Sudah dua tahun ini, Aktivis Animal Friends Jogja (AFJ) menuntut Fore Coffee agar mengambil langkah nyata dalam memastikan kesejahteraan hewan di rantai pasoknya, mengingat tekanan publik yang semakin meluas.
***
Kamis (2/4/2026), AFJ menggelar aksi lagi di depan gerai Fore Coffee kawasan Seturan, Jogja sejak desakan mereka pada tahun 2024 yang lalu. Kali ini, aksi menampilkan papan reklame bertuliskan pesan “Fore, Jangan Diam: Go Cage-Free!” yang meminta Fore Coffee segera beralih dari sistem telur ayam kandang baterai ke telur bebas sangkar.
Menurut para aktivis hewan, ayam seharusnya dapat bergerak bebas di samping kepentingan manusia untuk mendapatkan telur. Toh, hal itu tidak menghambat ayam tersebut untuk menghasilkan telur berkualitas, karena ayam bisa hidup lebih alami dan tidak stres asal mendapat nutrisi yang baik.
Nyatanya, ayam yang menghasilkan telur bebas sangkar masih bisa menghasilkan kuning telur dengan kandungan omega-3, vitamin, dan antioksidan lebih tinggi. Namun selama ini, para aktivis maupun publik menilai Fore Coffee belum transparan mengenai sumber telur yang mereka gunakan pada menu makanan mereka.
Tekanan dari publik yang mendesak Fore Coffee
Lebih dari 13 ribu orang telah menandatangani petisi yang mendesak Fore Coffee untuk segera mengadopsi kebijakan bebas sangkar. Dalam sistem kandang baterai, ayam petelur hidup dengan ruang gerak tidak lebih dari selembar kertas A4—membatasi mereka untuk bergerak bebas dan mengekspresikan perilaku alaminya.

Kondisi ini berdampak pada stres berkepanjangan, peningkatan risiko penyakit, serta gangguan kesehatan seperti tulang rapuh dan cedera. Secara global, sekitar 8,32 miliar ayam petelur hidup dalam sistem produksi telur, dan sebagian besar masih berada dalam sistem intensif dengan keterbatasan ruang gerak.
Di sisi lain, tren masyarakat global menunjukkan perubahan yang signifikan. Survei global di 14 negara menunjukkan mayoritas masyarakat lebih memilih telur dari sistem bebas sangkar dan menganggap penting kesejahteraan hewan dalam rantai pasok.
Di Indonesia, 122 perusahaan telah berkomitmen menggunakan telur cage-free, menunjukkan bahwa praktik yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan semakin menjadi standar industri.
Kampanye sosial Fore Coffee dinilai jauh dari kenyataan
Manajer Kampanye Program Advokasi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan AFJ, Dwi Octavia berujar sejak Fore Coffee saat ini belum mengambil langkah nyata untuk menerapkan cage-free atau telur bebas sangkar, padahal mereka telah mengangkat narasi keberlanjutan tentang pelestarian lingkungan.
Melalui laman resmi Fore Coffee, startup retail kopi lokal terkemuka itu menyerukan dua gerakan kampanye sosial dalam rangka mewujudkan Environmental, Social, and Corporate Governance atau ESG. Salah satunya, #FOREsponsible.
“Fore Coffee mengangkat narasi keberlanjutan melalui #FOREsponsible, tapi hingga kini belum menunjukkan komitmen cage-free,” kata Dwi dikutip dari keterangan resmi, Kamis (2/4/2026)
“Ini menunjukkan kesenjangan antara citra dan praktik. Konsumen berhak mendapatkan produk dari sistem yang lebih bertanggung jawab,” lanjutnya.
Publik diminta gaungkan tagar CagefreeFOREveryone
Oleh karena itu, AFJ menggelar aksi di depan salah satu gerai Fore Coffee kawasan Seturan, Jogja pada Kamis (2/4/2026). Selama aksi berlangsung, para aktivis AFJ mengenakan topeng ayam dan membawa poster tuntutan guna menggambarkan kondisi ayam petelur dalam sistem kandang baterai.
Para aktivis juga membagikan selebaran ke masyarakat Jogja guna mengedukasi mereka tentang praktik kandang baterai dalam industri telur yang tidak menerapkan prinsip kesejahteraan hewan.
AFJ menegaskan bahwa Fore Coffee tidak bisa terus menunda langkah. Semakin lama ditunda, kata Dwi, semakin besar risiko hilangnya kepercayaan publik. Oleh karena itu, AFJ berharap Fore bisa segera menyampaikan komitmen yang jelas.
Publik juga bisa mengampanyekan #CagefreeFOREveryone dan mendorong praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab terhadap kesejahteraan hewan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Nasib Monyet Ekor Panjang yang Terancam Punah tapi Tak Ada Payung Hukum yang Melindunginya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan