Kehilangan salah satu penyanyi Indonesia, Vidi Aldiano, beberapa waktu lalu menjadi momen menyedihkan. Namun juga, mengherankan bagi sebagian orang. Alasannya, orang-orang terdekat tidak menunjukkan perasaan duka dalam cara “konvensional”, padahal kesedihan punya konsep abstrak yang tidak akan pernah bisa dipahami dengan mutlak oleh satu orang pun di dunia.
***
Sebelum memperkenalkan duka yang tidak berkonsep. Ada satu bagian penting, bahwa saya baru saja kehilangan makhluk berbulu bernama Bala, kucing yang sudah berusia hampir empat tahun dan berjiwa bebas.
Bala selalu pulang ketika lapar dan mengantuk. Jadi, kami sekeluarga tidak pernah khawatir sekalipun kucing mujaer itu berkelana berhari-hari. Namun naasnya, hari itu (12/1/2026), Bala ditemukan dalam kondisi kritis, tubuh dingin dan tidak berdaya tertutupi di antara dua meja sebuah ruko kosong di pinggir jalan.
Saat itu juga, saya menangis dan menghubungi orang-orang rumah, “Bala ketemu. Udah nggak ada.”
Saya salah. Bala masih ada, tetapi sudah menjajaki stase terminal. Bala sempat dibawa ke dokter hewan, tetapi tidak bertahan sampai tiga hari, tetapi saya sudah tahu kalau kucing jantan ini memang akan pergi dalam waktu dekat. Setelahnya, saya melalui duka, tapi tidak ada tangisan, kecuali saat pertama kali menemukan dan mengetahui Bala tidak ada.
Menangis sebagai respons alami duka
Menangis saat pertama kali dihantam duka adalah reaksi wajar. Penulis Sophia Dembling menyetujui ini, “Menangis itu ciri khas duka, praktis cara mengekspresikan pengalaman tersebut,” katanya, dilansir dari Psychology Today.
“Kita berduka, oleh karena itu kita menangis. Air mata adalah ekspresi lahiriah dan spontan dari perasaan yang terlalu mendasar untuk diungkapkan dengan cara lain,” tambah dia.
Menangis adalah salah satu ekspresi duka, tapi itu adalah salah satu juga dari yang pertama. Bukan yang seterusnya.
Maka ketika melihat berita duka mengenai Vidi Aldiano, mata sembab tidak menjadi patokan mereka benar-benar berduka. Wajah orang terdekatnya yang tampak tersenyum juga bukan berarti seseorang tidak berduka, jadi berfoto dengan ekspresi senyum di pemakaman jelas tidak bisa dipahami kalau seseorang sudah sembuh dengan dukanya.
Duka juga bisa dirasakan dalam ekspresi bahagia
Dari Instagram, duka itu dibawa ke media sosial berbeda. Ada komentar dari salah satu akun yang mengunggah ulangnya, kira-kira begini tulisannya:
“Kok bisa foto begini…”
Padahal, duka tidak selalu mengalir. Ia bisa dihambat atau disimpan untuk waktu lain. Konselor asal AS, Andrea Matthews, bilang, perjalanan duka memang berlangsung panjang dan lama. Dalam satu waktu, seseorang yang berduka bisa jadi tidak mempunyai waktu untuk menangis karena hidup harus terus berjalan.
“Suatu ketika, kamu nggak punya waktu menangis. Kamu nggak sempat menangis. Kamu harus bertahan hidup,” kata Andrea, seperti dikutip dari Psychology Today, Selasa (10/3/2026).
Dari cerita Nazira C. Noer, wujud duka mereka tidak tampak dengan kesedihan. Melainkan, dalam bentuk keteraturan yang hangat, menunjukkan bahwa tidak ada pakem khusus mengenai bagaimana bersikap tentang ini.
“Taunya semua sahabat-sahabatnya Vidi sudah mengatur segala flow-nya dengan sangat baik. Masuknya dibagi per kelompok,” kata Nazira melalui Instagramnya, sebelum membagikan bagaimana alur rumah duka tidak disertai duka sama sekali.
Ada yang menyambut antrean pelayat yang datang, menceritakan hari-hari terakhir mendiang, sampai mengarahkan menuju tempat peristirahatan terakhir. Nazira bercerita, justru mereka yang berduka menguatkan orang-orang yang tidak lebih berduka dari keluarga terdekatnya.
“Tidak ada tangisan untuk diri sendiri, padahal mereka berhak untuk itu. Mereka malah menguatkan kami, di saat seharusnya kami yang menguatkan mereka,” kata dia.
Mereka yang tidak tahu terkadang merasa paling mengerti
Sementara itu, melihat komentar di ruang digital yang menyebutkan sanak-saudara dan kerabat terdekat penyanyi kondang, Vidi Aldiano, tidak bersedih karena tidak terlalu menangis. Saya rasa, ada kesalahan dalam memaknai duka di sini.
Selain karena tangisan hanyalah salah satu dari respons terhadap kehilangan. Ada berbagai reaksi yang tidak harus berupa air mata, bisa jadi kekosongan yang tidak bisa diutarakan, bisa jadi rasa hilang nafsu makan mengingat orang terkasih terbaring lemah di satu sudut dingin sendirian. Ia beragam, dan tidak pasti.
Begitu pula dari sudut pandang ini. Bayangkan, menemani seseorang yang telah tujuh tahun menjalani perawatan. Orang-orang terdekatnya bukan lagi sudah mempersiapkan, tetapi sudah tahu kalau sewaktu-waktu, dia akan pergi.
“Kita sama-sama tahu hari ini pasti akan datang,” kata Enzy Storia, seperti dikutip dari Instagramnya pada Selasa (10/3/2026).
Persis seperti yang saya rasakan soal Bala. Saya sudah tahu kucing itu akan pergi dalam waktu dekat, jadi kesedihan tidak berlangsung lama secara tampak mata. Namun sebenarnya, hanya mereka yang berdukalah yang mengetahui betapa hari-hari terasa suram.
Ingin menangis, tapi tahu harus terus melanjutkan hidup. Ingin tetap bahagia, tapi tidak bisa menanggalkan kesedihan. Lagi-lagi, namanya juga duka: ia absurd dan muncul secara random pada waktu-waktu yang tidak diketahui.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Bagi Ibu, Tak Apa Membayar Tiket Mahal untuk Mudik demi Bisa Kumpul Bersama “Anak Kecilnya” yang Berjuang di Perantauan atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
