Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Kurator Suwarno: Saya Nggak Mau Pasang Lukisan Yos Suprapto di Galeri Nasional Indonesia, Bukan Soal Takut atau Tidak Takut

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
24 Desember 2024
A A
Kurator Suwarno Wisetrotomo Melarang Pemasangan Lukisan Yos Suprapto di Pameran Galeri Nasional Indonesia. MOJOK.CO

Lukisan karya Yos Suprapto berjudul Konoha I dan Konoha II.

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Konoha I memperlihatkan tokoh yang Yos sebut sebagai Raja Jawa. Istilah Raja Jawa dikenalkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral di era Joko Widodo, Bahlil Lahadalia dalam pidatonya. Saat itu dia juga terpilih sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar. 

Dalam lukisan Yos, Raja Jawa itu tampak duduk di kursi singgasana yang dikelilingi oleh tentara. Sementara, kedua kakinya menginjak orang-orang yang tengkurap.

Adapun Konoha II menampilkan kantor Ibu Kota Nusantara yang di depannya terdapat dua orang sedang bertelanjang. Di bawahnya ada sekumpulan orang yang sedang menjilat pantat salah satu orang tersebut. Sementara, sekelompok petani tampak menunjukkan aksi protes.

Tak sepakat dengan narasi seniman

Dari Konoha I dan Konoha II, Suwarno Wisetrotomo merasa lukisan itu sudah keluar dari tema  “Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan”. Dia menduga kedua lukisan itu akan berpotensi merusak pesan yang ingin mereka sampaikan dalam pameran.

“Saya bilang, ‘Mas kayaknya karyamu ini terlalu nggak relate deh. Terlalu keras ini,’. Saya selalu bilang hubungannya dengan tema ini apa?” ucap Suwarno.

“Sebagai bingkai yang provokatif okelah (tapi) bisa tenggelam. Mengapa? Siapapun yang nonton dengan latar belakang apapun, akan sibuk ngurusin itu. Anda (Yos) nggak akan bisa menjelentrehkan yang Anda bilang riset 15 tahun itu,” lanjut Suwarno.

Oleh karena itu, Suwarno berani mewanti Yos agar dua lukisan itu tidak dipajang. Artinya, sebelum pameran dibuka, Suwarno ingin lukisan itu tidak ditampilkan.

Sementara itu, Yos tidak sepakat. Menurutnya, kedua lukisan itu masuk dengan tema, karena itu adalah narasi yang dia bangun dari petani yang mulanya gemah rimpah sampai kehilangan kedaulatan.

“Saya bercerita tentang proses terjadinya kehilangan kedaulatan pangan kita. Sejarah kehilangannya kedaulatan pangan. Nah, itu saya akhiri dengan lukisan yang menggambarkan penguasa, kekuasaan. Kedaulatan pangan tanpa kekuasaan itu omong kosong,” kata Yos dikutip dari Kompas pada Selasa (24/12/2024).

Mengakui lalai dalam kompromi

Singkat cerita, perbedaan pendapat antara Yos dan Suwarno Wisetrotomo itu terlupakan dan menghasilkan deadlock. Belum lagi, jadwal pameran Yos selalu ditunda oleh pihak Galeri Nasional Indonesia. Itu juga membuat mereka beralih topik ke urusan display dan lain-lain.

“Dia tetap berat mungkin dan saya tetap kekeuh sampai titik akhir di diskusi pertama, aku nggak mau masang ini. Berhenti di situ,” ucap Suwarno.

“Tapi mungkin ini juga pengalaman untuk saya, kayaknya gampangin saya ini dengan hasil diskusi itu. Saya merasa, wes diomongke, masak sih memaksa,” lanjut kurator yang sudah punya pengalaman lebih dari 30 tahun itu.

Pada Jumat (13/12/2024), Yos menghubungi soal kepastian jadwal display. Namun, Suwarno berhalangan hadir karena kesibukannya yang juga mengajar sebagai dosen. Dia pun meminta timnya dari Galnas untuk memfoto suasana display.

Iklan

Suwarno sedikit terkejut karena dua lukisan yang dia minta tidak dipasang, justru terpajang saat display. Perdebatan soal ‘hubungan’ lukisan dengan tema itu pun muncul kembali. Suwarno menegaskan kepada sang seniman, bahwa dia bukannya takut atas dampak yang terjadi ketika dua lukisan itu dipasang.

“Emang kalau takut kenapa? Tapi ini bukan soal takut nggak takut. Saya membela tema ini, penting. Tapi akan tetap akan dirusak oleh dua karya ini,” tulis Suwarno melalui pesan singkat WhatsApp kepada Yos.

Usulan menutupi lukisan dengan kain hitam

H-1 sebelum konferensi pers, Senin (16/12/2024), Suwarno Wisetrotomo bilang secara tertulis kepada Yos bahwa dia sepertinya tidak cocok sebagai kurator Yos. Seniman asal Jogja itu akhirnya mengusulkan untuk menyensor lukisan Konoha I dan Konoha II.

“Ya nggak ngambek, tapi ini soal prinsip saya punya pertimbangan. Saya sudah menimbang risiko,” ujar Suwarno.

Suwarno pun sepakat untuk menutupi lukisan Konoha I dan Konoha II dengan kain hitam. Dia menegaskan kalau kain itu tidak boleh dibuka oleh siapapun saat pameran. 

Menjelang pembukaan pameran, Kamis pagi (19/12/2024), Suwarno mendapat kiriman foto dari timnya bahwa kain yang seharusnya menutup dua lukisan tadi terlihat tersingkap, seperti ditali gorden jendela.

Suwarno pun mengirim pesan lewat WhatsApp kepada Yos bahwa dia merasa tidak dihargai sebagai kurator. Padahal dia sudah punya konsep yang menurutnya cantik.

“Saya bilang. Aaa ini nantang-nantang namanya. Ini nggak serius nih kesepakatannya,” ucapnya. 

Hingga siang hari, dia mengadakan pertemuan bersama Galeri Nasional Indonesia dan seniman. Di sana, dia memutuskan mundur sebagai kurator pameran Yos.

Di meja rapat itu, Suwarno menyalami satu persatu pihak yang hadir sembari meminta maaf dan mengucapkan terima kasihnya. Yos pun tak menghalanginya. Hubungan keduanya masih terlihat baik.

“Penting saya katakan, satu kalimat saja. Mundurnya saya tidak sama dengan menghentikan pameran itu,” ungkap Suwarno.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Breidel Pameran di Galeri Nasional: Mempertanyakan Sejumlah Hantu Berseragam di Kepala Sang Kurator

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 24 Desember 2024 oleh

Tags: bredel galeri nasionalkontroversi lukisan yoskurator Suwarno Wisetrotomopameran yos supraptopilihan redaksiSeni rupa
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO
Urban

Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi

6 Februari 2026
self reward.mojok.co
Ragam

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co
Ragam

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
blok m jakarta selatan.mojok.co
Urban

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi

6 Februari 2026
Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Nggak Perlu Ngomongin Toleransi MOJOK.CO

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

2 Februari 2026
4 jenis orang/pengendara yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya dan dipersulit bikin SIM. Biang kecelakaan lalu lintas MOJOK.CO

4 Jenis Orang yang Harus Dilarang Nyetir Motor di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan, Biang Nyawa Melayang

2 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Pinjol Jerat Gen Z Fomo tanpa Cuan, Apalagi Tabungan MOJOK.CO

Fakta Indonesia Hari ini: Sisi Gelap Gen Z Tanpa Cuan yang Berani Utang Sampai Ratusan Juta dan Tips Lepas dari Jerat Pinjol Laknat

3 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.