Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Ilustrasi - Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Ada alasan kenapa sejumlah perantau mengaku malas mudik ke kampung halaman. Narasi tersebut selalu mencuat tiap bulan Ramadan, menjelang momen libur panjang lebaran yang mengharuskan pulang untuk halal bihalal dan reuni keluarga. 

Setidaknya ada dua hal menyebalkan yang memicu kemalasan untuk mudik lebaran. Pertama, malas karena pertanyaan-pertanyaan intimidatif. Kedua, malas oleh ekspektasi keluarga atau tetangga, sehingga kerap jadi korban dibanding-bandingkan. 

Namun, selain dua hal itu, ternyata masih ada beberapa hal lain yang membuat seseorang merasa berat untuk mudik, halal bihalal, dan reuni keluarga. Bahkan terasa lebih berat dari sekadar pertanyaan dan dibanding-bandingkan. 

Melalui jajak pendapat di Threads, tujuh orang membagikan pendapatnya—yang berdasarkan pada pengalaman—kepada Mojok perihal situasi berat yang harus dihadapi setiap mudik ke kampung halaman. Jika dirangkum, berikut hasil dari jajak pendapat tersebut: 

Mudik ke kampung halaman sejujurnya dinantikan, meski bukan sepenuhnya karena rindu

Bahkan sejak awal Ramadan, banyak perantau sudah merasa tidak sabar menanti tanggal kepulangan. Bisa dilihat dari fenomena war ticket: ketika setiap orang saling berebut tiket di harga murah agar bisa berangkat di tanggal yang sudah ditentukan. 

Beberapa orang sangat antusias mudik karena ingin lekas-lekas membasuh rindu: merasakan suasana kampung halaman yang selalu mengingatkan kenangan masa kecil, makan masakan rumah yang sederhana tapi kenikmatannya tidak ditemukan di perantauan, atau reuni keluarga untuk berkumpul dengan sanak-saudara usai kesepian panjang dan hari-hari melelahkan di kota orang. 

Namun, ada juga orang-orang seperti responden Mojok. Pulang ke kampung halaman tidak mesti karena rindu. Tapi sekadar untuk ikut merasakan sensasi (vibes) berbeda momen mudik lebaran ketimbang hari-hari biasa. 

Selain itu, pulang ke kampung halaman juga jadi upaya untuk menepi dari hiruk-pikuk kota yang menjemukan. Bagi mereka, kampung halaman tetap merupakan sebaik-baik tempat kembali. 

Hanya saja, sayangnya, harus terbentur dengan situasi yang membuat mereka ada di ambang dilema: sejujurnya pengin pulang, tapi di saat bersamaan kok berat karena malas menghadapi hal-hal menyebalkan—terutama saat reuni keluarga untuk halal bihalal. 

#1 Pertanyaan khas lebaran yang memuakkan dan sumpeknya dibanding-bandingkan saat reuni keluarga

Ini hal berat yang sudah umum diamini banyak orang: muak dengan pertanyaan-pertanyaan khas lebaran yang intimidatif. Seperti, “Kapan nikah?” Kalau sudah nikah ya, “Kapan punya anak”. Kalau belum kerja ya ditanya, “Kapan kerja?/Kerja apa?” dan seterusnya. 

Pertanyaan-pertanyaan itu dianggap sangat mengganggu. Sebab, jawaban dari pertanyaan tersebut berimplikasi pada situasi selanjutnya: dibanding-bandingkan. 

Kalau belum nikah, akan dibandingkan dengan saudara yang sudah berkeluarga. Jika masih belum kerja, akan dibandingkan dengan anak saudara yang sudah bekerja. Bahkan setelah bekerja pun, karena gaji rendah, akan dibanding-bandingkan dengan saudara yang gajinya lebih tinggi. 

Alhasil, reuni keluarga, alih-laih menjadi momen halal bihalal, justru menjadi ajang penghinaan dan merendahkan saudara sendiri: jika dianggap belum mencapai standar sukses tertentu

#2 THR: tradisi pemerasan tapi jadi keharusan di momen halal bihalal reuni keluarga

Bagi saudara sebagai penerima THR, tentu saja kepulangan saudara dari perantauan akan disambut dengan ekspektasi: bakal ngasih THR dengan nominal lebih besar. 

Mojok sendiri sudah menulis beberapa kisah tentang ini. Oleh karena tradisi yang sudah mengakar kuat, seolah-oleh membagi THR ke saudara menjadi sebuah kewajiban. Meninggalkannya adalah dosa dan layak menjadi omongan. 

