Bagi banyak Gen Z dan milenial, masuk ke dunia gim adalah cara paling ampuh untuk healing dari penatnya tekanan kerja atau tugas kuliah.
Di sana, kita bisa menjadi apa saja. Namun, apa jadinya kalau pelarian yang awalnya terasa membantu ini justru berubah menjadi jebakan yang merusak tubuh dan pikiran?
Baru-baru ini, pakar fisiologi dari UGM Ronny Lesmana, Ph.D mengeluarkan peringatan serius: kecanduan gim bukan lagi sekadar hobi yang kebablasan, tetapi ancaman nyata yang bisa merusak metabolisme hingga memicu gangguan mental berat.
Jebakan “escape room” digital
Dunia gim dirancang untuk memberikan kepuasan instan. Namun, bagi banyak anak muda, gim sering dijadikan sebagai coping mechanism untuk menghindari kecemasan di dunia nyata.
Masalahnya, pelarian ini sering kali memutus koneksi sosial yang sesungguhnya.
Menurut Ronny, salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan kemampuan bersosialisasi. Saat seseorang sudah terlalu asyik dengan dunia digitalnya, interaksi di dunia nyata menjadi terasa canggung dan membebani.
“Dampaknya tidak hanya pada fisik, tetapi juga pada penurunan kemampuan sosialisasi di dunia nyata. Seseorang yang kecanduan gim cenderung menarik diri dari lingkungan sosialnya, yang dalam jangka panjang bisa memicu risiko gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi,” ungkap Ronny dalam keterangannya, sebagaimana dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (28/1/2026).
Ancaman senyap bermain gim
Tak hanya urusan mental, gaya hidup “mager” alias bahasa ilmiahnya “sedentari”, yang menyertai kecanduan gim, adalah cara cepat menuju masalah kesehatan fisik.
Ronny menyoroti bahwa aktivitas fisik yang sangat minim saat bermain gim dalam waktu lama memicu ketidakseimbangan energi dalam tubuh.
Secara fisiologis, tubuh manusia tidak didesain untuk duduk diam selama berjam-jam sambil menatap layar. Saat kita berhenti bergerak, metabolisme tubuh melambat, tetapi otak terus bekerja keras yang seringkali memicu rasa lapar palsu.
“Aktivitas sedenter atau kurang gerak saat bermain gim dalam waktu lama memicu ketidakseimbangan energi. Kalori yang masuk dari makanan tidak sebanding dengan energi yang dikeluarkan, sehingga terjadi penumpukan lemak yang berujung pada obesitas,” jelasnya lebih lanjut.
Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan mengonsumsi camilan tinggi kalori dan minuman manis tanpa sadar saat sedang war atau push rank.
Lingkaran Setan
Yang sering tidak disadari adalah bagaimana kesehatan fisik dan mental ini saling mengunci dalam lingkaran setan.
Saat tubuh mulai mengalami obesitas dan pola tidur berantakan akibat sering begadang demi gim, regulasi hormon dalam tubuh akan kacau.
Kurang tidur mengganggu kerja hormon ghrelin dan leptin yang mengatur rasa lapar, serta meningkatkan hormon stres (kortisol).
Ronny menekankan bahwa keseimbangan ini sangat krusial. Jika metabolisme terganggu, fungsi otak dalam mengatur emosi pun akan ikut terdampak.
Alhasil, wejangan dari pakar UGM ini sebenarnya bukan untuk melarang kita bermain gim sepenuhnya, melainkan untuk mengajak kita kembali memegang kendali. Gaya hidup modern memang menuntut kita untuk akrab dengan layar, tapi tubuh kita tetaplah “perangkat organik” yang butuh gerak dan matahari.
Ronny menyarankan agar para pemain gim mulai sadar akan manajemen waktu. Tidak ada salahnya bermain, asalkan kebutuhan fisik tetap terpenuhi melalui olahraga rutin dan pola makan yang terjaga.
“Perlu ada batasan waktu yang jelas dan keseimbangan dengan aktivitas fisik agar metabolisme tubuh tetap terjaga. Jangan sampai kesenangan sesaat di dunia maya harus dibayar mahal dengan kesehatan jangka panjang,” pungkasnya.
Sebab, kata Ronny, pada akhirnya di dunia nyata tidak ada tombol reset untuk kesehatan kita. Menjaga keseimbangan antara hobi digital dan kebugaran fisik adalah satu-satunya cara agar kita tidak “game over” sebelum waktunya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Ketika Rumah Tak Lagi Ramah dan Orang Tua Hilang “Ditelan Layar HP”, Lahir Generasi Cemas atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
