Tidak kurang dari satu bulan, dua kasus bunuh diri terjadi di Jembatan Cangar, Mojokerto, Jawa Timur. Kejadian pertama pada 31 Maret 2026, kemudian disusul kejadian kedua pada 23 April 2026 kemarin.
Dua kasus tersebut langsung viral di media sosial. Dalam narasi yang beredar, dua korban laki-laki tersebut diduga mengalami depresi berat sehingga memutuskan mengakhiri hidup.
Dua kejadian dalam waktu berdekatan, dengan pola serupa, terjadi di tempat yang sama pula (Jembatan Cangar, Mojokerto), saat ini tengah diresahkan banyak orang. Pasalnya, berulangnya kejadian tragis tersebut disinyalir lantaran cara sebagian banyak warganet menyikapinya: seolah meromantisasi tindakan bunuh diri hingga akhirnya menginspirasi.
Catatan serius: Depresi dan keinginan bunuh diri adalah kondisi serius yang tidak boleh dianggap sepele. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan emosional atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, jangan pernah malu dan ragu untuk menghubungi layanan kesehatan jiwa atau orang-orang terdekat.
Jembatan Cangar Mojokerto, awalnya spot healing andalan dan foto estetik
Jembatan Cangar jelas tidak asing bagi masyarakat Jawa Timur. Jembatan di perbatasan Mojokerto dan Kota Batu ini sejak lama sebenarnya menjadi salah satu spot foto estetik: berfoto di atas jembatan dengan background hijaunya alam Mojokerto. Apalagi jika tengah berkabut.
Dan begitulah Jembatan Cangar difungsikan selama ini—selain tentu saja sebagai jalur lalu-lintas. Mengunggah foto di Jembatan Cangar menjadi penanda kalau seseorang tengah healing di Mojokerto.
Mojokerto bagian atas (Pacet dan sekitarnya, termasuk Jembatan Cangar) memang identik dengan “healing”. Ketika masih merantau di Surabaya dulu, tidak terhitung saya melintasi jembatan tersebut untuk mengusir lelah menuju beberapa destinasi wisata alam di sana.
Bagi perantau Surabaya seperti saya dan beberapa teman, Jembatan Cangar dan Mojokerto bagian atas memang tempat menepi terbaik. Rasanya tidak ada panas di sana. Yang ada adalah kesejukan.
Nah, dulu orang-orang “iri” dan “terinspirasi” datang ke Jembatan Cangar lebih ke konteks itu: healing dan menepi. Namun, situasinya berbeda belakangan ini.
Narasi puitis dari bunuh diri yang terasa mengganjal
Ketika kasus bunuh diri pertama viral, saya sudah merasa janggal dengan respons sebagian banyak warganet. Tiba-tiba saja banyak orang mengunggah konten momen terakhir korban sebelum meregang nyawa: berdiri melamun di pagar jembatan, dengan rokok terselip di sela-sela jari.
Konten tersebut benar-benar beredar secara masif. Saya sama sekali tidak berupaya mengkerdilkan seberapa besar masalah si korban. Sebab, kalau laki-laki sudah melamun sambil merokok, biasanya memang di pundaknya tengah memikul beban berat, isi kepalanya penuh dengan ketakutan-ketakutan yang berisik dan berjejalan. Saya sendiri sering begitu (diam melamun sambil merokok).
Akan tetapi, yang membuat saya agak mengganjal: banyak dari konten-konten yang bertebaran tersebut justru seolah meromantisasi: memberi narasi-narasi puitis atas pilihan bunuh diri dari si korban.
Jembatan Cangar Mojokerto berubah menjadi lokasi bunuh diri gara-gara warga medsos seolah memberi inspirasi
Perasaan mengganjal itu ternyata tidak hanya saya alami sendiri. Banyak warganet lain (yang tidak FOMO mengontenkan kejadian tragis itu) bahkan merasakan kekesalan. Lebih-lebih, tidak lama setelah kasus pertama tersebut, banyak orang berbondong-bondong menjadikan Jembatan Cangar, Mojokerto, sebagai spot ziarah dadakan.
Pertama, beredar video ramai-ramai para laki-laki menaruh bunga, puntung-puntung rokok, bahkan kopi Golda sebagai tribute dan (mungkin) bentuk empati.
Kedua, ada potongan video yang menunjukkan: Jembatan Cangar, Mojokerto, tiba-tiba menjadi spot ziarah dadakan. Sekumpulan warga disinyalir sampai menggelar doa bersama sebagai ungkapan doa.