Alhasil, yang terjadi: jauh sebelum kepulangan, seorang perantau harus berhitung dulu perihal pembagian THR. Nominalnya harus besar. Karena kalau kecil, pasti akan diremehkan dan direndahkan. 

Pada akhirnya, si perantau tidak bisa merasakan uang lebaran untuk diri sendiri. Karena harus ludes dibagi-bagi untuk orang lain. Tak ayal jika situasi ini menjadi hal yang memberatkan seorang perantau untuk mudik ke kampung halaman. 

Nah, tiga poin selanjutnya, bagi tujuh responden Mojok di Threads, menjadi situasi-situasi yang paling berat. Mendapat pertanyaan “Kapan nikah?”, ah bisa dianggap angin lalu. Tapi kalau sudah berhadapan dengan tiga situasi berikut, yang terjadi adalah pergolakan batin yang menyesakkan data dan membuat pikiran terserang kecemasan:

#3 Menyadari orang tua makin renta saat mudik lebaran

Dari lebaran ke lebaran, dari tahun ke tahun, kondisi orang tua ternyata semakin menua. Bahkan semakin renta. Bisa dilihat dari kerutan di wajah, rambut yang mulai banyak memutih, atau dengkul yang mulai terasa sering linu.

Waktu telah menggerus mereka. Sementara jarak membuat anak-anak tidak kehabisan banyak kesempatan untuk menemani. 

Situasi ini amat berat dan menyesakkan batin. Pasalnya, anak-anak kerap tidak berdaya dengan nasib. Rasanya ingin menetap di kampung halaman, tinggal di rumah untuk menemani orang tua. Akan tetapi, kampung halaman kerap tidak memberi kemudahan ekonomi. 

Kemudahan ekonomi sialnya hanya bisa didapat di perantauan nun jauh dari rumah. Tapi berlama-lama di perantauan ternyata memaksa seorang anak kehilangan banyak kesempatan. 

Alhasil, setiap mudik, yang muncul adalah perasaan sedih dan cemas: cemas kalau tiba-tiba merenggut mereka, sementara anak masih belum bisa menemani sepenuhnya. Mendapat pertanyaan intimidatif khas lebaran tidak seberapa, tapi cemas yang muncul usai melihat orang tua kian menua benar-benar mengusik batin. 

#4 Mudik lebaran: pulang sebagai orang gagal

Gejolak batin di atas diperdalam dengan perasaan: setelah bertahun-tahun di perantauan, tapi setiap mudik lebaran masih pulang sebagai orang gagal. Ekonomi belum stabil. Hidup juga masih begitu-begitu saja tanpa peningkatan. 

Kenyataan itu memicu rasa bersalah yang cukup dalam. Sebab, kegagalan itu berimplikasi juga pada kondisi orang tua di rumah. 

Misalnya, di masa renta mereka, seharusnya orang tua sudah tidak bekerja. Menikmati hidup dengan lebih santai dan bahagia, karena urusan hidup mereka sudah ditanggung oleh anak-anaknya. 

Hanya saja, karena anak belum kunjung mapan, bahkan di usia renta pun orang tua masih harus bekerja untuk memenuhi hidup sendiri. Mudik ke kampung halaman pada akhirnya menjadi momen yang membuat seorang anak tidak henti-henti menyalahkan diri sendiri. Ini terasa berat dari sekadar pertanyaan intimidatif khas lebaran atau dibanding-bandingkan dalam reuni keluarga. 

#5 Pertemuan singkat untuk perpisahan yang panjang

Di Instagram ada sebuah video kompilasi wajah-wajah orang tua saat melepas anak yang hendak kembali ke perantauan. Ada yang menangis sembari melambaikan tangan. 

Ada yang menatap kosong ke arah bus yang membawa pergi sang anak. Ada juga yang mengembangkan senyum, tapi matanya berkaca-kaca. 

Situasi semacam itu juga kerap tujuh responden Mojok alami tiap mudik lebaran. Pertemuan untuk reuni keluarga, halal bihalal, atau sekadar menjenguk orang tua rasanya baru sebentar. Tapi harus berpisah lagi dalam durasi amat panjang. Bertemu beberapa hari, tapi harus berpisah dan baru bisa bertemu lagi satu tahun kemudian. 

Pulang ke kampung halaman selalu memicu rasa tidak sabar dan melegakan. Akan tetapi, perpisahan yang terjadi setelahnya memberi rasa sesak yang jauh lebih dalam. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version