Trauma Serius Mahasiswi UNIMA akibat Ulah Menjijikkan Oknum Dosen, Tertekan hingga Gantung Diri

Dosen UNIMA diduga lakukan kekerasan seksual ke mahasiswi FIPP hingga trauma dan bunuh diri MOJOK.CO

Ilustrasi - Dosen UNIMA diduga lakukan kekerasan seksual ke mahasiswi FIPP hingga trauma dan bunuh diri. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Oknum dosen Universitas Negeri Manado (UNIMA) diduga menjadi pelaku kekerasan seskual kepada seorang mahasiswi. Mahasisiwi itu mengaku trauma, depresi, hingga akhirnya bunuh diri.

Peringatan: Tulisan ini berisi informasi yang bisa memicu trauma terhadap kasus serupa. Disarankan tidak melanjutkan membaca jika mental masih dalam kondisi rentan. Tulisan ini juga tidak bermaksud memberi inspirasi untuk melakukan tindak bunuh diri. Jika Anda mengalami persoalan mental serius, jangan ragu untuk mencari bantuan.

***

Dalam beberapa lembar kertas HVS bergaris, EMM (22) menuliskan pengaduannya kepada pihak Dekanat Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Manado (UNIMA).

Dalam surat bertanggal 16 Desember 2025 itu, EMM yang merupakan mahasiswi UNIMA, mengadukan bahwa ia telah menjadi korban perbuatan tercela yang dilakukan oknum dosen berinisial DAM.

Dengan terbata-bata—melalui tulisan tangan itu—EMM mencoba menjelaskan kronologi dugaan kekerasan seksual yang ia alami oleh DAM. Surat tersebut baru tersebar dan jadi sorotan serius publik setelah EMM mengakhiri hidupnya diduga karena trauma dan depresi berat.

Berdasarkan laporan Satreskrim Polres Tomohon, mahasiswi UNIMA itu ditemukan tak bernyawa dalam posisi gantung diri di indekosnya, Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Sulawesi Utara pada Selasa (30/12/2025).

Modus menjijikkan diduga oknum dosen UNIMA

Dari surat EMM yang tersebar di media sosial, kira-kira begini yang hendak ia adukan pada Dekanat FIPP UNIMA:

Pada 12 Desember 2025, oknum dosen (DAM) mengirim pesan bermodus menjijikkan ke EMM. Ia bertanya apakah EMM bisa mengurut? Karena DAM mengaku sedang kecapekan. EMM tentu menolak. Karena bukan haknya untuk melayani permintaan itu.

Saat itu, dua teman EMM yang kebetulan bersamanya di food court kampus, melarang EMM untuk mendatangi si DAM. Namun, tak lama berselang, oknum dosen UNIMA itu melayangkan modus lain: Menyinggung rekapan nilai.

Karena menyangkut rekap nilai, EMM dengan terpaksa mendatangi DAM. Namun, sebagai jaga-jaga, ia mengirim live location kepada dua temannya agar ia tetap dalam pantauan.

Kekerasan seksual diduga oknum dosen UNIMA di dalam mobil

“Sebelum saya pergi tepatnya jam 14.20 saya sudah live location di grup WA saya dan teman saya. Setelah saya sampai di tempat parkir, beliau menyuruh saya untuk naik ke mobilnya,” tulis EMM menjelaskan kronologi dugaan kekerasan seksual yang ia alami.

Di dalam mobil, ternyata tidak ada pembahasan soal rekapan nilai. Si oknum dosen hanya merajuk merasa kecapekan. Ia bahkan memaksa EMM untuk pindah ke kursi depan.

“Mobil sudah jalan samping pascasarjana beliau berhenti, beliau memaksa saya untuk duduk di depan, saya menolak perintah tersebut. Di situ saya mulai ragu dengan mner, saya takut diapa-apain sama beliau,” ungkap EMM.

