Anak SMA dari Jogja Dakwah di Jepang Selama Ramadan, Emak-emak Semangat Minta Diajar Ngaji Sampai Tengah Malam

Ilustrasi siswa mengajar ngaji di Jepang dan pendampingnya (Mojok.co)

Di Jepang, selama Ramadan 2024 ini ada 3 siswa SMA dari Jogja yang berdakwah dan mengajar ngaji. Mereka merasakan antusiasme besar dari para jemaah di Negeri Sakura.

Pada Jumat (15/3/2024) lalu, saat sedang peralihan musim dingin ke musim semi, para siswa SMA di Jogja tiba di Jepang. Momen sampainya mereka cukup tepat, bersamaan dengan mekarnya bunga sakura yang jadi salah satu ikon negeri di ujung timur Asia tersebut.

“Momennya pas, memang menakjubkan pemandangannya, walaupun ya suhunya masih lumayan dingin. Bisa 3 derajat atau kalau lagi agak hangat 20 derajat,” kata Faiz Fahrezi (17), salah satu anak SMA yang berangkat ke Jepang.

Faiz dan dua siswa SMA lain dari Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta berangkat ke sana dalam program Mubaligh Hijrah Internasional. Program rutin yang memang sudah dilaksanakan sekolah mereka selama beberapa tahun terakhir.

Faiz bertugas di Tokyo sementara dua temannya yakni Naufal Azzam dan Aflah Naufal Nabiih mendapat penempatan di Hiroshima dan Fukuoka. Kegiatan tersebut berlangsung atas kerja sama Madrasah Muallimin, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang, dan ‘Ainul Yaqin Foundation.

Sebelum berangkat, Faiz menjalani beberapa tahapan tes. Mulai dari wawancara, tes praktik ibadah, bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bacaan Al-Qur’an. Mereka yang berangkat memang dipastikan memiliki kapasitas untuk berdakwah.

Setiap Ramadan, sekolah di Jogja tersebut memang mengirimkan siswanya untuk berdakwah di berbagai daerah. Baik dalam negeri maupun luar negeri. Pada 2022 silam, Faiz berkesempatan untuk melaksanakan program Mubaligh Hijrah di Madura.

“Memang jadi keinginan sejak lama untuk bisa ikut yang program ke luar negeri,” tuturnya kepada Mojok Minggu (24/3/2024).

Saat anak SMA kaget dengan semangat emak-emak di Jepang untuk ngaji sampai tengah malam

Selama di Tokyo, Faiz melakukan berbagai tugas keagamaan. Mulai dari jadi imam salat wajib, salat tarawih, hingga mengisi pengajian dan mengajar ngaji Al-Qur’an.

“Bahkan ada program semacam pesantren kilat untuk anak-anak selama empat hari. Pesertanya ya anak usia Tk ada yang dari Indonesia, Pakistan, Jepang, dan Mesir,” tuturnya.

Salah satu momen yang paling berkesan baginya adalah saat mengajar para ibu-ibu dan bapak-bapak. Sesi ngaji itu biasanya berlangsung pascasalat tarawih. Sebab, kebanyakan di antara para peserta merupakan pekerja yang baru luang saat malam.

ngajar ngaji di Jepang.MOJOK.CO
Salah satu sesi Faiz bersama jemaah di Jepang (Dok. Faiz Fahrezi)

Baginya, para ibu-ibu ini tampak begitu semangat. Tak jarang, mereka masih terus ingin belajar mengaji sampai jelang tengah malam.

“Sebenarnya rata-rata ngajinya sudah cukup bagus. Mereka ingin memperbaiki bacaannya saja. Semangat, bisa sampai jam 12 malam karena tarawihnya mulai agak terlambat menunggu mereka selesai bekerja,” katanya.

“Ada namanya ibu Aisyiah, dari Filipina, itu kalau ngaji semangatnya luar biasa,” imbuhnya antusias.

Semangat sebagai minoritas di Jepang

Menurut Faiz, kondisi umat Muslim yang minoritas di Jepang membuat komunitasnya terasa kuat. Tidak banyak guru-guru mengaji yang tersedia secara rutin kecuali secara virtual.

Selama di Tokyo, Faiz tinggal di rumah milik pasangan suami istri Muhammad Fauzan Yazid dan Gina Farida. Keduanya merupakan permanen residen di Jepang yang mempersilakan rumahnya menjadi tempat berkumpul komunitas muslim.

“Mereka baik betul. Ya kalau lagi senggang kami sesekali diajak keluar, makan sushi, jalan-jalan dan belanja,” kelakarnya.

Faiz tinggal sementara di Jepang hingga 17 April 2024 mendatang. Pengalaman ini baginya memberikan banyak kesan. Salah satu yang membekas adalah tentang ritme kehidupan masyarakat Jepang yang menarik.

“Sepengamantanku mereka ini benar-benar tertib, seperti yang aku lihat di media sosial,” celetuknya.

Pada Ramadan 2024 ini, siswa SMA dari sekolah tersebut tidak hanya dikirim ke Jepang melainkan juga ke beberapa negara lain seperti Thailand dan Taiwan. Direktur Madrasah Muallimin Jogja, Aly Aulia menerangkan kesempatan semacam ini jadi momentum untuk beraktualisasi diri di tengah masyarakat global.

“Inilah saat yang tepat para siswa untuk belajar dengan mengakar  mengaplikasikan yang sudah didapatkan selama di ruang kelas dan Madrasah,” ungkapnya dalam keterangan resmi.

Penulis: Hammam Izzuddin

Editor: Agung Purwandono

Baca Juga Pekerja Belum Lulus Kuliah tapi Setiap Mudik Lebaran Harus Bagi THR ke 18 Saudara, Siap Duit Jutaan

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Exit mobile version