@pojoksatu.idDuka Belum Usai, Jembatan Cangar Justru Dipenuhi Warga Jadi Titik Doa Bersama Meski dua minggu telah berlalu, luka akibat tragedi di Jembatan Cangar sepertinya masih membekas di hati masyarakat. Jembatan yang biasanya dianggap horor pasca-kejadian, kini justru dipenuhi warga yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Warga silih berganti menaburkan bunga dan menaruh rokok di sudut beton jembatan sebagai simbol kasih dan harapan agar maut tak lagi menjemput di titik ini. Di tengah kegelapan malam, gema doa bersama pun masih terdengar sebagai bentuk ikhtiar batin memohon keselamatan bagi semua pengendara.♬ suara asli – Pojoksatu
Ketiga, ironisnya, banyak orang tiba-tiba mendatangi lokasi untuk sekadar mengambil foto: lalu mengunggahnya di media sosial. Tidak mau ketinggalan kalau ia sudah datang ke lokasi kejadian.
Bagi sejumlah warganet non-pembuat konten, seiring dengan terjadinya kasus kedua, tindakan-tindakan romantisasi tersebut sudah seharusnya dihentikan, karena bisa menginspirasi orang lain untuk bertindak serupa. Beberapa komentar warganet yang menentang romantisasi tersebut antara lain:

Batas tipis antara empati dan viralitas, apapun demi FYP
Masifnya peredaran konten bunuh diri di Jembatan Cangar, Mojokerto, sejak kasus pertama, membuat beberapa orang akhirnya bersyak wasangka: banyak orang berbondong-bondong mengunggah konten tersebut dengan narasi puitis dan lagu melankolis tidak lain demi mengejar viralitas/FYP.
Jika dalihnya adalah empati dan tribute pada korban, bukankah jauh lebih patut jika tidak menyebarkannya secara berlebihan? Bukankah jauh lebih baik pula jika menyebarkan konten-konten dengan konteks pencegahan atas tindakan bunuh diri?
Sebab, pada akhirnya terbukti, konten viral sebelumnya benar-benar menginspirasi orang lain untuk melakukan Copycat suicide (perilaku bunuh diri imitatif atau meniru tindakan bunuh diri orang lain karena trigger tertentu, disebut juga sebagai Werther effect ).
Dalam konteks konten Jembatan Cangar, Mojokerto, orang lain bisa terinspirasi untuk melakukan tindakan serupa karena (salah satunya) merasa: ternyata jika mati, ada banyak orang yang menunjukkan rasa peduli.
Media sosial masih jadi ruang bebas penyebaran triggering content
Alda Amalia dkk dari Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) dalam jurnal “Larangan Penyebaran Konten Bunuh Diri di Media Sosial Dalam Hukum Positif di Indonesia” membenarkan, media sosial memang dapat menjadi salah satu faktor situasional yang mampu mendorong seseorang untuk melakukan tindakan bunuh diri.
Dengan mengetahui, membaca, mendengar, atau melihat konten yang bermuatan tentang bunuh diri, maka alam bawah sadar seseorang akan menerima dan merekam informasi tersebut sehingga rawan terpengaruh.
Lebih lanjut, bunuh diri diyakini dapat menular, terutama kepada orang yang memiliki kesamaan latar belakang dengan pelaku bunuh diri, sehingga timbul keyakinan bahwa keputusannya untuk melakukan hal serupa dapat divalidasikan.
Copycat Suicide bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Sialnya, bagi Alda Amalia dkk, ada kendala besar dalam upaya mencegahnya. Yakni mengontrol media sosial. Sebab, kenyataannya, media sosial saat ini masih menjadi ruang bebas penyebaran beragam jenis triggering content—termasuk bunuh diri.
Alda Amalia dkk juga menyayangkan, media sosial saat ini memang belum tersentuh regulasi spesifik tentang penyebaran konten bunuh diri.
Pembatasan pemberitaan bunuh diri di Indonesia hanya diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Namun, UU ini tidak mengatur dan mengawasi media sosial, karena lingkupnya hanya pada televisi dan radio.
Penyebaran berita bunuh diri juga diatur dalam Pedoman Pemberitaan Terkait Tindakan dan Upaya Bunuh Diri dalam Peraturan Dewan Pers Nomor 2/PERATURAN-DP/III/2019. Tetapi, aturan ini hanya mengikat para jurnalis atau media pers saja. Semantara UU ITE mengatur seputar kejahatan elektronik seperti ancaman kekerasan, kesusilaan, dan berita bohong.
Oleh karena itu, Alda Amalia dkk menekankan, betapa krusialnya keberadaan regulasi yang spesifik dan eksplisit terkait penyebaran konten bunuh diri guna membatasi warganet menyebarkan suka-suka konten yang punya potensi besar memicu bunuh diri tiruan tersebut.
Maka bijaklah dalam bermedia sosial, kawan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA: Benarkah Agama Bisa Mencegah Bunuh Diri? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
.