Cara pengendara plat K—terutama pengendara motor—di jalan raya selalu diresahkan. Apalagi jika di jalan raya pantura. Sampai muncul celetukan, “Kayaknya pengendara motor plat K memang nggak ngerti fungsi dari hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan.”
Pengendara motor plat K nggak ngerti fungsi zebra cross
Keresahan ini disampaikan oleh seorang teman asal Jogja yang menemani saya jalan-jalan sore di Kudus, Jawa Tengah, pada Rabu (4/3/2026).
Suasana lalu lintas di area kota Kudus terbilang padat. Berpadu antara jam pulang kerja, jam berangkat ngaji Ramadan, orang-orang cari takjil, dan para pedagang kaki lima yang mulai membuka lapak.
Lalu kami mengalami dua kali momen yang cuma bikin ngelus dada saat menyeberang di zebra cross.
Pertama, setelah memastikan kendaraan dari dua arah masih jauh, kami mencoba menyeberang sembari mengangkat tangan. Kami berjalan santai sebagaimana yang dianjurkan.
Karena memang fungsi zebra cross adalah jalur penyeberangan pejalan kaki. Artinya, pengendara lah yang harus paham betul: kalau ada orang menyeberang, maka harus kurangi kecepatan.
Tapi tidak dengan dua pengendara motor dengan plat sore itu. Sudah tahu ada orang menyeberang, mereka justru sama sekali tidak mengurangi kecepatan. Yang dilakukan justru memencet klakson keras berulang-ulang.
Pengendara satu (seorang ibu-ibu), nyelonong tanpa wajah berdosa. Dengan wajah cemberut dan mata melotot ke arah kami setelah setengah berlari ke seberang jalan.
Pengendara dua (bapak-bapak), malah ngedumel tidak jelas. Karena ia memang nyaris saja menabrak kami. Seolah-olah dalam kasus itu, kami yang bersalah. Tak pelak jika teman saya bergumam, “Sepertinya orang-orang plat K nggak begitu ngerti ya fungsi zebra cross.”
Pengendara motor plat K: grasak-grusuk dan abaikan fungsi lampu sein kendaraan di depan
Mojok sudah beberapa kali menulis ungkapan sejumlah orang yang merasa kesal dengan cara berkendara kendaraan plat K. Terutama pengendara motor. Alasannya: cara berkendaranya grasak-grusuk, hingga berpotensi mencelakakan orang lain.
Contoh kasus juga saya alami di Kudus, Jawa Tengah, di pertengahan 2025 lalu. Suatu malam, saya dan rombongan dari Jogja berkendara dengan mobil. Rombongan berencana berhenti di Indomaret setelah melihat ada papan “Indomaret” beberapa meter di depan, di kiri jalan. Oleh karena itu, jauh-jauh sebelum berhenti, sopir kami menyalakan lampu sein kiri: tanda mobil kami akan menepi ke kiri.
Namun, saat mobil mulai menepi ke kiri, tiba-tiba dari arah belakang ada pengendara motor plat K nyerobot dari kiri, bahkan nyerempet spion mobil kami. Kami jelas kaget, kendati setelahnya langsung misuh-misuh.
Bagaimana tidak. Posisi mobil sudah menepi dan hampir masuk parkiran Indomaret. Itu sudah bukan jalan untuk menyalip. Tapi sebagaimana kebiasaan pengendara motor plat K yang suka nyalip dari kiri, si pengendara tetap saja menyalip dari kiri meski jelas-jelas mobil di depannya memberi isyarat lampu sein dan sekalipun sudah bukan jalan utama.
Fungsi spion cuma pajangan
Jika kasus di atas adalah pengendara motor plat K abai dengan pengendara di depannya, ada juga model pengendara yang tidak peduli dengan pengendara di belakangnya. Kalau ini diresahkan oleh istri saya sendiri.
Istri saya orang Jombang, Jawa Timur. Tiap saya ajak ke kampung halaman saya di Rembang, pasti ada kekagetan baru. Salah satu yang membuatnya kaget adalah cara berkendara orang-orang di pantura.
Tidak hanya grasak-grusuk. Tapi juga seperti tidak mengerti fungsi spion secara semestinya. Spion tidak lebih dari pajangan belaka.
Kasusnya begini: sering ketika kami berkendara motor di jalan raya pantura, tiba-tiba ada yang belok atau pindah jalur dadakan. Sementara kami di belakangnya melaju sangat dekat di belakangnya. Itu jelas membuat saya gedandapan. Kalau tidak terbiasa melaju di pantura pasti laka juga akhirnya.
Dan itu tidak hanya dilakukan pengendara motor. Pengendara mobil plat K pun sama saja. Saya pernah: posisi saya sudah ada di jalur motor. Lalu tiba-tiba pengendara mobil di depan saya berbelok ekstrem mendadak. Demi menghindari tabrakan, saya sampai banting setir hingga nyebal-nyebal ke tepian jalan penuh kerikil dan lumpur.
Ada dua persoalan di situ. Satu, sering kali pengendara yang berada di depan menyalakan lampu sein secara mendadak: lampu sein menyala, terus langsung belok.
Padahal, fungsi lampu sein adalah untuk memberi isyarat/ancang-ancang. Maka harus dinyalakan di jarak aman dari tempat belokan, sehingga pengendara di belakang bisa menangkap sinyal: oh pengendara di depan hendak berbelok.
Dua, kan ada spion. Harusnya sebelum mengambil tindakan (entah belok atau apapun itu di jalan raya), perhatikan spion. Lihat situasi di belakang. Jangan asal belok saja karena itu mengancam pengendara di belakang.
Lampu apill merah, kuning, hijau: cuma slogan
Kalau ini sebenarnya menjadi problem di banyak daerah. Tidak hanya menyasar pengendara plat K: melanggar lampu apill.
Hanya saja, dengan tabiat berkendara orang plat K yang cenderung grasak-grusuk dan mengabaikan keselamatan diri maupun orang lain, situasi melanggar lampu apill bisa menjadi agak serius. Terutama di perempatan atau pertigaan.
Di Rembang, memang ada banyak pertigaan dan perempatan. Setidaknya dari kecamatan saya (Sluke) ke pusat kota Rembang.
Sudah tidak terhitung saya menyaksikan, berapa kali pengendara motor plat K tetap menerabas kencang walaupun lampu apill menunjukkan warna merah (tanda berhenti). Alhasil, yang terjadi di pertigaan atau perempatan itu adalah: nyaris tabrakan yang berujung pada saling keras-kerasan memencet klakson.
Itu semakin menegaskan stereotip yang sudah lama tersemat ke pengendara motor plat K: cara berkendaranya memang berorientasi pada bahaya, sebagaimana merujuk stereotip lain yang sudah kadung disematkan:
- Sering berhenti sedekat mungkin dengan kendaraan di depan. Benar-benar mepet sekali, sekaligus suka ngerem mendadak.
- Menyalip dari jalur kiri.
- Nyebal-nyebal di tengah kemacetan panjang.
- Menyelinap di tengah-tengah mobil.
- Menyalip lawan arah bahkan saat kondisi dari arah berlawanan sangat ramai.
- Suka tiba-tiba membuat putaran U (putar balik dadakan).
- Terkesan ugal-ugalan di jalan raya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: 4 Jenis Orang yang Harus Dilarang Nyetir Motor di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan, Biang Nyawa Melayang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
