Menduduki jabatan sebagai ketua pemuda itu memang terdengar gagah dan kharismatik. Namun, dibalik itu ada perasaan ngenes karena dianggap bisa menyelesaikan semua masalah yang terjadi di kampung.
***
Sebagai seseorang yang lahir dan besar di kampung cukup majemuk di daerah Gamping Sleman, menjadikan diri saya memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Sudah nyaris 5 tahun saya menduduki jabatan yang cukup bergengsi di kampung ini. Secara kultural, jabatan ketua pemuda di kampung saya itu nyaris setara dengan Dukuh atau kepala Dusun.
Bedanya, kalau secara administratif memang pemimpin tertinggi adalah Dukuh, namun secara sosial bisa jadi saya setara dengan Dukuh.
Jadi ketua pemuda itu modalnya bisa srawung dan kuat mental
Dulu, ketika pemilihan ketua pemuda, saya diajukan secara voting. Dari seratus lebih anggota pemuda, 75 persen lebih anggota memilih saya menjadi ketua. Jelas saya menjadi ketua terpilih mutlak.
Alasan teman-teman memilih saya karena mereka melihat saya memiliki jiwa sosial yang tinggi. Tidak dapat dipungkiri bahwa saya memang suka “srawung”, nyaris semua warga kampung saya tahu nama dan rumahnya.
Modal sosial yang saya miliki memang diwariskan dari orang tua. Bapak dan ibu saya aktif di perkumpulan tahlilan dan pengajian, juga acara kampung lainnya. Praktis sebagai anaknya saya mewarisi kemampuan srawung tersebut.
Seiring berjalannya masa jabatan, saya menyadari bahwa modal sosial saja tidak cukup. Bisa srawung saja tidak menjadi jaminan saya menjadi ketua pemuda yang baik. Memiliki mental yang kuat tentu adalah modal selanjutnya.
Mental yang kuat diperlukan ketika menghadapi beberapa masalah di kampung, mulai dari perkelahian antar pemuda, hingga urusan yang cukup menyita banyak waktu.
Apapun masalahnya, ketua pemuda pasti punya solusinya
Menjadi ketua pemuda berarti bersedia dianggap sebagai orang yang bisa menyelesaikan hampir semua masalah.
Lampu penerangan mati? Tanya saya.
Anak-anak muda mulai jarang berkumpul? saya harus bergerak.
Ada lomba Agustusan? Ya, siapa lagi kalau bukan saya?
Lama-lama saya merasa jabatan ini seperti tombol darurat. Selama masih ada masalah yang belum selesai, tombolnya bisa ditekan kapan saja.
Padahal ketua pemuda juga manusia. Punya pekerjaan, punya urusan sendiri, punya hari ketika ingin pulang ke rumah lalu rebahan tanpa harus memikirkan urusan kampung.
Rasanya, jabatan sosial di kampung itu tidak mengenal jam kerja.
Srawung bukan sembarang srawung
Srawung bukan sekadar datang ke acara lalu duduk sebentar. Di dalamnya ada kewajiban untuk hadir, mengenal, menyapa, ikut membantu, dan menunjukkan bahwa kita masih menjadi bagian dari lingkungan.
Bagi orang yang tidak terbiasa hidup dalam lingkungan kampung, mungkin itu terdengar sederhana.
Padahal tidak sesederhana itu. Ada semacam hutang sosial yang tidak pernah ditulis di buku kas. Ketika tetangga punya hajatan, kita datang. Ketika ada orang meninggal, kita melayat. Ketika kampung kerja bakti, kita ikut. Ketika ada rapat, setidaknya wajah kita pernah terlihat.
Semua itu seperti tabungan sosial.
Kita tidak pernah tahu kapan membutuhkan bantuan orang lain. Karena itu, srawung menjadi cara masyarakat kampung menjaga hubungan.
Masalahnya, menjadi ketua pemuda membuat hutang sosial itu terasa lebih besar.
Kalau anak muda lain tidak datang rapat, mungkin hanya dianggap sedang sibuk. Kalau ketua pemuda tidak datang, pertanyaannya bisa berbeda.
“Ketua pemudanya mana?”
Satu pertanyaan pendek yang kadang mampu membuat kepala terasa lebih berat.
Agustus adalah puncak kemumetan saya
Semua kemumetan ketua pemuda itu mencapai puncaknya setiap bulan Agustus.
Bulan kemerdekaan bagi sebagian orang adalah bulan memasang bendera, menikmati lomba, makan bersama, lalu melihat anak-anak berlarian membawa hadiah.
Bagi saya, Agustus adalah bulan ketika kalender terasa sangat pedih. Ada rapat, ada membentuk panitia, ada mencari dana, ada kerja bakti, ada lomba, dan ada malam perayaan kemerdekaan.
Agustus membuat saya berubah menjadi manusia dengan kemampuan multitasking yang tidak pernah tercantum dalam surat keputusan.
Yang paling lucu, semua pekerjaan itu sering terlihat seperti kegiatan bersenang-senang.
Di titik tertentu saya mulai memahami bahwa menjadi ketua pemuda bukan soal siapa yang paling pandai memimpin. Kadang jabatan itu hanya diberikan kepada orang yang dianggap masih punya tenaga, masih mau bergerak, dan—yang paling berbahaya—masih sulit mengatakan tidak.
Ketua pemuda memang gagah, tapi tidak semua masalah kampung bisa diselesaikan sendiri
Namun mungkin sudah waktunya kita mengakui bahwa kerja sosial tetaplah kerja. Ketua pemuda boleh gagah ketika berdiri di depan warga. Tetapi saya juga boleh capek. Boleh bingung. Boleh tidak tahu harus mencari uang dari mana. Boleh punya urusan pribadi.
Sebab di balik jabatan yang kelihatannya sederhana itu, ada banyak pekerjaan yang tidak masuk hitungan. Ada waktu saya yang hilang, tenaga yang habis, uang yang kadang keluar dari kantong sendiri, dan ada hutang sosial yang terus berjalan.
Jabatan ketua pemuda memang gagah. Tapi kalau semua masalah dianggap tanggung jawab saya, jabatan itu juga bisa sangat ngenes.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
