Pantai Drini Gunungkidul Kehilangan Identitas dan Keasrian Alami, Korban Wisata Jogja yang Dimirip-miripkan Bali

Pantai Drini, Gunungkidul kehilangan keasrian dan identitas. Korban wisata Jogja yang dimirip-miripkan dengan Bali MOJOK.CO

Ilustrasi - Pantai Drini, Gunungkidul kehilangan keasrian dan identitas. Korban wisata Jogja yang dimirip-miripkan dengan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

“Ini bukan di Bali, tapi di Jogja loh!.” Begitu bunyi narasi dalam sejumlah konten di media sosial yang menunjukkan ketakjuban pada destinasi wisata baru di Jogja: On The Rock. Persisnya di Pantai Drini, Gunungkidul (bersebelahan dengan Drini Park). 

***

On The Rock, Pantai Drini, Gunungkidul diresmikan sejak Desember 2025 lalu sebagai salah satu destinasi wisata baru di Jogja. Dua kata yang menggambarkan tempat ini: “Bali” dan “estetik”. 

Untuk menuju area utama On The Rock, pengunjung akan berjalan melintasi lorong-lorong berupa belahan tebing karst yang sudah didesain sedemikian rupa. Kemudian area utama berupa specs yang dibangun di antara tebing. 

Pengunjung bisa duduk menikmati santapan sembari langsung berhadapan dengan pemandangan laut Selatan. 

Destinasi wisata Baru di Jogja tersebut semakin dimirip-miripkan dengan Bali karena dilengkapi dengan penampilan Disc Jockey (DJ) yang memberi kesan “party”. Party dengan view laut lepas, sudah seperti beach-beach party di Pulau Dewata. 

On The Rock Pantai Drini Gunungkidul mirip Bali tidak bikin bangga

Bagi akamsi, agak mengherankan ketika di media sosial banyak warganet yang mengelu-elukan gebrakan baru destinasi wisata di Gunungkidul bernama On The Rock tersebut. Hanya karena mirip Bali. 

“Seolah-olah, kalau wisata mirip Bali itu berarti paling bagus. Padahal kan Jogja punya daya tarik dan identitas sendiri yang khas,” ungkap akamsi yang enggan disebut namanya (laki-laki 30-an tahun) saat berbincang dengan Mojok di penghujung Februari 2026 lalu. 

Pada penghujung Februari 2026 lalu, Mojok sempat menemukan unggahan tentang On The Rock, Pantai Drini, dengan porsi komentar negatif dan positif imbang (konten tersebut terpantau sudah hilang dari media sosial). 

Komentar positif datang dari orang-orang luar daerah yang kerap menjadikan Jogja sebagai jujukan wisata. Bagi mereka, keberadaan On The Rock membuat mereka tidak perlu jauh-jauh ke Pulau Dewata jika ingin merasakan vibes ala Bali. Wong di Gunungkidul, Jogja, aja sudah ada kok. 

Sementara komentar negatif datang dari akamsi, baik akamsi Gunungkidul maupun DIY. Mereka tidak sepakat dengan narasi yang seolah mengupayakan memiripkan wisata Jogja dengan Bali. Itu mencederai identitas khas Jogja. 

“Wisata Pantai itu kan identik dengan keasrian. Alami. Kalau sudah dicampur tangani manusia secara berlebihan, hasilnya sudah tidak asri lagi. Ada DJ bikin jadi bising. Belum pemanfaat tebing karst yang entah itu bakal menimbulkan masalah lingkungan atau tidak,” tutur akamsi (laki-laki 30-an) tadi. 

“Yang jelas, bagi saya yang awam, membuat perbukitan karst jadi seperti itu, itu jadi kayak ngalongi (mengurangi) alam,” sambungnya. “Ini cuma memenuhi kebutuhan orang kota atau luar daerah yang pengin wisata ke Jogja.” 

On The Rock merusak alam warisan dunia hingga membuat Pantai Drini Gunungkidul kehilangan keasrian?

Jauh sebelum obrolan Mojok dengan akamsi tersebut, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Yogyakarta telah merilis kecaman terhadap ekspansi On The Rock di Jogja. Tidak lain karena ekspansi wisata tersebut terindikasi memicu kerusakan alam. 

Hasil investigasi WALHI Yogyakarta menemukan fakta bahwa terjadi kerusakan serius pada ekosistem esensial Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gunungsewu yang merupakan bagian dari warisan dunia UNESCO. 

“Kerusakan tersebut bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan kembali, akibat masifnya pembangunan destinasi wisata berbasis korporasi bermodal besar,” ujar Ketua Divisi Advokasi dan Kampanye Wahana LIngkungan Hidup Indonesia (WALHI) Yogyakarta, Rizki Abiyoga dalam keterangan tertulisnya. 

Rizki membeberkan, On The Rock menjadi satu dari 13 industri pariwisata berbasis korporasi yang beroperasi di dalam KBAK Gunungsewu. Aktivitas pariwisata berbasis korporasi itu, lapor Rizki,  telah merubah bentang alam sebesar +34,46 hektar. 

Adapun 13  industri pariwisata yang diidentifikasi WALHI Yogyakarta antara lain: Heha Ocean View, Obelix Sea View, Drini Hills, Drini Park Resourt, D’Girijati Hotel & Beach Club, Queen of The Sout Beach Resort & Hotel, Inessya Resort, Casa Coco Resort Villa & Cottage, Stone Valley, Jungwok Blue Ocean, Edge Resort, dan On The Rock.

“Kerusakan ini berpotensi terus meluas. Terbaru, Obelix merencanakan ekspansi ke Pantai Sanglen dengan mengubah bentang alam karst seluas kurang lebih 3 hektare yang saat ini mendapatkan penolakan dari warga,” tutur Rizki. 

