Stadion Moh Sarengat, Kabupaten Batang, memang terdengar asing bagi banyak orang. Bahkan ada yang menyebut namanya terkesan lucu dan tidak bermarwah untuk nama sebuah stadion.
Namun, perlu diketahui, sosok yang namanya tersemat menjadi nama stadion tersebut adalah sosok yang pernah membawa nama Indonesia di kancah Asia: tercatat sebagai pelari tercepat di Asia pada masanya.
Stadion Moh Sarengat Batang: nama yang dianggap ndeso dan tidak sangar
Sebagai orang Kabupaten Batang, saya kerap menyaksikan bagaimana daerah asal saya tersebut kerap menjadi bahan “lelucon”. Nama daerah asal saya tersebut kerap kali dianggap “aneh”, karena dalam bahasa Jawa, batang berarti bangkai.
Begitu juga ketika membicarakan skena sepakbola Batang. Beberapa teman saya sesama penikmat sepakbola lokal kerap mengernyitkan dahi sekaligus menertawakan klub sepakbola Batang hingga stadion yang menjadi kandangnya.
Meski struggle di Liga 4, tapi Kabupaten Batang punya klub sepakbola andalan warga, yakni Persibat. Punya kandang juga bernama Stadion Moh Sarengat. Nah, bagi beberapa teman saya di Jogja dan Magelang, nama stadion tersebut terkesan lucu, agak ndeso, dan tidak bermarwah—terkesan tidak ada sangar-sangarnya.
“Aneh banget namanya.”
“Sarengat ki jeneng opo cuk (Sarengat ini nama apa, cuk).”
“Ra cocok dadi jeneng stadion (Nggak cocok jadi nama stadion).” Kurang lebih begitu ungkapan-ungkapan yang sampai di telinga saya tiap membincangkan Stadion Moh Sarengat, Batang.
Karena saya tahu historisnya, maka alih-alih malu diceng-cengi, ego saya sebagai orang Batang justru tersenggol. Memantik saya untuk meluruskan sebenarnya diambil dari manakah nama stadion tersebut.
Saksi perlawanan Persibat atas Persija di Copa Dji Sam Soe
Stadion Moh Sarengat memang tidak megah-megah amat. Hanya mampu menampung sekitar 12.000-15.000 penonton.
Hanya saja, stadion ini pernah menjadi saksi perlawanan Persibat—yang notabene merupakan kesebelasan kecil—melawan klub sebesar Persija dalam babak 32 besar Copa Dji Sam Soe pada 2006 silam.
Pada leg pertama babak 32 besar Copa Dji Sam Soe yang berlangsung sore hari di stadion Moh Sarengat pada 3 Juni 2006 itu, Persibat mampu menahan imbang klub Ibu Kota berjuluk Macam Kemayoran tersebut. Ya walaupun pada leg kedua Persibat harus takluk juga.
Laga tersebut hanya satu contoh saja bahwa Stadion Moh Sarengat, sekaligus Persibat, pada masanya pernah menjadi lawan tidak sepele bagi klub besar.
Moh Sarengat: sosok pelari tercepat di Asia
Siapakah Moh Sarengat?
Memang sudah menjadi hal lazim di Indonesia kalau nama stadion sepakbola diambil dari nama pahlawan atau tokoh penting yang merepresentasikan daerah asal sebuah klub. Jangan salah, Moh Sarengat adalah satu di antara nama tokoh penting tersebut.
Moh Sarengat diambil dari nama seorang pelari nasional: Mohammad Sarengat. Ia menjadi seorang atlet legendaris yang turut berjasa mengeluarkan Indonesia dari “zaman perunggu”.
Merujuk buku Asian Games I-X (KONI Pusat, 1987) yang ditulis Sorip Harahap, Indonesia pernah mengalami “zaman perunggu” ketika hanya berhasil meraih medali perunggu dalam tiga kali ajang Asian Games sebelum 1962. Yakni ketika atlet Indonesia hanya mampu mengoleksi perunggu alih-alih emas.
Namun, belenggu zaman perunggu itu terlepas ketika pada Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta. Peringkat Indonesia melonjak dari 14 pada Asian Games III di Tokyo menjadi runner up dengan 11 emas, 12 perak, dan 28 perunggu.
Di sektor lari, Mohammad Sarengat menyumbangkan dua medali emas dalam cabang lari 100 meter dan lari gawang 110 meter serta perunggu di nomor 200 meter.

Tidak hanya mencatatkan namanya sebagai pelari tercepat di Asia, Mohammad Sarengat juga memecahkan rekor Asia untuk lari gawang 110 meter dengan waktu 14,4 detik dan lari 100 meter dengan 10,5 detik. Catatan tersebut mematahkan rekor pelari Pakistan, Abdul Khalik, dengan 10,6 detik pada Asian Games II di Manila, Filipina.
