Selentingan itu tidak bisa dipungkiri mengganggu Rima saat sampai ke telinganya. Pasalnya, stigma itu isinya meremehkannya dengan menganggap kalau berjualan bukan pekerjaan yang layak, sebab tidak menguntungkan seperti kerja kantoran.
Namun pada akhirnya, Rima memilih untuk tidak ambil pusing. “Kalau menurut saya, stigma orang tentang sarjana tidak bekerja, aku nggak terlalu ambil pusing,” ujarnya.
Menurutnya, selama dapurnya bisa ngebul melalui jualan ayam penyet, ia tidak acuh ketika orang lain berbicara mengenai dirinya.
“Selagi aku punya penghasilan juga biarin aja orang beropini apa tentang aku,” tambah dia.
Kantongi keuntungan sampai Rp10 juta per bulan
Alasan lainnya Rima tidak lagi memikirkan kata orang-orang tentang dirinya adalah keuntungan yang telah dikantonginya. Baginya, bekerja di dapur tidak masalah selama tetap menghasilkan keuntungan. Itulah yang bisa didapatkannya dari berjualan ayam penyet selepas kuliah.
“Walaupun kerjanya di dapur, alhamdulillah tetap cuan,” kata Rima.
Meskipun, untuk mendapatkan cuan, Rima harus mengesampingkan gengsinya untuk turun langsung ke dapur, bahkan tidak jarang menjadi kurir yang mengantarkan pesanan. Namun setidaknya, Rima memahami kalau untuk kebutuhan ekonomi, dirinya tidak akan bisa makan kalau mempertahankan gengsi semacam itu.
Selain itu juga, didampingi suami yang mengelola usaha ini bersamanya, Rima punya perbandingan bahwa gaji pekerja kantoran yang dianggap lebih mentereng oleh kebanyakan orang justru jauh dari keuntungan yang bisa didapatkannya dalam sebulan.
“Padahal ya, Paksu aku tuh dulunya sempat kerja kantor, tapi gajinya jauh lebih kecil ketimbang pas jualan, mana pusingnya luar biasa,” katanya.
Dibandingkan pekerja kantoran dalam jabatan staf yang gajinya tidak jauh dari UMP Riau sekitar Rp3,7, Rima bisa mengantongi keuntungan sedikitnya tiga kali lipat dari nominal tersebut.
“Kalau profit bisa 10 juta per bulan,” katanya.
Padahal, keuntungan tersebut didapatkan dari penjualan di lingkungan yang tidak besar di wilayah kampungnya. Dengan konsumen yang sedikit, Rima sudah bisa mengelolanya sampai mendapatkan tiga kali lipat dari gaji rata-rata pegawai di perkotaan.
Kepandaian Rima dalam mengelola bisnisnya ini tidak datang secara cuma-cuma. Ia justru menyebut, pelajaran terbesarnya diperoleh dari bangku perkuliahan. Oleh karena itu, lulus sebagai Sarjana Ekonomi, kemudian berjualan ayam penyet, tidak pernah menjadi perjalanan yang sia-sia bagi Rima.
“Kalau ilmu kuliah bisa diterapin atau nggak, ya bisa banget. Aku kan kuliah Jurusan Manajemen ya, Paksu aku Jurusan Akuntansi, benar-benar teraplikasikan,” ujarnya.
“Dari kita hitung HPP (harga pokok penjualan), kelola cash flow, manage karyawan, komunikasi ke customer juga ada ilmunya,” ujar dia menambahkan.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













