ADVERTISEMENT

Siklus Terbalik Ibu-ibu di Rembang: Semakin Tua Justru Harus Makin Keras Bekerja

Siklus terbalik ibu-ibu di Rembang: muda jadi ibu rumah tangga, semakin tua justru kerja keras jadi pekerja pabrik MOJOK.CO

Situasi ekonomi yang semakin sulit memaksa ibu-ibu (40-an tahun) di Rembang harus turut memeras tenaga—mencari tambahan pemasukan untuk keluarga. Tidak terbayang dalam benak mereka bahwa semakin tua justru harus lebih keras bekerja, usai menjalani masa muda mengurus rumah saja. 

***

Ibu-ibu umur 40-an tahun harus menjadi pekerja pabrik pada mulanya bukan hal lazim di sejumlah desa di Rembang. Termasuk di desa saya. 

Keputusan Ibu saya bekerja di sebuah pabrik pengolahan tangkapan laut sejak 2020 silam pun awalnya tidak terlalu populer bagi masyarakat desa saya. Ibu-ibu, sudah paruh baya, kok malah bekerja. Bukannya mengurus rumah saja. Tapi ibu merasa perlu bekerja agar ia punya uang simpanan sendiri. 

Namun, seiring waktu, keputusan yang tidak populer tersebut kini justru diikuti secara masif oleh sejumlah ibu-ibu lain. Belakangan ini saya mengetahui fakta bahwa ternyata semakin banyak ibu-ibu asal desa saya yang memutuskan bekerja di pabrik. Dari desa-desa lain pun tidak kalah banyak kalau kata Ibu saya. 

Siklus terbalik, semakin tua semakin kerja keras

Tidak sedikit dari para ibu-ibu yang bekerja di pabrik pengolahan ikan di Rembang sebelumnya tidak memiliki pengalaman kerja sama sekali. Rata-rata adalah ibu rumah tangga. 

Mereka mulai ikut turun tangan dalam ekonomi keluarga pasca Covid-19 lalu. Mulanya dengan menjadi pedagang: jualan jajanan untuk anak sekolah. Lambat-laun, karena harga kebutuhan pokok yang semakin mahal, satu-persatu kemudian menuju pabrik pengolahan ikan yang berada di pusat kota Rembang. 

Terjadi siklus terbalik. Menuju usia paruh baya—sebagai usia yang diidentikkan sebagai masa pensiun—-mereka mau tidak mau harus ikut bekerja lebih keras untuk turut menopang kebutuhan. 

Lelah dan remuk di badan tidak dirasakan. Bagaimana tidak, mereka harus bekerja dari jam 8 pagi sampai petang. Sesekali harus lembur hingga jam 9 malam. Setiba rumah, alih-alih bisa tidur pulas, tetap harus pagi sedini mungkin untuk mengurus rumah. Jika dulu menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, kini para ibu-ibu itu harus merangkap peran ganda. 

Beruntung tidak perlu ijazah untuk jadi pekerja pabrik di Rembang, syarat utamanya satu

Pabrik pengolahan ikan memang seolah menjadi “penyelamat” bagi ibu-ibu kelas menengah bawah di Rembang. Pasalnya, saat mereka harus turut bekerja demi ekonomi keluarga, pabrik-pabrik tersebut tidak enggan membuka pintu. 

Pabrik pengolahan ikan tidak mensyaratkan macam-macam. Nol keahlian, tanpa ijazah sekolah, tetap akan diterima. Syarat-syarat administratif tersebut hanya berlaku untuk posisi strategis tertentu. 

Sementara untuk ibu-ibu—yang nantinya akan ditempatkan pada jenis “pekerjaan kasar”—syarat utamanya hanya satu: Mau bekerja keras setiap hari nyaris tanpa hari libur (karena izin libur hanya diberikan kalau ada case tertentu). Urusan pemahaman sistem kerja bisa diajari sambil jalan. 

Upah mereka sehari berkisar Rp50 ribu-Rp70 ribu. Upah yang cukup belaka untuk tambah-tambahan pemasukan rumah tangga. 

Tidak hanya di pabrik, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) hingga gudang pengupas rajungan di tingkat kecamatan pun turut menjadi pelarian bagi ibu-ibu yang ingin bekerja, tapi belum siap untuk PP desa ke Rembang kota setiap hari nyaris tanpa hari libur. Prinsipnya yang penting ada pemasukan ke kantong istri. 

Tidak cukup andalkan bansos, entah sampai kapan bekerja

Saya beberapa kali bersinggungan dengan ibu-ibu pekerja tersebut. Latar belakang ekonomi mereka macam-macam. Ada yang sebenarnya suami dan anaknya juga bekerja, tapi si ibu tetap merasa perlu bekerja karena tidak cukup. 

Selain itu, ada yang tidak punya suami dan harus memikirkan anaknya yang masih sekolah. Ada pula yang masuk dalam kategori pra-sejahtera yang rutin mendapat bantuan sosial (bansos) dari program pemerintah. Hanya saja, tentu saja tidak bisa mengandalkan bansos untuk menjalani hidup sehari-hari. 

Apakah mereka pernah terbayang justru harus bekerja seiring menuanya usia? Rata-rata menjawab tidak. Dulu, hidup terasa baik-baik saja. Pemasukan tunggal dari suami sudah terasa cukup. Tapi situasi saat ini entah kenapa terasa berbeda sama sekali. Berat dan mencekik. 

Sama seperti saat masih menjadi ibu rumah tangga penuh waktu yang terbayang akan bekerja di masa tua, ibu-ibu pekerja pabrik di Rembang juga tidak terbayang entah sampai kapan akan terus bekerja.  Meski sesekali pikiran itu mengganggu: “Apakah aku harus begini sampai tua dan renta? Betapa capeknya.” 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Bagi Orang Rembang Jadi TKI di Malaysia Lebih Terhormat ketimbang Sarjana, Gara-Gara Sarjana Banyak yang Nganggur dan Jadi Beban Orang Tua Padahal Kuliah sampai Jual Sawah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 September 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Exit mobile version