EMM sempat menjawab akan pindah ke depan jika melalui pintu. Saat itu, EMM berpikir akan kabur jika DAM mengiyakan permintaannya itu. Sebab, EMM sudah sangat merasa takut dan tidak tahu harus berbuat apa.

Namun, kata mahasiswa UNIMA itu, si DAM memaksa agar EMM pindah ke kursi depan tapi tetap melalui dalam mobil. Sementara saat itu, EMM mengaku dalam kondisi mengenakan rok. Setelah pindah, kekerasan seksual pun terjadi.

“15.03 saya sampai di Prodi Pasca di situ saya semakin benci sama mner (dosen DAM), karena dengan perlakuannya tidak mencerminkan dia adalah dosen. Pada saat itu beliau berkata bahwa dia adalah dosen yang paling bahagia,” ujar EMM.

Trauma, tertekan, hingga bunuh diri

Pesan-pesan si oknum dosen UNIMA tertanggal 12 Desember 2025 sudah otomatis terhapus—karena menggunakan format batas waktu—untuk digunakan sebagai barang bukti. Sementara saat kejadian, EMM mengaku tidak bisa merekam karena kondisi baterai hp yang hampir habis.

Namun, EMM mengaku menangkap layar pesan si oknum dosen pada 16 Desember 2025, sebagai penguat bukti atas surat aduan yang EMM tulis.

“Tujuan pengaduan ini, melalui surat ini, saya memohon agar pihak pimpinan dapat menangani masalah ini. Kalau bisa kasi sanksi kepada DAM. Jangan dibiarkan orang seperti itu. Kejadian tersebut masih dalam lingkup kampus FIPPsi,” mohon EMM.

“Dampak yang saya dapat adalah trauma dan ketakutan. Saya takut bila bertemu mner (dosen DM), saya malu jika ada mahasiswa yang melihat saya turun atau naik di mobilnya, akan jadi pembicaraan. Saya tertekan dengan masalah tersebut,” sambungnya.

Karena tekanan yang tak teratasi, EMM kemudian ditemukan meninggal dalam kondisi gantung diri, diduga bunuh diri.

Mengusut pelaku

Melalui keterangan tertulis di akun Instagram resmi UNIMA, pihak Universitas Negeri Manado menyatakan akan menangani kasus dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen kepada mahasiswi itu dengan serius. Pihak kampus mengaku telah bekerja sama dengan Kepolisian untuk mengusut tuntas sesuai ketentuan hukum.

Sebagai penguat, Rektor Universitas Negeri Manado (UNIMA), Joseph Kambey menyebut telah memberhentikan sementara dosen inisial DAM yang diduga sebagai pelaku. Ia menegaskan, UNIMA tidak mentoleransi pelanggaran yang berpotensi mencederai marwah institusi pendidikan tinggi.

“SK Rektor ditegaskan bahwa selama menjalani pembebasan sementara dari tugas jabatan, yang bersangkutan tetap memperoleh hak-hak kepegawaiannya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata Rektor dalam surat keputusan pemberhentian DAM Nomor 1401/UN41/KP.2025 tentang Pembebasan Sementara dan Tugas Jabatan. Dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi, Kamis (1/1/2026).

“Langkah pemberhentian sementara ini dipandang sebagai bagian dari mekanisme penataan dan penegakan disiplin internal, sekaligus memberikan ruang bagi proses pemeriksaan dan evaluasi yang objektif, transparan, serta akuntabel sesuai dengan norma hukum dan regulasi pendidikan tinggi,” lanjutnya.

Dalam laporan Detik Sulsel dan Media Indonesia, pihak keluarga EMM mendesak pengusutan tuntas kasus dugaan kekerasan seksual yang merenggut nyawa EMM. Apalagi, keluarga korban mengaku menemukan kejanggalan di tubuh EMM.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sisi Gelap Sebuah Pesantren di Tasikmalaya: Mulai dari Pelecehan Seksual Sesama Jenis, Senioritas, Kekerasan, Hingga Senior Memaksa Junior Jadi Kriminal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Exit mobile version