Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP asal Ponorogo yang tak ingin terkukung di tempat kelahirannya, kini berhasil keluar dari zona tersebut. Mulai dari kuliah S1 Fisika Murni di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), jadi guru honorer di kampung halaman, lanjut S2 di Tiongkok, hingga diterima di perusahaan internasional.
***
Ulfi berujar belum banyak anak-anak di Ponorogo yang punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan tinggi pada masa itu. Lulus SMA saja sudah syukur alhamdulillah. Maklum, kata dia, sebab Ponorogo bukanlah kota besar dan ramai. Tapi justru, dari pemikiran itulah tekad Ulfi untuk merantau dan menemukan hal baru muncul.
“Awalnya aku berpikir, bagaimana aku bisa keluar dari Ponorogo? Karena aku ingin lihat dunia lebih luas,” kata Ulfi.
Tanpa sengaja, Ulfi mengamati kakak tingkatnya di Madrasah Aliyah yang berhasil melanjutkan studi ke perguruan tinggi negeri ternama. Dari sanalah Ulfi seolah menemukan jawaban. Ia pun bertekad untuk menempuh jalur serupa.
Guna menembus PTN yang ia inginkan, Ulfi mengumpulkan prestasi dari lomba karya tulis ilmiah, penelitian, dan kompetisi penulisan. Beruntung, upayanya tersebut membuahkan hasil yakni diterima sebagai mahasiswa S1 Fisika Murni di UNY jalur beasiswa Bidikmisi.
Tunda mimpi dan jadi guru honorer
Singkat cerita, Ulfi akhirnya lulus sebagai Sarjana Fisika Murni di UNY. Ia pun punya keinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri dengan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Namun, ia memilih menyimpan niat tersebut rapat-rapat karena belum percaya diri.
Anak sulung dari empat bersaudara itu mengaku belum yakin dengan kemampuannya, terutama dalam Bahasa Inggris. Alhasil, Ulfi memutuskan kembali ke Ponorogo dan menjadi guru honorer.
Ketertarikannya dalam mengajar ia dapat semasa kuliah di UNY lewat program Kampus Mengajar selama 6 bulan. Ia pun tak menyangka pengalaman tersebut dapat membawanya lolos wawancara kerja sebagai guru honorer di MAN 2 Ponorogo usai lulus S1.
Di sana, Ulfi tak hanya mengajar pelajaran dasar tapi juga mengampu kegiatan karya ilmiah remaja. Semakin dalam ia menggeluti bidang tersebut, Ulfi jadi sadar dampak nyata dari pendidikan yang membebaskan.
“Aku punya misi, bagaimana caranya anak-anak di sini tahu bahwa kampus itu seperti apa, minatnya di bidang apa dan bukan lagi soal salah jurusan. Dan hal itu harus mereka ketahui sedini mungkin,” tuturnya.
Sayangnya, semangat itu pula yang menyadarkannya bahwa profesi guru terlalu kompleks untuk ia jalani. Apalagi, ia hanya memegang ijazah Fisika murni tanpa punya sertifikasi sebagai seorang pendidik. Sadar dengan realita tersebut, Ulfi akhirnya memilih kuliah lagi guna meningkatkan kapasitas diri.
Sulitnya dapat restu, padahal LPDP sudah digenggaman
Tentu saja Ulfi tahu kalau biaya S2 tidak murah sedangkan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya saja, Ulfi masih bergantung dengan keluarga, di mana ayahnya seorang petani yang harus menghidupi ibu dan 4 adiknya. Karena itu, Ulfi mencari tahu informasi soal beasiswa LPDP.
Setelah mengumpulkan informasi dari teman-temannya, Ulfi mantap memilih program LPDP di Central South University (CSU), Tiongkok sekaligus melanjutkan bidang keilmuan yang ia geluti semasa kuliah di UNY dulu yakni Jurusan Teknik Metalurgi.