Jogja mirip Bali vs ancaman kerusakan sistem hidrologi alami

Masih dalam laporan WALHI Yogyakarta, perubahan bentang alam karst tersebut secara integral menghilangkan fungsi ekologis karst sebagai penyimpan air tanah dan penangkap karbon. Selain itu juga  merusak sistem hidrologi alami.

Lebih-lebih korporasi industri pariwisata di Jogja tersebut juga mengekstrak air yang ada di bawah karst secara massif. WALHI Yogyakarta telah melakukan perhitungan ekstraksi air dengan menggunakan tiga kategori: hunian, fasilitas penunjang, dan operasional. 

Perhitungan tersebut mengambil sampel dari 3 korporasi industri pariwisata: HeHa Ocean View, Queen of The Sout Beach Resort & Hotel, dan Drini Park. Dari situ ditemukan hasil: 

  1. Queen of The South Beach & Hotel telah mengekstrak air sebanyak 23328 m3/tahun atau setara dengan 23.328.000 liter/tahun.
  2. Drini Park mengekstrak air sebanyak 41040 m3/tahun atau setara dengan 41.040.000 liter/tahun.
  3. Heha Ocean View telah mengekstrak air sebanyak 19080 m3/tahun atau setara dengan 19.080.000 liter/tahun.

Bagi WALHI Yogyakarta, apa yang terjadi di kawasan wisata tersebut, salah satunya di Pantai Drini, Gunung Kidul, telah melanggar regulasi perlindungan KBAK dan lingkungan hidup sebagaimana Keputusan Menteri ESDM No 3045 K/40/MEM/2014 . Oleh karena itu, WALHI Yogyakarta mendesak: 

  1. Audit keseluruhan industri pariwisata di KBAK Gunungsewu.
  2. Cabut seluruh izin korporasi industri pariwisata yang tidak sesuai dengan wilayah peruntukan.
  3. Menuntut pertanggungjawaban korporasi dan pemerintah atas kerusakan yang telah ditimbulkan berdasarkan aturan yang berlaku.3

Dari 13 industri, baru 3 yang kantongi dokumen lingkungan lengkap

Sebagai respons untuk WALHI, Kepala Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (P4LH) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gunungkidul, Anna Prihatini Dyah Perwitasari menyatakan, tidak semua korporasi pariwisata tersebut bermasalah. 

Katanya, dari 13 korporasi, baru 3 yang telah memiliki dokumen lingkungan lengkap. Antara lain, HeHa Ocean View, Queen of The South Beach Resort & Hotel, dan Drini Park. Sementara proses pelengkapan korporasi lain masih belum selesai. 

“Kalau sudah punya persetujuan lingkungan, berarti sudah ada kajian pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Di dalamnya termasuk kajian resapan air dan kesesuaian ruang. Itu sudah aman, bisa saya katakan tidak ada kerusakan,” ujar Anna kepada awak media pada Selasa (6/1/2026).

Anna menegaskan, DLH tidak dapat memproses dokumen lingkungan apabila pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR). 

Kawasan karst bukan berarti tertutup dari usaha

Selain itu, Anna menegaskan bahwa kawasan karst (KBAK) tidak serta-merta tertutup untuk kegiatan usaha. Sebab, terangnya, dalam KBAK terdapat pembagian kawasan inti dan kawasan penyangga.

“KBAK bukan berarti tidak boleh ada usaha sama sekali. Di kawasan penyangga masih diperbolehkan, asalkan ada kajian dan dokumen lingkungan,” jelas Anna.T

Toh DLH juga melakukan pengawasan terhadap usaha-usaha yang telah mengantongi izin lingkungan. Sepanjang apa yang tertuang dalam dokumen Amdal atau DELH dijalankan, maka tidak ada kerusakan lingkungan. 

“Yang belum punya dokumen, kami belum bisa berbicara banyak karena izinnya memang belum selesai,” tutup Anna. 

Ngarsa Dalem: Jogja tak mirip dengan Bali

Perihal narasi yang memiripkan Jogja dengan Bali (karena gebrakan baru wisata pantai di Gunung Kidul seperti Pantai Drini), pihak Keraton Yogyakarta pada akhirnya juga ikut bersuara. 

Putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwana X (Ngarsa Dalem) yang sekaligus merupakan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), GKR Mangkubumi, mengatakan pada dasarnya Pemprov DIY tidak alergi terhadap masuknya investor. Hanya saja, para investor harus menyesuaikan dengan karakter dan budaya Jogja. 

“Nah, kok terus sepertinya lama-lama Jogja itu di-Bali-kan, gitu. Sedangkan kita ini punya ciri khas tersendiri, karakter sendiri, pantainya berbeda dengan Bali,” katanya kepada awak media, Sabtu (14/2/2026).

“Monggo, kita welcome, tapi tentunya kembali lagi bahwa pembangunan ataupun masuk ke Jogja ini ya ayo mengikuti karakter dan budaya yang ada di Jogja. Jogja ojo di-Bali-kan lah, gitu,” lanjutnya. 

Senada, dalam kesempatan yang sama, Ngarsa Dalem menyebut bahwa wisata Jogja tidak perlu diperbandingkan dengan Bali. Sebab, secara identitas memang sudah berbeda. 

“Ya (Jogja) kota wisata, tapi kan culture masyarakatnya beda. Jadi tidak usah membanding-bandingkan. Jogja ya untuk Jogja sendiri,” tegas Ngarsa Dalem. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Jalan-jalan ke Pantai Watu Kodok Jogja Jadi Tak Menyenangkan karena “Orang yang Mencurigakan” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version