Judul buku: The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy

Genre: novel komedi sains fiksi

Penulis: Douglas Adams

Diterbitkan pertama kali oleh: Pan Books

Diterbitkan pertama kali tahun: 1979

Tebal buku: 180 halaman

Sebuah Kamis yang biasa. Sayangnya, Anda tidak pernah bisa bertahan di hari Kamis. Mungkin sesuatu yang mengesalkan pernah terjadi di hari itu, misalnya ketika Anda kepincut dengan seorang gadis, di sebuah pesta, gadis itu justru dipikat orang lain tepat ketika Anda ingin PDKT dengannya.

Bisa juga Kamis adalah hari ketika sekumpulan orang ingin menggusur rumah Anda untuk membuat sebuah jalan tol yang menyambungkan kota A dan B. Namun, rupanya penggusuran rumah Anda merupakan hal terbaik yang bisa Anda dapatkan di hari itu karena ternyata, di langit sana, sekumpulan alien ingin menggusur Bumi untuk membuat sebuah jalur tol luar angkasa. Dan sebelum Anda bisa mengatakan apa-apa, puff, Bumi menghilang.

Setidaknya Anda selamat bersama teman Anda yang rupanya juga alien; dan setelah beberapa petualangan gila, Anda akhirnya bertemu lagi dengan gadis yang Anda sukai—bersama lelaki yang memikatnya—tepat satu detik sebelum Anda mati melayang-layang di luar angkasa bersama teman alien Anda. Dan hal terbaik yang setidaknya dilakukan teman alien itu: ia tidak lupa membawa handuknya.

Tiga paragraf tadi hanyalah sebagian kecil dari petualangan absurd dalam The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy. Tim aneh yang menjalankan petualangan luar angkasa tersebut beranggotakan Arthur Dent si manusia, Ford Prefect dari Betelgeuse Seven, Zaphod Beeblebrox si penipu antargalaksi, dan Tricia McMillan atau Trillian si penduduk Bumi yang dibawa ke luar Bumi oleh Zaphod enam bulan sebelum planet malang itu hancur.

Judul The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy sendiri diambil dari nama sebuah ensiklopedia elektronik kecil; sebuah buku berisi berbagai hal tentang alam semesta dan yang mengisinya, merupakan orang-orang seperti Ford: hitchhiker atau turis low budget yang ingin mengelilingi alam semesta dengan biaya murah. Dan yang paling penting, ensiklopedia tersebut memiliki tulisan DON’T PANIC yang dibuat dengan huruf besar dan bersahabat.

The Hitchhiker’s (yang novel, bukan ensiklopedia alam semestanya) karya Douglas Adams ini pada dasarnya membawa misi yang sama dengan The Last Question atau Bicentennial Man karya Isaac Asimov, yakni mencari tujuan rahasia alam semesta, mencari arti kehidupan dan kemanusiaan, dan terutamanya mempertanyakan keberadaan Tuhan. Namun, berbeda dengan Asimov yang membawakannya secara serius dan filosofis, The Hitchhiker’s merupakan sebuah satire yang benar-benar ditulis dengan sesuka hati, sehingga pada akhirnya yang terjadi adalah serangkaian hal-hal aneh yang tidak masuk akal yang diikat dengan sebuah simpul yang terasa malas: improbabilitas, ketidakmungkinan.

Ketidakmungkinan benar-benar menjadi pemain utama dalam The Hitchhiker’s. Berbagai macam kejadian yang seakan-akan berpengaruh besar dipicu oleh hal-hal yang sangat remeh: Bumi yang digusur lantaran ingin dibuat jalan tol, peperangan antar-galaksi yang dipicu hanya karena ungkapan kekesalan (dan seterusnya peperangan tersebut ditelan oleh seekor anjing kecil lantaran perbedaan skala ukuran yang mencengangkan), hingga fakta bahwa Bumi sebenarnya adalah sebuah superkomputer yang diciptakan oleh tikus putih untuk menemukan satu hal: jawaban mutakhir terhadap kehidupan, alam semesta, dan segalanya.

Bumi diciptakan lantaran kegagalan Deep Thought, superkomputer sebelumnya, dalam menemukan jawaban yang memuaskan. Ia menemukannya, hanya saja jawaban mutakhir tersebut begitu membingungkan: 42. Apa hubungannya kehidupan, alam semesta, dan segalanya dengan bilangan 42? Deep Thought menyimpulkan, alih-alih jawaban, apa yang harus dicari adalah pertanyaan yang tepat untuk jawaban mutakhir tersebut. Dan atas alasan itu, dibuatlah Bumi, sebuah superkomputer yang sering kali salah dianggap sebagai planet oleh sekumpulan makhluk serupa kera yang dinamakan manusia.

Menyusuri segala kegilaan dan keanehan yang sama sekali tidak nyambung dan tidak masuk akal yang dituliskan Adams dalam buku ini, perlahan saya menyadari bahwa apa yang ditulis Adams pada dasarnya memanglah kehidupan. Kehidupan di mana hal-hal remeh yang tidak masuk akal dapat membawa reaksi berantai yang meruntuhkan sebuah negara, bagaimana hari seseorang bisa berubah dari sangat baik menjadi sangat buruk dalam hitungan milidetik, sehingga saking gilanya dunia dan alam semesta dalam bayangan Adams, satu-satunya cara untuk mengarunginya adalah dengan tidak lupa membawa handuk.

Handuk di dalam ensiklopedia The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy memiliki banyak makna dan fungsi yang begitu paripurna: dijadikan layar untuk mengarungi samudera di galaksi, menjadi pelindung kepala, macam-macam. Saya sendiri cenderung menganggap handuk sebagai representasi dari tindakan “melempar handuk”: menyerah, atau berarti tetap menjalani kehidupan seperti biasa di tengah keanehan alam semesta tanpa berkeinginan mencari apa yang sebenarnya salah di dalam sistem semesta. Ada yang salah dengan alam semesta. Dan kesalahan tersebut bersifat fundamental. Kita tidak perlu sibuk-sibuk mencari kesalahan tersebut. Biarkan saja.

Ketidakmungkinan jelas merupakan cara Adams untuk menertawakan (atau setidaknya memarodikan) peran Tuhan, yang dengan segala kemahakuasaan-Nya tentu bisa menciptakan sebuah semesta seaneh mungkin, dan pada waktu yang bersamaan, seteratur mungkin. Ketika seseorang berusaha mencari kebenaran tentang keberadaan-Nya (baca: mencari pertanyaan yang cocok untuk jawaban mutakhir terhadap kehidupan, semesta, dan segalanya), Dia bisa saja menjentikkan jari dan membuat semesta makin aneh lagi. Dan di kala itu, jangan terkejut jika Anda menemukan sebuah vas berisi bunga petunia di dekat bulan atau lumba-lumba yang lari ke dimensi lain ketika kiamat terjadi.

Dan salah satu dari hal-hal remeh tersebut adalah, buku ini belum saya temukan versi bahasa Indonesianya. Kelak, sebiji fakta ini akan menyebabkan peperangan antar-galaksi dan serentetan aksi damai yang akan diarak dari Andromeda hingga Bimasakti.

“Ada sebuah teori yang menyatakan bahwa jika seseorang telah menemukan tujuan keberadaan alam semesta, alam semesta tersebut akan menghilang digantikan dengan sesuatu yang lebih aneh dan tidak mungkin dijelaskan. Ada teori lain yang menyatakan bahwa hal tersebut sudah terjadi.” — Douglas Adams

No more articles