memperlakukan profesi guru. Gita Wirjawan mencatat fakta menyedihkan bahwa gaji guru di Indonesia seringkali berada di angka Rp2,8 juta per bulan, jumlah yang dinilai tidak mungkin mampu menarik talenta-talenta terbaik bangsa.
Sudirman menambahkan bahwa profesi guru dan dosen kini sering dianggap sebagai profesi “pilihan terakhir” (last resort) ketika seseorang gagal masuk ke sektor lain. Padahal, peran guru sangat krusial sebagai “eskalator sosial”.
Mengingat 88 persen kepala rumah tangga di Indonesia tidak memiliki pendidikan S1, satu-satunya harapan bagi anak-anak dari keluarga tersebut untuk memperbaiki nasib adalah dengan bertemu guru yang berkualitas di sekolah,.
“Kita tidak pernah dengan serius menempatkan guru sebagai profesi paling utama,” ujar Sudirman, mengenang bagaimana di masa lalu seleksi masuk sekolah guru (SPG) seringkali menjadi opsi bagi mereka yang tidak diterima di SMA favorit atau STM.
Hal ini sangat kontras dengan era awal kemerdekaan atau sekolah kedinasan militer yang seleksinya sangat ketat dan bergengsi, sehingga menghasilkan pemimpin-pemimpin yang kompeten.
Desakan Reformasi Total Rekrutmen Guru
Untuk mengejar ketertinggalan ini, tidak cukup hanya dengan mengandalkan anggaran pendidikan 20 persen dari APBN yang selama ini lebih banyak terserap untuk infrastruktur fisik ketimbang investasi human capital. Menurut Sudirman, diperlukan sebuah “revolusi” dalam sistem rekrutmen dan insentif tenaga pendidik.
Gagasan yang mengemuka adalah perlunya menciptakan sekolah-sekolah guru yang sangat kompetitif, setara dengan gengsi akademi militer atau kedokteran di masa lalu.
Negara harus berani membiayai pendidikan calon guru terbaik dan menjamin kesejahteraan mereka agar profesi ini menjadi incaran “the core of the core” atau putra-putri terbaik bangsa.
Tanpa perbaikan fundamental pada kualitas guru dan peningkatan fokus pada pendidikan STEM, imbuh dia, ambisi Indonesia untuk menikmati bonus demografi dan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap) dikhawatirkan hanya akan menjadi angan-angan belaka.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