Teknik Metalurgi mempelajari tentang proses pengolahan mineral, ekstraksi, pemurnian, hingga pembuatan logam serta paduannya. Tanpa disangka, ia lolos sebagai mahasiswi CSU dengan beasiswa LPDP gelombang kedua tahun 2018.
Kini, masalahnya hanyalah perizinan dari keluarga. Sebab di Ponorogo, melanjutkan S2 ke luar negeri ditambah seorang perempuan bukanlah hal lazim. Bahkan, Ulfi mengaku mendaftar tanpa izin ibunya terlebih dahulu.
“Aku daftar diam-diam dan alhamdulillah-nya lolos,” ucapnya.
Pada akhirnya harus belajar dua bahasa
Penolakan awal sang ibu bukanlah larangan tanpa alasan, melainkan cerminan keterbatasan informasi dan kekhawatiran. Dengan peran ayah yang berpikiran lebih terbuka, Ulfi memilih diskusi pelan tapi konsisten.
Terutama masalah biaya yang tak perlu dipersoalkan karena ia mendapat beasiswa LPDP. Hingga akhirnya, Ulfi mendapat izin, tepat di akhir semester pertama saat ia harus berangkat ke CSU setelah menjalani kuliah online karena pandemi Covid-19.
“Bapak itu pemikirannya lebih terbuka dan bisa meyakinkan Ibu. Jadi kita ngomongnya bertahap, pelan-pelan, bukan sesuatu yang memaksa, dan Bapak juga ikut bantu buat ngobrol.” kenangnya.
Sebenarnya, bukan pengalaman perdana bagi Ulfi menginjakkan kaki di luar negeri. Ia pernah mengikuti kompetisi di luar negeri saat S1. Hanya saja, tantangannya masih sama yakni dari segi bahasa. Meski pengantar kuliah menggunakan bahasa Inggris, Mandarin tetap hadir dalam diskusi teknis.
“Di situ saya menemukan poin, ternyata bahasa Mandarin itu sangat penting,” ungkapnya.
Setibanya Ulfi di Tiongkok, ia mengikuti kelas Hànyǔ Shuǐpíng Kǎoshì (HSK) Mandarin Camp selama tiga bulan, hingga lulus HSK III sebelum magang. Ia juga belajar budaya baru yang membuatnya tertegun.
Di sana, Ulfi melihat pelajar SMP pulang larut malam dengan tumpukan buku, dan mahasiswa memenuhi perpustakaan bahkan di hari Minggu. Tanda bahwa semangat belajar mereka begitu tinggi. Dari situlah semangat Ulfi muncul kembali agar tidak menyia-nyiakan beasiswa LPDP yang ia terima.
Berhasil manfaatkan LPDP setelah lulus
Berkat ketekunannya dalam belajar dan memanfaatkan beasiswa LPDP dengan baik, Ulfi berhasil diterima kerja sebagai Assistant Production Engineer di departemen prekursor PT QMB New Energy di Morowali, Sulawesi Tengah.
Sebagai informasi, perusahaan itu memiliki kerja sama karier dengan program beasiswa LPDP. Tepatnya di bawah naungan GEM Co Ltd. Dari sana, Ulfi menyadari pentingnya mempelajari jumlah rantai pasok nikel di dalam negeri agar tak sekadar mengeruk material mentah dan dibawa lari ke luar negeri.
Lebih dari itu, bagi Ulfi, perjalanannya saat ini adalah bentuk pertanggungjawabannya kepada rakyat Indonesia yang telah membiayai pendidikannya melalui LPDP.
“Terima kasih banyak kepada pihak LPDP dan tentunya ini semua tidak lepas dari kontribusi rakyat Indonesia. Tanpa mereka semua, aku mungkin nggak bisa melanjutkan pendidikan sampai jenjang sekarang.”
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Cerita Lulusan Bahasa Mandarin UM Malang Dulu Dianggap Enggak Guna tapi Sekarang Panen Cuan, Biaya Kuliah Tak Semahal Jadi Dokter dan Polisi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