“Bertahun-tahun nama Sarengat melegendaris di dunia atletik, dan selalu dikenang oleh bangsa Indonesia,” begitu yang tertulis dalam buku Olahraga Indonesia dalam Perspektif Sejarah 1945-1965.
Mohammad Sarengat memang lahir di Banyumas, 28 Oktober 1940. Dia tercatat pernah tinggal di Kelurahan Proyonanggan Tengah (bersebelahan dengan kompleks perkantoran Pemkab Batang). Sebelum kemudian berpindah-pindah dari Surabaya hingga ke Jakarta.
Dalam perjalanan pendidikan itu, ia menemukan minat dan bakatnya di cabang olahraga atletik. Menurut Ensiklopedi Jakarta, Sarengat pernah merasa bingung untuk melanjutkan pendidikannya karena masalah biaya.
Saat itu, Letnan Jenderal GPH Djatikusumo, mantan kepala staf Angkatan Darat (AD) pertama, menyarankan Sarengat masuk dinas AD. Sarengat pun mendapatkan beasiswa masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia lulus pendidikan dokter pada 1971.
Sejak itu, Sarengat memang sempat berkiprah sebagai seorang dokter Namun, ia kemudian kembali berkiprah di dunia olahraga, bahkan menjadi ketua bidang pembinaan prestasi PB PASI (Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) dan sekretaris jenderal KONI Pusat (1986-1990). Sarengat lalu wafat pada 13 Oktober 2014 setelah terserang stroke dan komplikasi penyakit sejak 2009.
Dan jauh sebelum Sarengat wafat, atas prestasinya—sebagai seorang tokoh yang pernah tumbuh di Batang—Pemerintah Kabupaten Batang memilih nama Moh Sarengat sebagai nama stadion saat mulai dibangun pada medio 2000-an.
Mengejar jejak Sarengat
Lantas, bagaimana kondisi Stadion Moh Sarengat saat ini?
Pemerintah Kabupaten Batang pun berkomitmen untuk memberi perhatian pembangunan pada Stadion Moh Sarengat. Stadion ini masih difungsikan sebagai kandang bagi kesebelasan sepakbola Persibat. Di samping itu, Pemkab Batang saat ini tengah menaruh perhatian dalam pembangunan jogging track.
Merujuk laporan Pemkab Batang, pembangunan jogging track tersebut kini telah memasuki tahap pengerjaan lapisan atas lintasan. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Batang, Endro Suryono mengatakan, pembangunan tahap lanjutan dimulai pada 15 Juni 2026 lalu dengan nilai kontrak sebesar Rp9,26 miliar, ditargetkan selesai pada 12 Oktober 2026.

Menurut Endro, proyek tersebut menjadi salah satu prioritas Pemerintah Kabupaten Batang dalam meningkatkan kualitas sarana olahraga yang dapat dimanfaatkan oleh atlet maupun masyarakat umum.
“Lintasan yang dibangun mengacu pada standar nasional dengan spesifikasi serupa jogging track di Stadion Jatidiri Semarang. Nantinya lintasan tersebut memiliki delapan jalur lari sehingga mampu mendukung penyelenggaraan berbagai kegiatan olahraga, mulai dari latihan hingga kompetisi atletik,” jelasnya dalam keterangan resmi.
Lebih lanjut, Endro menyebut, pembangunan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menyediakan infrastruktur olahraga yang berkualitas sebagai bagian dari peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Nantinya jogging track ini akan menjadi salah satu fasilitas olahraga terbaik yang dimiliki Kabupaten Batang. Kami berharap masyarakat semakin semangat berolahraga karena tersedia lintasan yang nyaman dan memenuhi standar,” ujar Endro.
“Selain mendorong budaya hidup sehat, pembangunan fasilitas olahraga juga diharapkan mampu memperkuat ekosistem pembinaan atlet daerah,” tegasnya.
Dengan tersedianya lintasan yang memenuhi standar, atlet-atlet atletik Kabupaten Batang tidak perlu lagi berlatih di luar daerah untuk mendapatkan fasilitas yang memadai. Kondisi tersebut dinilai akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan prestasi olahraga di masa mendatang. Endro pun berharap, keberadaan jogging track dapat menjadi tempat lahirnya atlet-atlet baru yang mampu mengharumkan nama Kabupaten Batang di tingkat provinsi maupun nasional, mengejar jejak dari Moh Sarengat.
Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Tidar (Untidar) Magelang periode Agustus-November 2026.
Penulis: Al Afnan Mahatta
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Stadion Krida Rembang: Lama Terbengkalai dan Sisa-sisa Harapan untuk PSIR atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan